Labels

Showing posts with label Just Saying. Show all posts
Showing posts with label Just Saying. Show all posts

Feb 20, 2018

The Lamentable Tale of A Hero Who Died a Few Weeks Ago

"Ma, sekolah sudah sepakat, aku dikeluarkan."

Mama belum memberikan jawaban, terkejut setengah mati. Lalu muncul seorang bapak yang kata orang penggiat pendidikan. Ia baik, tapi hari itu tingkahnya macam orang tidak sabar.

"Sangat disayangkan! Sekolah seharusnya tidak bertindak represif seperti ini. Saya akan bantu mencari sekolah baru, supaya kamu bisa tetap ikut ujian dan lulus tepat waktu. Bagaimana, Bu? Setuju, ya?!"

Mama masih diam.

"Kasihan dia kalau tidak sekolah. Mau jadi apa nanti kalau tidak lulus? Lulusan SMA saja cari kerja sudah susah, apalagi ini nggak lulus?", kata the sir.

Lagi-lagi tidak ada jawaban dari Mama.

"Gini, dia anakmu, to? Maumu dia putus sekolah atau tidak? Bayangkan nanti dia di masa depan hanya akan menjadi penjaja korang keliling tiap pagi atau jadi bakul cabai di pasar!  Nilainya di sekolah sama sekali tidak buruk, 9 untuk matematika, 9.8 untuk bahasa Inggris, luar biasa! Ayolah, ini kesempatanmu, sebentar lagi ujian nasional, kalau-"

"Nak..", Mama memotong, "kenapa kamu dikeluarkan dari sekolah?"

"Kemarin aku pukul guruku sampai mati, Ma."

Lalu hanya ada keheningan.

_________________________________________________________________________________

Kurikulum 2013,

Kompetensi Inti 1 : Sikap Spiritual yaitu, “Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya”.

Kompetensi Inti 2 : Sikap Sosial yaitu, “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsif, dan pro-aktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia”.

Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

Sebuah renungan.

Jan 29, 2018

Mulailah dengan Melantur

Malam itu semua orang sudah tidur kecuali dua remaja perempuan yang nyaris tersirep tapi masih kukuh dalam obrolan tentang makanan.

"Iyaaaa... jadi.. mangkok mie ayamnya dibor gitu."
"Ha? Kok dibor?"
"EH ANU MAKSUDNYA DIBUANG!"
"Ehehehehehehe."

Lalu mereka jatuh tertidur setelah mangkok mie ayamnya dibor, eh dibuang.

Sekarang bayangkan jika kita harus terlibat pembicaraan serius di saat kita tidak lagi tersirep. Misalnya pembicaraan tentang isi hati yang ingin disampaikan seorang laki-laki pada gebetannya yang nyaris tidak peduli.

"Jadi tadi aku nelen permen karet gitu di sekolah, Mas."
"aku suka deh sama kamu."
"Lah? Kenapa?"
"gapapa, suka aja.."
"Ih aku suka banyak hal lain sih mas"
"ANJIR ITU TADI ANU, HAPEKU DIBAJAK TEMEN NIH!"
"..."
"Jadi gimana, kok bisa nelen permen karet?"

Ketika ditolak, mulailah melantur.

Permisalan yang lain adalah ketika ada guru yang menemukan bahwa kita dan teman-teman lebih suka main UNO di barisan belakang daripada menyelesaikan persamaan kuadrat.

"Berapa hasilnya anak-anak?"
"Heeeeee itu jadinya plus berapa?"
"+12 totalnya hahahahahaha"
"Berapaaaaaa?"
"+12!"
"+12? Bener apa salah? Kok bisa? Itu yang di belakang lagi apa?"
"Bener Bu! Sekitaran itu lah hasilnya, ini kami lagi ngitung ulang. Itu soalnya bener kan ya Bu?"

Ketika terciduk, mulailah melantur.

Contoh lain mungkin ketika kita iri tapi nggak ingin orang lain tahu.

"Eh kemarin kami pergi ke konser Via Vallen loh, ampun bagus banget deh suaranya waktu live"
"Iya nyesel banget pasti kamu nggak ikut kan?"
"Nggak juga sih, aku ga suka Via Vallen lagian."
"Lah katanya kamu fans berat dia, gimana sih?"
"Eh minggu depan aku mau ke Semarang nih main-main di Lawang Sewu, mau ikut nggak?"

Ketika ketahuan, mulailah melantur.

Atau ketika ketahuan sesuatu yang lain...

"Mbaaaaak, kamu yang makan cilok aku di kulkas, kan? Kamu kaaaan?"
"Nggaklah, ngapain coba?"
"Kan kamu yang pertama kali buka kulkas pas udah sampe rumah, pasti mbak!"
"LUCUUUUU DEH BAJUNYA DI OLSHOP INI, LIAT DEH!"

Ketika dicurigai, mulailah melantur.

Seperti yang dilihat, mengungkapkan sebuah kebenaran, mengakui sesuatu, atau menghindar dari sebuah kesalahan itu tidak mudah. Juga sebenernya tidak selalu berakhir baik, tapi kadang itu dilakukan untuk menghindari pertikaian dan perpecahan. Mulailah dengan melantur.

Jadi, kapan kamu mau mulai bilang sayang sama aku? Aku siap melantur.


*on a collaborative work with Celina about 'How to Start Something'

Jan 27, 2018

Reliving Thai (Food)

*drum rolls meskipun ini sudah lewat awal tahuuuuun*

Aight peeps, let's do this. Karena saya tidak mau kalah dengan sahabat cantik saya yang kini jauh di sana dan perjanjian suci untuk collab dengannya, liat dia di sini nih : si cantik Celina <3

Topik 'highlighting 2017' saya sebenernya nggak spesial-spesial banget sih, biasa aja. Sampai saya ingat tentang hidup saya yang warbiyasah enak di Thailand, terutama karena makanannya. Jadi saya pengen 'reliving 2017 memories' lewat makanan Thai.

Oh btw this is gonna be a long thread, jadi bersabarlah.

Awalnya, saya kasih tau nih, di Thailand hidup saya memang amat sangat memahasiswa, you know what I mean. Saya harus ingat-ingat tujuan saya ke sana itu bukan sekadar main-main dan jalan-jalan aja jadi saya harus pinter ngatur keuangan. Selama dua bulan saya sukses survive (tanpa ambil uang di ATM) hanya dengan uang cash sejumlah 10.000 baht (dengan kurs saat itu sekitar 4 juta).

Dengan uang itu saya juga bisa pergi ke Koh Samui, Koh Rat, Ban Khiriwong. jalan-jalan ke mall, sampai ke Penang, Malaysia. Sangat sulit menahan diri nggak jajan dan beli barang-barang lucu yang ada di sana, secara di sana ada banyak snack, bahan masakan dan makanan, benda-benda lucu macam ATK, baju, aksesoris, dompet, kaos kaki, sampai peralatan make-up yang sulit dicari di Indonesia.

But I survived. Semua karena.... pasar malam hadir mengubah segalanya menjadi lebih indah. Pasar malam ini yang membantu saya hidup dengan tenteram dan aman karena banyak makanan enak dan harga yang cukup murah di sini. FYI, pasar ini nggak ada setiap malem dan tempatnya pindah-pindah. Foto-foto di bawah ini diambil di pasar Senin, pasar malem yang ada di dalam kampus (tepatnya deket asrama-asrama dan gedung aktivitas mahasiswa, strategis banget bukan?) dan ada pada hari Senin yang nggak libur. Jadi kalau liburan ya pasarnya tutup, meskipun ada mahasiswa yang tetep tinggal di asrama waktu itu.




Pasar ini selalu saya tunggu-tunggu karena hampir pasti saya akan menggelontorkan uang macam orang kalap dan memaafkan diri sendiri setelahnya. Ada lagi pasar lain dan ada pas weekend tapi mungkin saya hanya beberapa kali pergi ke sana karena males, jauh banget dari asrama.

Bicara pasar, bicara makanan. Nyaris 75%-100% uang saya di pasar habis untuk makanan. Sisanya, 25%, cuma untuk kaos kaki lucu gambar totoro warna pink, satu lagi gambar panda, dan satu lagi gambar kucing warna biru. Tapi makanan adalah obsesi pertama saya. 

Tom Yum Goong adalah salah satu makanan Thailand pertama saya. Sebelumnya saya nggak pernah makan tom yum. Well, kalau indomie rasa tom yum dulu sudah cukup legit dianggap makanan Thai, berarti pernah. Anyway, saya akhirnya melihat rupa dan merasakan tom yum goong. Pertama kalinya juga dalam hidup, saya melihat udang segede nyaris sekepalan tangan, 4 ekor di dalam panci. Tuhan Maha Besar. Sayang saya malu mengabadikan momen ini karena selain takut dianggap norak, saya makan dengan dosen-dosen yang sangat saya hormati. 

Dalam perkembangan hidup saya di Thailand, saya menemukan fakta bahwa tom yum bukan cuma goong (udang), tapi juga ayam. Namanya jadi Tom Yum Kai dan harganya lebih murah. Satu piring nasi, satu mangkok kecil tom yum ayam jamur, dan satu lauk lain harganya 25 baht (10k) aja. Dan itu banyaaaaak banget sampe kadang jatah makan siang saya itu takmasukkan ke kotak bekal untuk simpenan makan malam. Meskipun malemnya ya beli makan lagi ehehehe.

Nasi, Tom Yum Kai, dan keong
Tom Yum mengingatkan saya tentang pantai yang tenang di sebuah restoran hari pertama saya menginjakkan kaki di the country of smiles itu dan meredakan rasa sedih saya yang jauh dari rumah. Atau obrolan yang sangat sulit dilakukan karena kendala bahasa, tapi tetap terasa menyenangkan di kantin dengan mahasiswa lokal. Juga ibu-ibu Melayu yang berteriak 'Adeeeek! Makan?' setiap melihat saya dan teman-teman muncul di antara keramaian. Beliau langsung mengambil piring, melihat saya, seakan tahu saya akan pesan Tom Yum Kai. Tom Yum is the feeling of being understood. 

Berikutnya, Kwetiau (dalam ini saya akan sebut bakso Thailand untuk membedakannya dengan Pad Thai, kwetiau goreng). Makanan ini setan bener deh. Ini makanan yang memberi saya pengalaman sakit perut luar biasa dan perasaan rindu rumah yang kurang ajar. Pertama kali lihat makanan ini saya seneng banget karena akhirnya saya makan bakso juga. Penampakannya kurang lebih seperti ini :

ini namanya kwetiau
Saya lahap sekali makan kwetiau, rasanya lumayan kaya bakso di Indonesia cuma micinnya lebih sedikit. Makanan ini biasanya saya campur cabe bubuk dan gula (iya bener gula pasir), tapi sebenernya ada banyak pilihan, misalnya sambel ikan, chili pasta, garam, dan lain-lain. Habis makan saya kena diare, tapi nggak kapok, dong. Besok-besoknya saya beli kwetiau di lapak lain. Tiga kali makan efeknya sama, buang air berlebihan tapi lama-lama efeknya berkurang. Semakin sedikit efeknya, semakin banyak saya menambahkan cabe bubuk. 

Kwetiau ini mengurangi rasa sakit hati saya atas nasi goreng keasinan yang saya makan di restoran pinggir jalan pas otw pulang dari Koh Samui ke Nakhon si Thammarat. Karena itu, saya memaksa diri saya makan makanan ini meskipun efek bagi perut kurang baik. Kwetiau ini homesick healer, penyemangat makan dan hidup macam mie setan lvl 10.

Selanjutnya, Pad Thai atau kwetiau goreng. Sayangnya, cuma sekali-dua kali saya makan Pad Thai di Thailand karena warung yang katanya Pad Thai-nya enak adalah warung yang menjual makanan non-halal. Tapi akhirnya saya makan Pad Thai di sebuah tempat lesehan pinggir jalan, yang tempatnya mengingatkan saya pada abang-abang penjual nasi goreng di pinggir jalan yang ramai dan pembelinya makan sambil lesehan di trotoar waktu saya masih umur 3 tahun. Persis. Pad Thai yang saya makan di situ harganya agak mahal, 50 baht, karena isinya campur-campur (ayam, keong, dan udang). Sayang juga saya nggak dapat fotonya karena makan di luar itu gelap banget dan saya terlalu malu pakai flash.

'Pad Thai' berikutnya saya temukan di pasar kota. Saya bener-bener takjub banget dengan 'Pad Thai' satu ini karena cara penyajiannya beda. Saya sampai nggak yakin ini Pad Thai tapi karena sama-sama mie dan digoreng, yah.. well. Oke, jadi ada beberapa bahan makanan yang jadi side dish, misalnya wortel, timun, tauge, cabe, sampai kembang-kembangan yang saya nggak tahu itu apa tapi rasanya enak.

  


Dan cara makannya begini, di atas pelepah jantung pisang. Warbiyasah. Masih gedean tangan saya daripada pelepah jantung pisangnya. Makanan ini secara mengejutkan enak dan muraaah (lupa sih sebenernya, kayaknya 20 baht atau 15 baht).


Tapi ada 'Pad Thai' enak di luar Thailand, dengan asumsi Pad Thai adalah kwetiau goreng. Makanan ini dijual oleh seorang ibu asal Medan di Penang, Malaysia.

enaaaaaaaaak banget sungguh
'Pad Thai' ini dibuat dengan keramahan khas orang Indonesia. Rasa rumah. Pad Thai selalu mengingatkan saya tentang malam di Thailand yang hampir setiap hari saya habiskan di luar kamar. Entah sekadar nongkrong atau jalan-jalan yang luar biasa capek di Penang tapi senang. Pad Thai is like that one nice feeling that creeps up into your head and heart in the end of the day no matter how tired or upset you are that day.

Okay this one would be cliche. Makanan ini mengingatkan saya tentang hari-hari di Thailand yang penuh dengan beragam perasaan. Tapi kalau dirasa dan dipikirkan, kayaknya kita bisa lihat warna-warna yang muncul di kepala. Say hi to Nasi Kerabu.


Mhm, nasinya warna ungu dan yang kalian lihat di gambar, semua warna itu 100% alami tanpa bahan pewarna tekstil. Pas saya cek di google harusnya warna biru sih nasinya tapi buat saya ungu juga masih bisa berterima kok. Rasanya seperti sajiannya yang bercampur. Tidak seperti urap-urap, nasi ini penuh sayuran yang lebih beda-beda lagi dan rasanya saling ditubrukkan. Wortel + tauge + kol ungu + mangga muda + nasi ungu + bubuk ikan. I gave up on the bean sprouts karena ga kuat dengan rasanya, entah kenapa rasa tauge Thailand itu lebih nendang dari tauge di rumah. Selain ukurannya lebih besar, taugenya punya rasa yang sangaaaat kuat.

Nasi Kerabu ini konon aslinya makanan dari Malaysia. Kebetulan yang jual sebenernya temen sekaligus mahasiswa kami yang belajar bahasa Indonesia dengan latar belakang Melayu. Namanya mas Irfan. Mas Irfan ini biasanya jualan Nasi Kerabu di pasar Senin atau pasar depan Lotus Tha Sala, Nakhon si Thammarat. Jaminan enak, bukan karena temen atau apa, tapi emang beneran enak kok! xD

Nah, kalau makanan paling ekstrem yang pernah saya coba mungkin ini.


Saya nggak yakin itu apa tapi sepertinya ulat, mungkin kalau di Indonesia hampir mirip ulat sagu. Saya nggak akan memperpanjang bagian ini karena sempat muncul pertanyaan apakah *boleh* dimakan atau nggak dan 'kenapa mau makan begituan?'. Jawabannya, pertama, saya penasaran. Kedua, saya nggak mau membatasi diri pada hal baru yang tabu dan nggak melibatkan orang lain kecuali diri saya sendiri. Ketika itu saya berdiri cukup lama di depan lapak penjual makanan 'nggak biasa' ini dan bolak-balik mondar-mandir karena saya terkesima dengan apa yang saya lihat secara langsung (dulu cuma tau di TV): ulat dan serangga lain yang sebenernya kaya akan protein.

Karena saya udah di sana, sekalian aja yakan? Udah basah, sekalianlah mandi. Udah ngeliatin dagangan orang dan diliatin yang punya dagangan, ya masa ga beli. Akhirnya saya beranikan diri beli, 10 baht. Atas bantuan seorang teman, saya berhasil mendapatkan mixed insects. Diramu dengan daun jeruk dan bumbu-bumbuan lain, rasanya sebenernya mirip kacang yang kenyal dan crunchy dari bagian kulitnya. Meskipun setelah itu saya nggak pernah beli lagi, setidaknya saya bisa mencatat ini sebagai sebuah pencapaian karena telah menguji diri saya sampai di titik 'hyeeeek' yang maksimal dan pada akhirnya, mengatasinya. 

Berikutnya, snack favorit yang paling favorit. My number 1. Ada dua sih. Take a look at these babies.

 

Pertama, Mango Sticky Rice (Khao Niao Mamuang). My love...
Saya pernah menulis tentang ini sebelumnya, deh. Tentang cinta saya yang pupus lalu terganti oleh Khao Niao Mamuang. Hmm, makanan ini bisa bikin saya patah hati juga sih gara-gara tiap mau beli pasti udah habis duluan dan akhirnya saya pulang dengan agak sedikit dongkol membayangkan rasa mangga yang manis, bercampur dengan nasi ketan dan kuah santan kental yang gurih. Nikmat Tuhan mana yang berani saya dustakan?

Kedua, cintaku yang lain, Thong Yot atau Gold Egg-Yolk Drops. Penjelasan tentang makanan ini bisa dibaca di wikipedia karena sebagai penikmat, saya kurang paham dengan sejarah panjang makanan ini.


Saya melihat makanan ini di suatu sore yang cerah, sedang dikerubungi lebah (yang awalnya saya kira lalat besar). Ibu penjual memperbolehkan saya mencoba, sebuah keuntungan menjadi 'orang asing' di luar negeri. Lalu saya memutuskan beli lumayan banyak. Rasanya manis sekali, saking manisnya muncul rasa pahit sedikit, tahu kan rasa yang begitu? Kalau ditekan di antara lidah dan langit-langit, ada rasa seperti madu yang keluar dan tekstur lembut yang lucu dari makanan ini. Entah itu madu atau gula atau sirup. Inilah alasan ada rasa manis-pahit yang muncul dan makanan ini dikerubungi lebah.

Aneh memang, tapi dua makanan ini yang paling saya suka. Mungkin karena setiap saya makan Khao Niao Mamuang dan Thong Yot ada perasaan bahagia seperti orang jatuh cinta. Rasanya seperti duduk dengan orang yang kita suka dan mendengarkan dia bicara tentang banyak hal. Tulus, manis, dan menggembirakan.

Pada akhirnya banyak makanan lain yang tidak bisa saya foto satu-satu karena saya terlalu sibuk merayakan hidup. Misalnya kerupuk ikan Narathiwat yang belum saya temukan bandingannya dengan kerupuk ikan di Indonesia, kerupuk yang mengingatkan saya tentang kebaikan orang Thai. Ada juga biskuit *nggak boleh sebut merk* rasa kiwi-apel yang belum beredar di Indonesia, Som Tam yang awalnya aneh di mulut tapi lama-lama bikin nagih, Thai tea yang disajikan dalam gelas plastik segede mangkok, buah-buahan aneka ragam dan disajikan sedemikian rupa, marshmellow murah yang enak buanget, sampai street food macam cilok, sosis, dan tempura yang sulit dijumpai di Malang. Masih banyak lagi, tapi highlightnya cukup sampai sini dulu.

Pada akhirnya juga saya bahagia dan bersyukur. Sungguh, tidak ada dusta. 

Dec 2, 2017

What to Hope

Dari bandara menuju rumah, ada papan baliho yang mengubah hidupnya.

"Find the answer first and then question it"

Dalam bus kampus itu ia terdiam. Bahkan jawaban dari pertanyaan itu belum ia temukan : "what do you want to do?". Ia pulang ke rumah dengan langkah terhuyung, berat punggung, berat hati, dan berat kepala.

Instagram dibuka dan dilihatnya ada banyak foto-foto bertebaran. Ia putuskan hari itu ia berhenti memberi hati, tahu betapa kecilnya pernak-pernak ini ketimbang isi dunia lain yang telah dan akan ia lihat. Nyaris yakin ia rasa, hampir separuh foto yang ia lihat palsu. Hanya sebuah gambaran orang-orang di tempat yang terlihat menyenangkan tanpa memperlihatkan sulitnya menjangkau tempat itu. I was there too, I was like that too. Pertanyaan yang sama muncul ketika ponsel pintar sudah tidak lagi ia pegang, 'what do you want to do?'.

Find the answer first and then question it.

Tapi tidak ada jawaban. Belum. Dibuka lagi social media lainnya. Di situlah ia melihat seseorang bicara tentang hidupnya jika ia sudah 45. Okay, what do you want to do now? Membuat hal yang sama.

To my 45-years-old self..

Berhenti di sana. 'Mau apa?'

I hope this letter reaches you in good health and life.

Setidaknya dengan bicara seperti itu, ia tahu ia belum mau mati ketika ia 45 tahun. Ia mau sehat dan lepas dari penyakit apapun. Ia mau hidup.

If it isn't good, it has ever been and will be. As you understand now, every storm will pass, and this one shall too. If it is, I am glad but I hope it doesn't satisfy you quickly.

Percaya bahwa kehidupan itu tidak statis membuatnya yakin bahwa ia akan baik-baik saja di masa depan.

Ia mulai mendaftar harapannya ketika ia sudah 45. Ia juga menambah harapan-harapan konyol yang tidak masuk akal, harapan akan dirinya yang sudah bisa mengatasi ketakutannya, harapan yang tidak muluk tapi membahagiakan, harapan yang sederhana, dan sedikit harapan yang terlalu fantastis. Menambahkan kata sifat yang baik-baik dan kata benda yang tidak terlalu abstrak (ia mencoba menghindarinya atau membuat definisi dari kata-kata itu).

Ia menulis semua sambil tertawa, sambil terisak-isak, kadang senyum-senyum malu dan kadang serius berteguh hati. Ia menulis dengan hati yang hangat dengan harap dirinya yang 45 tahun itu bisa merasa hangat juga hatinya. Ini adalah harapan jangka panjang, proposalnya untuk Tuhan, ia tidak tahu harapan mana yang akan dikabulkan.

Ia sudah membuat jawaban untuk pertanyaan "what do you want to do-with your life?", pertanyaan berikutnya, "what do you have to do?", "what has to be done?" dan "how could I be there?". Find the answer first and then question it.

Oct 26, 2017

Oleh-oleh dari Perjalanan

Sebuah perjalanan selalu membawa sebuah pelajaran berharga tidak peduli berapa lama kita pergi. Salah satunya, tentang teman. Satu lagi ding, oleh-oleh. 

Teman yang pertama, mungkin yang paling bisa dibilang 'temenan' (jawa, artinya beneran), biasanya suka nanya kabar, nanya kondisi, nanya 'udah kangen rumah?' pake emote senyum licik, meskipun pertanyaan ini rasanya agak sedikit kurang ajar. Temen ini biasanya baik banget karena dia akan dengan senang hati membantu apa saja dan suka denger cerita dari yang ceria, bahagia, menyedihkan, sampai yang bikin muntah. Kalo ditanya mau oleh-oleh apa? Jawaban standar : 'apa aja boleh'.

Teman yang satunya, juga bisa disebut 'kadang bener kadang nggak' hehe, biasanya nggak suka nanyain kabar, nggak suka iseng-iseng personal chat. Tapi entah bagaimana kita tahu bahwa dia kangen. Nggak usah pake chat yang panjang dan cerewet, kadang cukup bales-balesan komen di sosial media. Sesekali ding curhat, biasa. Tapi nggak sering-sering banget asal cukup bikin kangen. Kalo ditanya mau oleh-oleh apa? Jawaban standar : 'apa aja boleh, tapi kalo bisa...'

Teman lain biasanya nggak nanya kabar, nggak nanya kondisi, tapi pas tau kita mau pulang biasanya tiba-tiba muncul dan nanya hal-hal yang berhubungan dengan hidup kita dalam perjalanan itu atau komen tentang apapun yang kita posting di sosial media. 'Apa kabar?', 'Eh itu apa sih?', 'Di Indonesia ada nggak?', 'Kok bisa gitu yah?' dan lain-lain. Kalo temen ini muncul, respon yang paling umum bisa kita berikan adalah 'Hmmm, tumben'. Kalo ditanya mau oleh-oleh apa? Jawaban standar : balik nanya 'Di sana apa yang bagus?' atau 'Eh bawain ini dong'.

Teman terakhir, yang ada di puncak daftar. Mereka nggak nanya kabar, nggak nanya kondisi, atau kadang iseng-iseng aja nanyain di grup chat. Nggak minta oleh-oleh juga. Eksistensi mereka antara ada dan tiada di hidup kita. Tapi ternyata mereka diam-diam ngomongin di belakang. Kadang nih ya, nggak ditanya mau oleh-oleh apa, tapi tiba-tiba bilang 'oleh-olehnya ya!'. Ntar kalo nggak dioleh-olehin, makin rame di belakang sana hehe.

Sebuah perjalanan mengajarkan saya banyak hal. Simply, belajar untuk menjadi teman yang baik di rumah ataupun di negara tujuan, untuk mengendalikan diri saya menghadapi orang lain dan mengendalikan postingan saya di sosial media, belajar menghargai orang baru dan nggak menyindir atau menyinyir tentang hidup mereka, belajar untuk nggak mencampuri hidup orang lain, dan belajar memaafkan.

Juga belajar untuk nggak bilang 'oleh-olehnya ya!' pada siapapun yang akan pergi. Karena jujur saja, 'hati-hati ya di sana' terdengar jauh lebih menyenangkan daripada 'oleh-olehnya ya!'.

Sep 2, 2017

Tentang Nikah

Selamat menempuh hidup baru buat Mbak Ivro, mbak sepupuku, yang dulu suka tuker-tukeran lagu via bluetooth dan Mbak Ferdina, kakak kelas SMA, yang suka bilang 'Mei, lanjut ya belajar bahasa Jermannya!", semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian dan keluarga baru kalian xoxo

Dari dulu saya bisa dibilang late bloomer dalam hal percintaan. Saya yang paling telat punya pacar di antara teman-teman saya dan saya yang paling telat juga dapat undangan nikahan. Dari semester 3, temen-temen kuliah saya banyak yang cerita dapat undangan nikah dari sahabatnyalah, temennya SMP-lah, siapa lagi saya lupalah. Sampai-sampai sebulan ada kali dia 3 kali kondangan.

Undangan nikahan pertama yang ditujukan untuk saya itu dari Velin, temen SMP yang nikah tahun lalu. Saya nggak dateng pas nikahan Velin soalnya nggak ada temen ke tempat resepsinya. Setahun lebih kemudian baru saya dapat undangan nikahan lagi dari Mbak Ferdina. Kali ini saya nekat berangkat sendiri meskipun nggak tau tata cara ke kondangan (bawa buwuh berapa, pakaian yang pantes gimana, datang yang pas jam berapa). Untungnya di sana ketemu Mbak Mas jaman SMA dulu yang bisa dibarengi, walaupun akhir-akhirnya ditinggal juga soalnya mereka asik sendiri :')

Ketika di nikahan mbak Ferdina, lihat proses pengantin masuk ke dalam hall resepsi nikahan, saya jadi terharu. Bukan karena pengen, tapi lebih ke terpesona dengan sakralnya prosesi. Khidmat, semua mata tertuju ke kedua mempelai. Satu-satunya suara yang terdengar hanya dari MC yang mengiringi penganting, backsound lagu klasik, dan suara orang ambil foto. Waktu itu saya nyaris menitikkan air mata melihat prosesi sakral ini. Di sini saya tahu kalau nikahan yang bagus, MC-nya juga harus bagus. Acara lanjut ke salaman, foto-foto, 'ramah-tamah', pamitan, dan pulang.

Setelah itu saya mikir, well, someday I'd be on that place. Mungkin suatu saat nanti saya juga akan masuk ke dalam sebuah ruangan dengan seseorang (pasti laki-laki), dikelilingi kerabat dan keluarga, dilihat orang-orang yang kami undang. Semua bahagia, cara yang indah untuk memulai hidup baru. Sampai saya tahu bahwa pernikahan itu mengubah seseorang.

Bahkan seharusnya 'punya pacar' saja bisa mengubah seseorang. Kalau kita ambil contoh sederhana di jaman hidup tradisional dulu, kalau perempuan sudah mau dijodohkan saja hidupnya akan berubah. Seperti tokoh Nuraeni dalam novel Lelaki Harimau-nya Eka Kurniawan (btw, ini novel bagus loh!). Ketika dia sudah ada pacar, Nuraeni mulai menata diri. Dia nggak lagi ikut bapaknya bekerja di sawah, tapi dia mulai ikut ibunya di dapur. Dia mulai meninggalkan kegiatan anak-anaknya dan mulai ikut-ikut kegiatan perempuan, mulai belajar dandan, belajar menjaga diri dan sikap, dan merawat tubuh. Semua dilakukan karena dia sudah punya pacar dan akan menikah.

Ketika saya membaca paragraf ini saya cuma bisa duduk diam sejenak dan berpikir. Sebenernya mau di jaman modern sekarang pun harusnya juga seperti ini. Ketika sudah ada pacar yang serius, perempuan yang baik akan memperbaiki diri. Dandan, belajar masak, belajar mengurus rumah, dan belajar belajar belajar. Bukan untuk memposisikan dirinya lebih rendah daripada si suami, tapi karena perempuan punya andil besar dalam membangun 'rumah' bagi keluarga barunya.

Bukan berarti perempuan ga boleh kerja, cari duit, berpendidikan tinggi, tapi bayangkan kalau istri yang mengurus rumah bukan perempuan yang betah di rumah, yang egois dan mementingkan diri sendiri, yang sukanya beli makan di luar dan nggak bersihan. Mungkin sebenernya perempuan yang berpendidikan justru lebih tahu bagaimana bersikap dan bertindak dalam keluarga.

Menikah itu hidup berdua dan punya keluarga yang lebih besar dari sebelumnya. Bukan hanya diri sendiri yang disenengin tapi juga pasangan, mertua, orang tua, ipar, anak-anak, dan ponakan karena pada dasarnya membahagiakan orang lain yang kita sayang itu harusnya bikin kita bahagia juga.
Intinya sebagai pengingat untuk diri sendiri, nikah itu gede banget tanggung jawabnya.

Ketika mengingat kembali di pernikahan teman-teman saya, saya melihat bagaimana mereka menggandeng suami masing-masing dan melangkah mantap. Saya yakin temen-temen saya yang menikah sudah siap menerima perubahan yang akan mereka tanggung bersama suami atau istri masing-masing karena mereka nggak akan sendirian. Diam-diam saya malah merasa agak iri karena mereka bisa berubah menjadi lebih baik untuk menjalani masa depan baru mereka. Saya yakin mereka akan bahagia.

Oh, tolong jangan tanya saya kapan nikah. Saya masih sibuk *lanjut baca Lelaki Harimau*

Alasan aja karena pacarpun tak ada :')




Aug 29, 2017

Nggak Gini Caranya

Postingan lama ini harusnya udah saya post berbulan-bulan yang lalu. Tapi karena saya sibuk (alibi untuk kemalasan yang berlarut-larut) dan ada beberapa pertimbangan tentang isi post ini, saya yakin harus membagi cerita ini. Jadi beberapa bulan lalu saya diajak seorang kawan untuk ikut semacam seminar atau mungkin bisa dibilang pelatihan kerja. Dalam tanda kutip. Setelah acara 'pelatihan kerja' yang unik itu selesai, saya tahu pasti saya nggak mau bergabung.

Acara pelatihan itu agak berbeda, para pendatang baru sama sekali tidak diberi tahu informasi apapun sebelumnya tentang pekerjaan itu. Pas saya tanya ini acara apa, intinya mereka bilang 'udah ikut aja'. Hari itu saya datang ke sebuah rumah kecil, kami duduk di lantai, dan acara dimulai dengan sederhana. Awal-awalnya juga blur untuk saya, cuma cerita riwayat perusahaan dan 'jual beli produk'. Mungkin ada 30 menit saya masih ngga paham tentang tujuan perusahaan ini apa. Semakin lama semakin jelas. Menarik sih, tapi saya langsung pulang ketika mereka menutup acara itu, nggak mau ikut kumpul-kumpul. Selain karena acara itu selesai nyaris pukul 11 malam, saya punya beberapa alasan.

Alasan pertama saya menolak bergabung di sana adalah presentasi yang buruk. Mereka suka bertele-tele, tapi juga sangat suka menceritakan kisah mereka tentang kesuksesan. Nyaris semua cerita dimulai dengan "mahasiswa miskin" dan diakhiri dengan "bisa beli mobil dalam tempo 10 bulan". Cerita itu didramatisir dengan satire-satire, ditambah pula teriakan atau tepuk tangan tiba-tiba 'pegawai' dari bagian belakang. Oke, mungkin itu cara mereka memotivasi para pendatang baru, tapi bagi saya itu sangat tidak nyaman.

Alasan kedua: uang. Mereka sempat menceritakan proses dan waktu yang panjang mencapai milyaran rupiah itu. Dengan penekanan (atau pukulan di papan tulis pada setiap akhir kata 'dolar'), mereka sangat yakin bahwa angka fantastis itu bisa dicapai dengan cepat. Padahal kerjanya hanya merekrut, membina, merekrut, dan membina. Nyaris tidak membutuhkan keahlian apapun.

Saya pikir merekrut seseorang akan mudah, seperti asuransi. Pikiran itu bertahan sampai mereka berkata kami, para pendatang baru, wajib membeli produk yang harganya hanya hanya beberapa digit di bawah 10 juta rupiah. Dunia bisnis sudah mulai gila. Saya bahkan nggak butuh alat itu dan kalau mau gabung saya harus beli! Gimana pun caranya. 

Alasan ketiga : bagi mereka hampir semua pekerjaan selain pemilik perusahaan dan investor itu berada di taraf miskin. Pekerjaan seperti guru, dosen, pegawai negeri, pedagang, bahkan wiraswasta itu rawan gagal. Bangkrut. Saya cukup senyum sinis ketika mereka tanya apakah dosen kami yang paling kaya sekalipun mengendarai Alphard ke kampus? Tidak! Tidak ada dosen yang bawa mobil mewah ke kampus, dosen itu tidak makmur.

Benar. Tidak ada dosen bawa mobil mewah ke kampus. Dosen-dosen itu hanya bawa motor bebek, motor matic, mobil avanza, atau yaris dan jazz yang mungkin dibelinya beberapa tahun lalu. Tapi mungkin kita tidak tahu kalau dosen-dosen ini punya andil besar dalam masyarakat. Misalnya punya sekolah yang didirikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus dan anak-anak ekonomi menengah ke bawah, punya rumah sakit, penulis puluhan buku, mungkin juga aktivis lingkungan. Mereka tidak punya waktu untuk beli atau merawat Lamborghini, rumah mereka mungkin sederhana, bukan rumah megah dengan lampu kristal dan hall untuk makan malam bersama.

Alasan keempat : Mereka menjelaskan bahwa kewajiban kami akan berhenti setelah mendapatkan 6 orang. Jadi kami akan membina mereka, 'bekerja sama', lalu uang akan datang dengan sendirinya. Tapi bagaimana kami bekerja? Apa yang bermanfaat untuk kami dan untuk orang lain? Apa spesialisasi kami akan meningkat? Saya nggak paham benar. Memang enak ya bekerja begitu, duduk diem-diem, eh rumah udah lunas, tinggal pelesir ke Maldives sebulan dua kali, atau berangkat umroh tiap tiga bulan. Sebenernya ini jadi iming-iming terbesar kenapa orang mau bergabung dan ya jujur saja, saya tergoda. Tapi ketika kewajibannya itu meminta orang lain beli barang yang nggak mereka butuhkan dengan harga yang nggak murah, mending saya mundur aja.

Alasan terakhir, alasan yang benar-benar membuat saya geleng-geleng kepala : arogan dan terlalu percaya diri memang beda tipis. Mereka menyatakan akan membuat kami semua kaya raya, sukses, berani bermimpi punya mobil Alphard. Kemudian mereka tanya 'siapa di antara kami yang akan nekat mendapatkan uang nyaris 10 juta itu untuk bergabung dengan mereka dan membuktikan ucapan mereka', saya menolak angkat tangan. Mereka mendoakan saya miskin sampai ahli waris. Tersentuh saya, bewildered, tapi tetap menolak angkat tangan. Udah hilang respek saya. 

Saya ingat mereka bilang 'ayo kita lihat, 4 tahun lagi siapa yang beli alphard duluan? Saya atau mereka yang tidak bergabung malam ini'. Ga tau deh, buat saya sukses bukan hanya tentang punya Alphard, punya ribuan dollar di buku tabungan, punya rumah tingkat 3 dengan landasan helikopter di atapnya. 

Mending saya ingat kata dosen saya yang cuma bawa mobil tua ke kampus : bekerjalah karena kamu tahu pekerjaan ini membawa manfaat buat kamu dan banyak orang. Bekerjalah karena pekerjaan itu membawa kebahagiaan padamu dan banyak orang di sekitarmu. Kita nggak hidup sendiri, tapi juga ada orang lain. Jangan pikirkan berapa uang yang akan kamu hasilkan, manusiawi memang kalau kita nggak akan pernah merasa cukup dengan uang. Buka koneksi, lihat kesempatan, asah softskill dan hardskill, jadilah berguna untuk banyak orang, bahkan kalau bisa untuk bangsa dan negara, uang akan datang dengan sendirinya.

Sukses itu butuh pengorbanan. Cara orang berkorban beda-beda juga. Ada yang kuliah tinggi-tinggi (biaya kuliah mahal, cyin), ada yang mending langsung kerja aja nggak nerusin kuliah, ada yang merantau jauh sampai jadi TKW ke Arab, ada yang jual rumah jual emas buat modal usaha, ada yang rela kerja keras tapi di tahun pertama cuma dibayar 100 ribu, dan seperti si Mas, pengorbanannya mau beli produk mahal dan mengajak orang lain untuk bergabung. Pengorbanannya beda karena buat mereka definisi sukses juga beda-beda. Nggak semua orang harus punya Alphard untuk bahagia. Jadi tolong Mas, cukup doakan yang baik-baik aja. 

Lagipula bukankah Tuhan sudah menjamin rezeki setiap makhluk yang berjalan di atas bumi? Bagi sebagian kita rezeki itu akan dilapangkan dan yang lainnya akan disempitkan. Kita hanya harus berusaha dan pandai-pandai bersyukur saja. Asal mau usaha, saya yakin kita nggak akan jadi miskin-miskin amat. Jadi, Mas, mohon maaf, semua orang pasti mau kaya, tapi buat saya nggak gini caranya. Bahagiamu bukan bahagiaku ya, Mas, biar aja saya miskin bagimu. Selamat menikmati kekayaan masing-masing, pokoknya jangan sampai miskin hati dan akal :)

Oct 25, 2016

(-,-)

And you can't fight the tears that ain't coming
Or the moment of truth in your lies
When everything feels like the movies
Yeah, you bleed just to know you're alive. 


The irony.. when someone you love the most is the first one to leave. 

P.S : Everyone knows this song ey?

Jun 30, 2016

Bentuk Kekerasan yang Berbeda tapi Tidak Apa-apa

Suatu hari kejadian buruk menimpa saya. Kejadian ini membuat saya merasa sangat tidak enak dan saya enggan untuk berada di sekitar tempat di mana kejadian ini terjadi. Sayangnya, terkadang kebanyakan orang yang berada di sana tidak membuat saya merasa lebih baik. Bahkan mereka sama sekali tidak berusaha membuat saya merasa lebih baik, mereka bertindak sebaliknya. 

Dalam perjalanan pulang, saya teringat percakapan dengan Ken di twitter 2 tahun lalu, ketika Ken mengutip Kou Yoneda : 

People are... Full of contradictions. They're lonely. And then they're not. They're missed. And then they're not.

Agak lucu buat saya sebenernya. Terkadang banyak sekali orang yang mendorong orang lain untuk berbuat sesuatu dan ketika orang lain itu melakukannya, ia akan dihajar habis-habisan. Sungguh sangat bertentangan dengan apa yang mereka katakan sebelumnya. Kontradiksi.

Jadi ceritanya, kemarin saya dihajar habis-habisan sebagai akibat perbuatan yang saya lakukan. Saya salah, saya tidak akan berkata sebaliknya. Sebagai balasannya, saya tidak hanya diberi ucapan 'ya kamu salah', tapi juga tertawaan dan pandangan menghina. Jujur saja, apa yang terjadi saat itu membuat hati saya tercabik. Tapi tidak apa-apa, what doesn't kill you makes you stronger. 

Saya merasa sebenarnya orang lain tidak perlu sebegitu jahatnya. Mereka bilang jangan takut untuk berbuat kesalahan, dari situ kita bisa belajar. Kesalahan telah dibuat dan sayangnya orang-orang jahat ini tidak membuat pelajaran ini menjadi mudah. Mereka membuat semuanya menjadi rumit dan lebih parah lagi, menyakitkan. Kontradiksi.

Saya diam-diam ingin bertukar peran. Bagaimana jika saya melepaskan sepatu saya kemudian menjejalkannya ke kaki mereka? Menarik. Tapi saya tidak akan mencoba karena ini hanya keinginan diam-diam. Saya hanya ingin merasakan bagaimana menertawakan orang lain yang sedang mengalami kesialan dan memutar mata saya dengan masalah mereka, 'hadeh, apa deh, ga paham sama ini ya? Ga pernah ikut itu ya? Hadeh, nggilani, norak, kampungan, sotoy, sok, lalala-lilili'.

Haha, tidak apa-apa. Sepatu saya memang tidak cocok untuk mereka. Atau juga sebaliknya.

Pernah suatu kali saya merasa bahwa sebuah tawa adalah bentuk kekerasan yang berbeda. Seperti ada jenis tertawa yang membuat orang lain merasa tidak bahagia. Tapi sepertinya memang ada. Misalnya tawa yang membuat orang lain merasa malu ketika masuk kelas dengan potongan rambut baru dan tawa yang membuat orang lain sedih karena dihina. Diam-diam tawa ternyata juga sebuah kekerasan. 

Do you know why people like violence? It is because it feels good. Humans find violence deeply satisfying. But remove the satisfaction, and the act becomes... hollow.
- Alan Turing played by Benedict Cumberbatch, The Imitation Game

It is satisfying. Tertawa yang demikian itu memang memuaskan. Apalah yang lebih baik daripada melihat orang yang tidak kita sukai jatuh dan kita bisa tertawa karena itu? Dan jika dia yang menang kita akan berusaha membuatnya tidak menang juga. Ini tuh seperti permainan kartu, bisa kartu UNO : kalau kamu belum bisa menang, setidaknya jangan buat temanmu menang. Ketika kamu menang, maka tertawalah. Apalah tawa tanpa rasa kepuasan?

Tapi temanmu bukan pelawak yang sengaja melemparkan dirinya untuk menjadi lucu.

Oke, saya tidak apa-apa. Orang lain tidak bisa berhenti menertawakan dan membicarakan karena itu sumber kebahagiaan mereka. Mungkin itu bentuk kekerasan yang dilakukan orang-orang yang tidak suka kekerasan, kontradiksi. Saya salah, saya mengakui dan tidak berkata sebaliknya, tetapi saya memaafkan diri saya. Menyalahkan diri sendiri tidak akan menyelesaikan masalah dengan lebih cepat.


The fact is, forgiveness is the quickest shortcut to beginning again and refocusing on what matters. This doesn’t mean we let ourselves off the hook, we learn from it and release the burden so we can begin to be of service to ourselves and others. - Elisha Goldstein

Selamat siang. 




Jan 10, 2016

Situs Gaul untuk Belajar Bahasa

Banyak banget orang-prang di blog me-reveal target mereka di blog. Sahabat saya akan jadi seorang reviewer handal tahun ini. Saya memilih jalan lain. Salah satu target saya di tahun 2016 ini adalah bisa jadi polyglot. Jadi, tahun ini saya harus menyempurnakan kemampuan berbahasa Inggris saya, memperbaiki kemampuan berbahasa Jerman saya, belajar bahasa Perancis dengan serius, dan bisa rajin latihan bahasa Thailand di kelas Thai. Sederhana, dan saya punya 365 hari untuk mencoba (3 hari pertama hilang ditelan kemalasan dan hari ke-4 mulai belajar bahasa Thai).

Belajar bahasa asing memang kesannya elit dan mahal. Saya dulu les bahasa Inggris cukup banyak menghabiskan uang. Anehnya, ketika les dulu saya biasa-biasa aja, ngomong Inggrisnya juga standar abis, dan kalo ada kompetisi apa gitu dulu di kelas, saya cuma dapat peringkat tiga.... dari tiga orang. Malah ketika SMP, ketika sudah mengenal film-film bersubtitle bahasa Inggris dan radio (maklum, dulu internet dan MP3 bukan barang gaul macam sekarang), kemampuan bahasa Inggris saya berkembang jauh lebih baik.

Belum lagi cerita dari mahasiswa-mahasiswa Thailand yang menghabiskan 50.000 Baht untuk ke Indonesia, belajar bahasa Indonesia, dan KKN. Yah, sepadan sih karena begitu lulus dari Indonesia mereka langsung wisuda (kata Kak Mew). 

Sekarang, ketika sudah kuliah dan internet adalah salah satu sumber utama kebahagiaan, saya berpendapat "Learning a language in which you can't see the teacher should be free." Yeah. Belajar bahasa asing di mana kita tidak bisa ketemu gurunya, harusnya gratis. Secara kita kan belajarnya nggak pake tutor-tutoran dan guru-guruan. Nah, berbekal kuota yang pas-pasan dan wifi kampus yang kembang kempis, saya bikin list situs-situs gaul untuk belajar bahasa di Internet versi saya.

Sebenarnya ini bukan situs yang khusus belajar bahasa, tapi mirip facebook dan email dijadikan satu. Senangnya, di sini ada fitur yang memperbolehkan kita memasang interest pada bahasa-bahasa dan negara tertentu. Jadi kita bisa mencari teman yang bahasa ibunya bahasa Inggris. Bagusnya lagi, karena kita belajar langsung dengan native, kita bisa belajar budaya mereka juga. Yah, secara bahasa dan budaya kan satu paket.

Tapi pakai interpals harus super sabar. Nggak semua orang ingin bicara dengan kita dan nggak semua orang ingin belajar bahasa kita. Jadi kadang kita udah susah-susah bikin message yang menarik, tapi ga dibalas. Yaudah sih haha. Juga, kecenderungan untuk ngobrol ngalor kidul sangat tinggi, jadi kadang lupa poin utamanya adalah belajar bahasa bukan cuma ngobrol-ngobrol. Kadang juga banyak orang yang menggunakan situs ini seakan dating sites di mana banyak orang bisa mencari pacar dan istri sesuka hati. Ignore aja kalo ada yang begini.

But yeah, situs yang bagus buat cari teman dan belajar banyak hal. Gunakan situs ini dengan pikiran terbuka.

Duolingo



Duolingo sudah hadir di tengah-tengah kita sejak 2011. Saya sendiri sudah signed up sejak 2014 dan sangat menikmatinya. Situs ini menyediakan sarana belajar bahasa yang menarik dan menyenangkan. Latihan-latihan diberikan dengan dikte, jadi kita bisa melatih pendengaran kita dan menirukan pelafalan para speaker. Di situs ini kita bisa belajar merangkai kata, menulis kembali, mentranslate kata atau kalimat, mencocokkan gambar, hingga menambah vocab dan berbicara. Selain itu, ada tips dan penjelasan yang sangat tertata rapi baik ketika kita sedang belajar maupun selesai belajar. Tips dan penjelasan ini bisa kita baca kapanpun kita mau.

Sistem di situs ini juga memperhitungkan kemampuan kita mengingat. Jadi andaikata kita tidak 'belajar' dalam waktu lama, skill yang sudah kita pelajari akan menurun. Mau tidak mau kita harus menguatkan skill itu lagi supaya naik, atau dalam kata lain... mereview. Ulang dari awal. Semakin tinggi skill semakin baik.



Sayangnya courses yang tersedia di situs ini kebanyakan dalam bahasa Inggris. Ada beberapa bahasa yang bisa kita pilih, ada bahasa Jerman, Perancis, Belanda, Italia, Spanyol, dsb untuk para english speaker. Beberapa memang sudah ada, tapi ya gitu, masih dalam tahap pengembangan. Kebanyakan bahasa yang ditawarkan adalah bahasa-bahasa negara di Eropa. Beberapa bahasa sedang digodok supaya bisa dipelajari di situs ini, salah satunya bahasa kita, bahasa Indonesia!

Tapi karena situs ini sudah dirancang sedemikian rupa, kita otomatis tidak bisa melihat gurunya. Apalagi si speaker ini monoton. Gitu-gitu aja. Kita nggak bisa merasakan sensasi diajar guru killer atau guru yang sedang PMS. Dan karena itu pula, kadang kata-kata yang muncul lucu-lucu. Saya pernah lihat nih di IG, capture-an duolingo waktu si pembelajar ini diminta menyusun kata-kata dari bahasa Belanda yang artinya 'Excuse me, I am a potato'. Dan yang saya dapat adalah...




Memrise

Saya belum lama ini mulai menggunakan Memrise, padahal situs ini diluncurkan pada 2010. Tidak jauh beda dengan duolingo sebenarnya, sebelas-dua belas. Bedanya situs ini (sesuai namanya) lebih jago untuk memorizing, mengingat. Ketika ada satu kata yang sulit untuk kita ingat, akan ada 'mem' yang membantu kita mengingat kata itu. Misalnya, 'mem' untuk 'ottaa' (to take, finnish) adalah 'otter', atau 'mem' untuk 'tietää' (to know, finnish) adalah 'THEATRE (tietää)' XD



Situs ini juga ada speakernya, dan jujur saja speakernya lebih lively daripada duolingo :P Cara belajarnya juga sebelas-dua belas dengan duolingo, tetapi di situs ini kalau kita masih sering berbuat kesalahan, maka kata itu diulang-ulang sampai kita bisa. Kata itu juga bakal ditandai sebagai kata sulit. Review juga muncul secara otomatis sehingga kalau kita mau review langsung klik menu review yang tersedia.

Sayangnya lagi-lagi bahasa-bahasa di situs ini kebanyakan bahasa-bahasa major atau bahasa yang banyak dipelajari. Sebenarnya ada beberapa bahasa yang belum terlalu booming dipelajari tapi tersedia, bedanya course bahasa-bahasa yang seperti ini coursenya tidak banyak.

Btw sebenarnya Memrise ada yang berbayar, tapi yang free juga asik! Untungnya, dia lebih accessible meskipun free :)

Situs berbayar dan saya tidak terlalu suka menggunakannya :

Babbel


Babbel keliatannya memang lebih 'wah' tampilannya, kayak buku les yang mahal itu. Di situs ini ada bahasa Indonesia juga lho. Tapi ketika saya coba menggunakan situs ini, ternyata ribet banget karena dikit-dikit keluar pertanyaan yang harus diisi seperti berapa usia kita, ngapain belajar bahasa ini, dsb. Pas masuk ke level yang lebih tinggi, ternyata harus bayar juga. Ah...


Busuu


Saya kenal Busuu dari SMA dulu, ketika guru saya menyarankan murid-muridnya bikin account di Busuu. Least favourite karena kita harus bayar :/

Sebenernya ada Livemocha juga.


Situs ini sebenernya free, kita ga perlu ngeluarin duit asli sedikitpun. Pas kita masuk akun ini, kita akan dikasih 'duit' sama situs ini dan uang itu bisa kita pake buat beli 'course'. Kita bisa dapet duit dengan mengikuti course, jadi tiap jawaban benar kita bisa dapet duit.  Kita juga bisa dapet duit dengan jadi tutor users lain, jadi sebelas-dua belas sama interpals : kita harus berinteraksi dengan orang lain. Saya masih mencoba menggunakan situs ini sih sebenernya, tapi sampai sekarang saya masih belum dapet 'fun'-nya.

Saya sendiri lebih suka pakai memrise & duolingo untuk belajar bahasa dan interpals untuk belajar budaya. Di memrise saya lebih banyak menghafal, di duolingo saya belajar grammar, di interpals saya praktek. Di situs-situs ini kita bisa belajar lebih dari satu bahasa secara bergantian. Jadi kadang saya belajar bahasa Perancis sejam, lalu sejam lagi menajamkan kemampuan bahasa Jerman saya. Yah lumayan, sekarang saya bisa sedikit-sedikit membalas chat teman dengan bahasa Perancis setelah pakai Memrise dan vocab saya jadi tambah banyak dengan pakai duolingo. Semoga akhir tahun ini saya bisa mahir berbicara bahasa Jerman dan Perancis, dan bisa mulai belajar bahasa Belanda tahun depan.

Nah, saya akan lanjut belajar lagi sekalian menunggu teman-teman dari Thailand keluar kelas. Kalau ada yang mau belajar bahasa mulai dari Inggris, Jerman, Perancis, Jepang sampai Korea, silakan mencoba situs-situs di atas. Jangan takut! Selamat belajar! ~(*3*~)(~*3*)~

UPDATE :
Yak, ternyata Livemocha udah permanently closed terhitung sejak 22 April 2016. Yaaaaaaah.

Dec 20, 2015

Fist in the Air

Setelah dua tahun lalu saya mengalami penolakan SNMPTN dan SBMPTN, saya harus menerima kalau cuma bisa belajar sastra Indonesia di Malang. Awalnya memang agak... yah sudahlah, tidak apa-apa. Kemudian saya merenungkan masa SMA saya yang luar biasa dan menggali lagi apa yang dulu saya pernah idam-idamkan, sampailah pada satu masa di mana saya ingin jadi guru. Guru gaul. Yang mengajar bahasa Indonesia kepada penutur asing.

Dan di sinilah saya. Mahasiswi semester tiga. Memulai karir : tutor bahasa Indonesia untuk program In-Country 2015/2016 *tangan mengepal di udara*

Dari semester lalu, job vacancy yang mencari tutor selalu ada. Sayangnya saat itu saya harus bersabar karena yang bisa daftar minimal semester 3, sedangkan saya.... hanya dari segi usia ada di semester 4-5 :') Jadi ketika di semester 3 ada lowongan menjadi tutor untuk mahasiswa Thailand ini, saya langsung daftar. Yang daftar banyak, tidak hanya dari sastra saja yang mendaftar, tapi semua fakultas. Saya pesimis. Tapi ternyata saya lolos. Dari 160 mahasiswa yang mendaftar, hanya 40 mahasiswa yang diterima, 4 di antaranya anak semester 3. 

Ketika saya membaca nama saya yang muncul di daftar nama calon tutor dengan tambahan keterangan 'DITERIMA', rasanya seperti adegan film The Breakfast Club ketika Judd Nelson mengepalkan tangannya di udara. Kembali mengingat masa-masa dua tahun lalu di kelas bimbel jam 10 pagi, bersusah payah mengerjakan soal-soal ekonomi dan matematika, membesarkan hati dengan berkata 'Sabar, Tuhan sedang mengaspal jalanmu'. Yah, rasanya inilah salah satu ujung jalan yang dua tahun lalu diaspalkan Tuhan untuk saya. 

Jalan yang diaspal ini masih sangat panjang, masih harus dijalani agar ujung yang satunya bisa dicapai. Mungkin suatu saat akan ada batu yang membuat saya tersandung lagi, akan ada jalan yang tiba-tiba krowak lagi, mungkin saya harus sedikit berbelok dan mengulang lagi, bagaimanapun juga saya bersyukur. Saya bersyukur, atas apa yang sudah ada di tangan saya saat ini. Saya bersyukur karena saya tidak menyerah. 

Suatu saat nanti, ketika jalan saya rusak lagi, saya harap saya mau dan bisa berdiri lagi seperti sekarang ini. Saya harap saat itu saya cukup dewasa untuk bilang 'mai pen lai', tidak apa-apa. 


Dec 7, 2015

Semua Ini Salah Palang

Akhir-akhir ini banyak berita di TV yang menarik. Mulai dari sidang yang awalnya terbuka terus tertutup. Ketebak sekali. Lalu ada satu berita ini yang agak menggelitik dan saya dengan berat hati memberikan ini :

facepalm
                                       
Beritanya adalah kecelakaan metro mini yang ditabrak KA gara-gara metro mini main nyelonong aja pas palang pintu perlintasan udah tertutup. Bukan beritanya yang saya beri facepalm, tapi sebuah stasiun TV yang menayangkan berita semaca live report dari tempat kejadian. Reporter dari acara berita itu bilang sesuatu yang intinya "Anda dapat melihat pintu palang ini hanya menutup tiga perempat bagian saja dari lebar jalan seluruhnya, jadi si bus ini bisa nyelonong". Ah. Seriusan? Sekarang palang tiga perempat itu yang salah? Gara-gara palang itu si bus akhirnya bisa main nyelonong ketika sebuah kereta sedang melintas? Oh come on...

Kejadian gini sering banget terjadi dan entah kenapa banyak dari kita selalu menyalahkan pemerintah karena nggak memberi pintu-pintu perlintasan KA dengan palang yang sesuai. Atau malah nggak dikasih palang sama sekali. Hal ini seharusnya bisa dihindari dan kita nggak perlu menyalahkan palang pintu, pemerintah, atau siapa-siapa. Udah jelas-jelas palangnya tertutup, ada bunyi sirine, tandanya ada kereta yang mau lewat. Tandanya kita yang ngantri di belakang pintu palang nggak boleh lewat. Mau palangnya tiga perempat, separo, segede monas, pokoknya kalo udah nutup tandanya sama : nggak boleh lewat. Kalo masih nyelonong aja ya.. jangan nyalahin palangnya.

Kesadaran kita akan keselamatan sebenernya yang harus disalahkan. Kita masih sering nggak disiplin, terutama ketika berkendara deket-deket perlintasan rel kereta. Di Malang sebenernya sering juga saya lihat beberapa orang nyelonong aja pas palang pintu perlintasan KA udah nutup. Saya kadang berpikir apa mereka nggak takut ya kena magnet rel, mesin motornya berhenti tiba-tiba dan mereka nggak bisa kabur dari atas situ? Dan skenario terburuknya emang ketabrak kereta. Apa mereka nggak punya keluarga di rumah yang nungguin mereka, kerjaan yang harus diselesaikan, temen-temen yang pengen ngajak jalan bareng, pacar yang sayang sama mereka.. *ups*.

Kita nggak bisa terus-terusan nyalahin pemerintah karena nggak bisa memberikan pelayanan yang lebih baik. Dalam hal ini menyalahkan pemerintah karena nggak bisa memberikan palang yang lebih baik. Keselamatan dan kenyamanan kita dan banyak orang lain di perjalanan itu sebenernya juga kewajiban diri kita sendiri. Kan kita bisa mematuhi aturan-aturan seperti pakai helm, menaati lampu lalu lintas, nggak nyelonong palang pintu rel KA pas udah tertutup. Daripada kita menyalahkan pemerintah karena nggak bisa ngasih palang pintu yang lebih baik, mending kita perbaiki kedisiplinan berkendara.

Tapi ya sudahlah.. Kasusnya sudah ditutup karena supir dan keneknya turut menjadi korban dalam tragedi ini. Tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Semoga para korban mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, keluarga yang ditinggalkan terus diberi ketabahan. Semoga kita sebagai pengguna jalan bisa belajar dari kejadian ini agar lebih hati-hati, terutama ketika kita membawa orang lain dalam tumpangan kita. Amin.

Oct 29, 2015

I Don't Want You To Know Me

Dua minggu terakhir ini entah bagaimana pikiran saya lari ke mana-mana, mulai dari tugas lalu lari ke buku-buku lalu ke pikiran-pikiran random yang gatau apa, dan pada seseorang. Suatu hari di dua minggu lalu, saya tertarik pada seseorang.

Tidak kenal. Hanya tau nama. Dan sudah, begitu saja.

Lucu sebenarnya, karena pas putus dengan mantan dulu pernah sok-sok berteguh hati akan mengesampingkan hal-hal menye macam ini. Tapi Tuhan Maha Membolak-balikkan Hati Hamba-Nya. Dia tidak hanya punya cara untuk membuat dua orang bertemu , tapi juga cara misterius untuk membuat seseorang jatuh cinta tanpa membuat yang dijatuhi merasakan hal yang sama.

Tidak ada yang saya khawatirkan tentang orang ini sih. Karena alur cerita macam ini yang berlaku untuk saya selalu sama. Ketika saya suka seseorang, dia akan melihat orang lain, suka orang lain,  melihat saya dari sisi yang tidak cantik (dan memang tidak cantik, tidak ada gunanya berpura-pura), dan kemudian jijik. Selalu begitu, mungkin sejak awal, jadi bagian akhirnya mudah ditebak. Andai kata sebuah film, film saya hanya akan meledak di tiga hari pertama pemutarannya dan sepi penonton di akhir minggu. Jadi jujur saja, tidak ada yang saya harapkan.

Saya kembali duduk di bangku penonton, menikmati rasanya memandang seseorang dari jauh seperti nonton ludruk, dan belajar bahagia. Yang ini, sampai sini saja. Jangan sampai dia tahu saya. Dia tak akan suka kalau saya suka dia.

Oct 17, 2015

Complain



Yak, saya siap dihina karena tidak mempersiapkan ujian dengan baik, tapi saya tidak mengira pertanyaan itu akan dikeluarkan, simply because it was totally unpredictable. Sebagai anak bahasa saya sendiri merasa malu karena LUPA sama pengertian ketiga hal itu wkwk. Sebenernya nggak lupa, cuma..... gatau kata-kata yang tepat untuk menuliskan jawaban *ngeles*. Btw mahasiswa mengeluh kan boleh kan yaaa?

Oct 14, 2015

Perempuan Perrrrrkasa

Awalnya, diskusi dimulai dari psikologi sastra tapi entah kenapa larinya jadi ke masalah 'perempuan' dan sedikit bawa-bawa feminisme. Kemudian sang dosen cerita (note : dosennya perempuan) bahwa sebagai perempuan kita juga harus kuat, tetapi gambaran beliau tentang perempuan perkasa itu ternyata macam jatuh dari genteng, manjat pohon, 'tomboy', atau mungkin kalo yang agak keren dikit adalah istri-istri yang kuat 'menderita' dalam rumah tangga yang berantakan atau suami yang berpoligami.

Di sini saya merasa ada sedikit perbedaan pengertian antara beliau (yang saya yakin sudah sangat expert dalam bidangnya) dengan saya (yang baru mahasiswa, ehem, semester tiga) tentang 'perempuan perkasa'. Bagi saya perempuan perkasa adalah mereka yang nggak cuma bisa melakukan apa yang laki-laki bisa, tapi juga dia perempuan yang mentally (and fine, physically) tangguh. Perempuan tangguh juga bukan hanya mereka yang sudah punya suami namun sayang suaminya selingkuh, berpoligami, atau suaminya suka main tangan.

Perempuan dalam gambaran seperti itu sudah terlalu klise. Too overrated. Entahlah, tapi saya merasa justru wanita-wanita yang begitu mencolok dengan cerita 'kasihan saya, suami saya selingkuh' itu agak sedikit tidak sedap dirasa. Ok mereka berkorban tidak hanya fisik yang dapat diobati, tapi juga berkorban perasaan yang susah diobati. Apa yang hendak mereka buktikan? 'Kuat' atau 'nature perempuan yang lembut, loyal, pemaaf, lemah di hadapan pria dan karena itu berusaha (atau malah bisa) bertahan dengan kondisi demikian, dan karena itu juga disebut juga kuat dan perkasa, tidak terkalahkan oleh pria'?

Ok, mereka juga para perempuan perkasa. Tapi harus ada sesuatu lain yang membuat dia menjadi 'perempuan sangat perkasa' yang lebih tangguh. Seperti Kartini, Dewi Sartika, Margaret Thatcher, Joan D'Arc, Florence Nightingale, Marie Curie, Queen Victoria, Eleanor Roosevelt, Anne Frank, Harriet Tubman, dan Agatha Christie, dan buanyak wanita-wanita perkasa lain, saya pikir mereka tidak hanya survive dalam masalah rumah tangga tapi mereka juga bisa melakukan sesuatu yang lebih besar dan lebih baik untuk banyak orang. Perempuan yang punya kekuatan seperti mereka itu yang menurut saya lebih berhak disebut perempuan perkasa.

Ketika sedang senggang di kelas (bosan, misalnya) saya diam-diam membuat coretan ngawur. Dan saya menulis tentang masalah ini dengan mengambil contoh.... Cinderella dan Mulan. Yea another cliche.

"Rather than Cinderella who survives her miserable life with her stepmom and sisters, I'd prefer be Mulan who fights in a battle.

Cinderella is a strong girl but Mulan describes my definition of 'iron lady'. Mulan freed China from a great danger and finally married General Shang while Cinderella defeated her stepsisters and lived happily ever after with her prince. Both get a prince in different way, but life isn't always about getting a prince anyway.

The other difference is that Mulan is a legendary woman warrior while Cinderella is only a fairy tale character."

Yah, ngomongin masalah perempuan emang nggak ada habisnya.

Jum'at lalu di kelas saya ada mbak-mbak yang (kayaknya) dari golongan Islam radikal datang 'berdakwah' di kelas pagi-pagi selagi kelas hanya berisi lima orang. Dia bicara tentang perempuan, dan yang saya tangkap malah seakan-akan dia ngejudge kalo perempuan bekerja itu dosa banget. Well okay, perempuan itu tulang rusuk bukan tulang punggung, tapi perempuan punya kesempatan mengembangkan diri dan hal itu tidak selalu bisa didapat ketika perempuan hanya menjalankan satu fungsi : ibu. Ibu di rumah, ngurus anak, ngurus suami, ngurus rumah, dan ketika suaminya 'nakal' dia cuma jadi sasaran pukulan, dia hanya bisa menahan diri karena dia perempuan. Dia tidak punya kesempatan melawan karena melawan suami itu dosa. Ya kapan majunya perempuan kalo kaya gitu?

Saya tidak menghina atau merendahkan peran ibu, no. Ibu itu penting, ibu itu sakral dan itu benar. Tapi peran ini yang kadang membuat perempuan enggan untuk mengembangkan diri dan akhirnya diremehkan juga.

Saya jadi ingat tentang picture yang kemaren dulu dibagi salah satu account di Line. Isinya tentang seorang pria yang ingin istrinya bekerja, kemudian teman si pria ini bilang 'yah, kalo wanitanya juga kerja, lumayanlah bisa mengatasi masalah finansial, nambah-nambah penghasilan', tapi kemudian si pria bilang 'no, saya tidak menganjurkan istri saya bekerja karena uang, tapi dia berhak atas pengalaman, pengetahuan, dan kesempatan untuk mengembangkan dirinya di jaman yang semakin modern ini. Kalo dia dapat uang dari kerja, itu uang dia, bukan hak saya. Saya yang tetap tanggung jawab atas nafkah dalam keluarga, bukan dia yang tanggung jawab'.

Don't you just love this kind of guy?! Jaman sekarang jarang ada cowok mau sama cewek pinter, maunya cewek cantik, jago masak, jago nyenenging cowoknya. Cewek yang kelewat pinter biasanya nggak bisa dipamerin ke temen, nggak enak dilihat, dan cupu deh. Biasanya malah ada cowok yang gamau pacaran sama cewek pinter gara-gara ntar kalah pinter, kalah wibawa. Duuuuuh.

Ok, balik lagi. Jadi saya pikir perempuan harusnya nggak cuma punya peran ibu dan istri aja, dia punya peran di masyarakat sosialnya, bangsanya, dan agamanya. Ketika semua fungsinya bekerja dengan baik, that's what you called 'iron lady'. Wanita perkasa.

Ah, tapi apalah, ini cuma tulisan subjektif seorang idealis yang nyerempet feminis. Selamat menikmati.

Oct 2, 2015

Bicara Bodoh

Seharusnya sore ini juga mencicil tugas yang menumpuk, tapi nggak tau kenapa saya lebih tertarik menulis (atau lebih tepatnya mengeluhkan) tentang kalimat ini :

"Aku itu bodoh, ga bisa apa-apa, aku ngeprint sama fotokopi aja."

Duh, apa sih. Saya nggak ngerti sama orang yang kayak gini. Kalo ngeluh gitu, buka usaha fotokopian aja, nggak usah kuliah. Kalo cuma fotokopi dan ngeprint, anak SD jaman sekarang juga bisa. Nonton talkshow bisa kok ngerjakan tugas kelompok aja minta tugas yang paling ringan.

Saya punya prioritas kak. Orang tua saya sudah bayar UKT yang tidak sedikit supaya saya bisa kuliah satu semester saja, saya setidaknya harus menunjukkan hasil terbaik yang bisa saya beri untuk bisa sedikit meringankan beban orang tua. Ingatlah, dulu kita juga mengeluh tentang UKT yang mahal itu. Tapi ya sudahlah, saya yakin orang lain punya prioritas yang berbeda-beda.

Ya emang tugas kelompok itu gampang banget. Satu anak yang nyari buku, satu anak yang baca, satu anak yang ngetik, satu anak yang ngeprint dan fotokopi. Tapi semuanya mikir. Bukan satu anak aja yang mikir. Belum juga pegang buku, belum browsing di internet, udah minta ngeprint sama fotokopi duluan. Andaikata pemain cadangan sepak bola, sebelum masuk lapangan udah minta pulang duluan.

Enak, kan tugas kelompok?  Yang ngerjakan satu dua orang tapi yang dapet A tujuh orang.

Perkara alasan 'aku kan ga bisa apa-apa' itu juga apa sih. Saya ga paham. Saya juga sering bilang saya bodoh atau nggak bisa apa-apa, karena itu saya tahu saya harus bertanya, berpikir, dan berdiskusi, atau mencari, membaca, dan mencoba. Gunakan semua kata kerja yang bisa digunakan biar kita nggak tenggelam dalam kebodohan.

Nggak ada yang namanya orang bodoh atau orang pinter. Semua orang itu bodoh dan pinter, skala keduanya dalam diri seseorang aja yang beda. Orang bodoh yang pinter itu nggak mau nyerah dengan ketidaktahuannya. Orang pinter yang bodoh itu berhenti berusaha karena kepintarannya. Pramoedya juga pernah bilang :
“Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang-orang lain pandai”

Itu lho kenapa orang harus terus berpikir dan harus terus cari tau. Yah kalo udah ngerasa bodoh, terus nggak mau berusaha cari tau itu namanya males.

Jadi sebenernya orang yang bilang "Aku itu bodoh, ga bisa apa-apa, aku ngeprint sama fotokopi aja" itu (pura-pura) bodoh apa males? Ah gatau ding, mungkin itu cuma pikiran buruk saya. Setidaknya hal kayak gini jadi pelajaran buat saya pribadi, misal pas kerja kelompok, I should or would make myself useful. Kalo ngerjakan terus ternyata salah, ya kan bisa jadi pelajaran dan pengetahuan buat diri sendiri. Tidak ada pengetahuan yang sia-sia. Jangan jadikan 'bodoh' sebagai alasan kita nggak berpikir dan berusaha mencari tau. Alias malas.

Cogito, ergo Sum. Ich denke, also bin ich. Je pense, donc je suis. I think, therefore I am.  
Aku berpikir maka aku ada.



Sep 2, 2015

Pu-i-si

Menulis Puisi itu bisa gampang bisa susah, bos. Tanya Chairil Anwar! Anyway, di semester ini diajarin menulis puisi pake metode seru. Nulis puisi pake inisial. Kalo ga ngerti maksudnya, inget-inget deh dulu pas SMP pernah bikin surat cinta model beginian. Minimal pernah bikin biodata macem gini di binder temen. Kalo beneran ga ngerti, masa mudamu tidak berapi-api.

Berhubung puisi pertama nulis pake inisial nama panggilan, 10 menit selesai. Puisi kedua pake nama panggilan-yang-lebih-lengkap, sehari ga selesai. Pas (akhirnya) selesai, puisinya ga masuk akal, jadi mulai dari awal lagi tapi garapnya dari bawah :

M………
E……
I…..
D….
I….
N….
A….
Rupanya anak kucing.

Entah puisi macam apa yang berakhir dengan ‘Rupanya anak kucing’. Diam-diam saya bikin biodata.

Metode kedua pake lagu. Alias ‘metode ngebaperin mahasiswa’. Karena garap puisi in-a-rush, ngeshuffle lagu di HP, dapetnya Angin Pujaan Hujan - Payung Teduh. Beneran baper.

Lagu kedua pengen pake Fuer Elise-nya Beethoven. Ga dilanjutin karena ga ada liriknya. Dan baper.

Lagu ketiga berharap ga baper, jadi pake lagu Haus am See - Peter Fox. Lagunya nggak bikin baper, saya optimis. Mulai nge-list kata-kata terus disusun.

Und am Ende der Strasse steht ein Haus am See.
Orangenbaumblätter liegen auf dem Weg.
Ich hab 20 Kinder; meine Frau ist schön.
Alle kommen vorbei, ich brauch nie rauszugehen.


kata-kata yang di ambil :

‘Rumah di tepi danau’
‘20 anak’

Yea good! Sekarang bikin puisinya :

Ingatkah kau dulu
kita pernah duduk dan bicara
tentang masa depan :
sebuah rumah di tepi danau
dan dua puluh putra yang kau ingin punya

yaiks, baper.

Kesimpulan : Saya tidak (atau belum) punya bakat.

Aug 21, 2015

Eagle

Everyone has problems
No one can help, but yourself

Remember what Soe Hok Gie says :

The eagle flies alone

Jul 27, 2015

Tumblr.

You see I have a tumblr account. Okay, if you don't know, you can check 'My other side' section on the right part of this blog and click 'A girl' link.

Yea that's my tumblr.

And you may notice that I rarely update my tumblr. By 'rarely' I mean.. like.. once a year. I have reasons for this :

1. It needs aaaaaa veeery long time to load. I hate things that work that way.
2. I just prefer blogger than tumblr. Don't ask me about Wordpress *never use it*
3. Is this the time for you to ask me 'why don't you just delete your tumblr account then'? I don't know, but the answer is no.

Maybe there are too many creative people on tumblr and I feel like I don't belong there. But the very right reason for me is the #1. I will try to update it tho, maybe once in a month this time :p

Jul 26, 2015

Death of Annelies Mellema

'Just few hours after we recieved this last letter, a telegram arrived.

MY DEEPEST AND SAD CONDOLENCES ON THE PASSING AWAY OF MADAME ANNELIES. PANJI DARMAN.

And so the tension of all this time, which had utterly destroyed our nerves, reached the moment of explosion.'

Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations.
Translated by Max Lane 


Poor Annelies. In Netherlands, the land of her own ancestors, away from her beloved ones, the pretty princess died. I feel like giving her a hug and tell her not to die, but I'm nobody. All I can do is sitting here, trying not to sob, and keep reading... I'm sorry, Annelies.