Labels

Showing posts with label Ferien. Show all posts
Showing posts with label Ferien. Show all posts

Jan 27, 2018

Reliving Thai (Food)

*drum rolls meskipun ini sudah lewat awal tahuuuuun*

Aight peeps, let's do this. Karena saya tidak mau kalah dengan sahabat cantik saya yang kini jauh di sana dan perjanjian suci untuk collab dengannya, liat dia di sini nih : si cantik Celina <3

Topik 'highlighting 2017' saya sebenernya nggak spesial-spesial banget sih, biasa aja. Sampai saya ingat tentang hidup saya yang warbiyasah enak di Thailand, terutama karena makanannya. Jadi saya pengen 'reliving 2017 memories' lewat makanan Thai.

Oh btw this is gonna be a long thread, jadi bersabarlah.

Awalnya, saya kasih tau nih, di Thailand hidup saya memang amat sangat memahasiswa, you know what I mean. Saya harus ingat-ingat tujuan saya ke sana itu bukan sekadar main-main dan jalan-jalan aja jadi saya harus pinter ngatur keuangan. Selama dua bulan saya sukses survive (tanpa ambil uang di ATM) hanya dengan uang cash sejumlah 10.000 baht (dengan kurs saat itu sekitar 4 juta).

Dengan uang itu saya juga bisa pergi ke Koh Samui, Koh Rat, Ban Khiriwong. jalan-jalan ke mall, sampai ke Penang, Malaysia. Sangat sulit menahan diri nggak jajan dan beli barang-barang lucu yang ada di sana, secara di sana ada banyak snack, bahan masakan dan makanan, benda-benda lucu macam ATK, baju, aksesoris, dompet, kaos kaki, sampai peralatan make-up yang sulit dicari di Indonesia.

But I survived. Semua karena.... pasar malam hadir mengubah segalanya menjadi lebih indah. Pasar malam ini yang membantu saya hidup dengan tenteram dan aman karena banyak makanan enak dan harga yang cukup murah di sini. FYI, pasar ini nggak ada setiap malem dan tempatnya pindah-pindah. Foto-foto di bawah ini diambil di pasar Senin, pasar malem yang ada di dalam kampus (tepatnya deket asrama-asrama dan gedung aktivitas mahasiswa, strategis banget bukan?) dan ada pada hari Senin yang nggak libur. Jadi kalau liburan ya pasarnya tutup, meskipun ada mahasiswa yang tetep tinggal di asrama waktu itu.




Pasar ini selalu saya tunggu-tunggu karena hampir pasti saya akan menggelontorkan uang macam orang kalap dan memaafkan diri sendiri setelahnya. Ada lagi pasar lain dan ada pas weekend tapi mungkin saya hanya beberapa kali pergi ke sana karena males, jauh banget dari asrama.

Bicara pasar, bicara makanan. Nyaris 75%-100% uang saya di pasar habis untuk makanan. Sisanya, 25%, cuma untuk kaos kaki lucu gambar totoro warna pink, satu lagi gambar panda, dan satu lagi gambar kucing warna biru. Tapi makanan adalah obsesi pertama saya. 

Tom Yum Goong adalah salah satu makanan Thailand pertama saya. Sebelumnya saya nggak pernah makan tom yum. Well, kalau indomie rasa tom yum dulu sudah cukup legit dianggap makanan Thai, berarti pernah. Anyway, saya akhirnya melihat rupa dan merasakan tom yum goong. Pertama kalinya juga dalam hidup, saya melihat udang segede nyaris sekepalan tangan, 4 ekor di dalam panci. Tuhan Maha Besar. Sayang saya malu mengabadikan momen ini karena selain takut dianggap norak, saya makan dengan dosen-dosen yang sangat saya hormati. 

Dalam perkembangan hidup saya di Thailand, saya menemukan fakta bahwa tom yum bukan cuma goong (udang), tapi juga ayam. Namanya jadi Tom Yum Kai dan harganya lebih murah. Satu piring nasi, satu mangkok kecil tom yum ayam jamur, dan satu lauk lain harganya 25 baht (10k) aja. Dan itu banyaaaaak banget sampe kadang jatah makan siang saya itu takmasukkan ke kotak bekal untuk simpenan makan malam. Meskipun malemnya ya beli makan lagi ehehehe.

Nasi, Tom Yum Kai, dan keong
Tom Yum mengingatkan saya tentang pantai yang tenang di sebuah restoran hari pertama saya menginjakkan kaki di the country of smiles itu dan meredakan rasa sedih saya yang jauh dari rumah. Atau obrolan yang sangat sulit dilakukan karena kendala bahasa, tapi tetap terasa menyenangkan di kantin dengan mahasiswa lokal. Juga ibu-ibu Melayu yang berteriak 'Adeeeek! Makan?' setiap melihat saya dan teman-teman muncul di antara keramaian. Beliau langsung mengambil piring, melihat saya, seakan tahu saya akan pesan Tom Yum Kai. Tom Yum is the feeling of being understood. 

Berikutnya, Kwetiau (dalam ini saya akan sebut bakso Thailand untuk membedakannya dengan Pad Thai, kwetiau goreng). Makanan ini setan bener deh. Ini makanan yang memberi saya pengalaman sakit perut luar biasa dan perasaan rindu rumah yang kurang ajar. Pertama kali lihat makanan ini saya seneng banget karena akhirnya saya makan bakso juga. Penampakannya kurang lebih seperti ini :

ini namanya kwetiau
Saya lahap sekali makan kwetiau, rasanya lumayan kaya bakso di Indonesia cuma micinnya lebih sedikit. Makanan ini biasanya saya campur cabe bubuk dan gula (iya bener gula pasir), tapi sebenernya ada banyak pilihan, misalnya sambel ikan, chili pasta, garam, dan lain-lain. Habis makan saya kena diare, tapi nggak kapok, dong. Besok-besoknya saya beli kwetiau di lapak lain. Tiga kali makan efeknya sama, buang air berlebihan tapi lama-lama efeknya berkurang. Semakin sedikit efeknya, semakin banyak saya menambahkan cabe bubuk. 

Kwetiau ini mengurangi rasa sakit hati saya atas nasi goreng keasinan yang saya makan di restoran pinggir jalan pas otw pulang dari Koh Samui ke Nakhon si Thammarat. Karena itu, saya memaksa diri saya makan makanan ini meskipun efek bagi perut kurang baik. Kwetiau ini homesick healer, penyemangat makan dan hidup macam mie setan lvl 10.

Selanjutnya, Pad Thai atau kwetiau goreng. Sayangnya, cuma sekali-dua kali saya makan Pad Thai di Thailand karena warung yang katanya Pad Thai-nya enak adalah warung yang menjual makanan non-halal. Tapi akhirnya saya makan Pad Thai di sebuah tempat lesehan pinggir jalan, yang tempatnya mengingatkan saya pada abang-abang penjual nasi goreng di pinggir jalan yang ramai dan pembelinya makan sambil lesehan di trotoar waktu saya masih umur 3 tahun. Persis. Pad Thai yang saya makan di situ harganya agak mahal, 50 baht, karena isinya campur-campur (ayam, keong, dan udang). Sayang juga saya nggak dapat fotonya karena makan di luar itu gelap banget dan saya terlalu malu pakai flash.

'Pad Thai' berikutnya saya temukan di pasar kota. Saya bener-bener takjub banget dengan 'Pad Thai' satu ini karena cara penyajiannya beda. Saya sampai nggak yakin ini Pad Thai tapi karena sama-sama mie dan digoreng, yah.. well. Oke, jadi ada beberapa bahan makanan yang jadi side dish, misalnya wortel, timun, tauge, cabe, sampai kembang-kembangan yang saya nggak tahu itu apa tapi rasanya enak.

  


Dan cara makannya begini, di atas pelepah jantung pisang. Warbiyasah. Masih gedean tangan saya daripada pelepah jantung pisangnya. Makanan ini secara mengejutkan enak dan muraaah (lupa sih sebenernya, kayaknya 20 baht atau 15 baht).


Tapi ada 'Pad Thai' enak di luar Thailand, dengan asumsi Pad Thai adalah kwetiau goreng. Makanan ini dijual oleh seorang ibu asal Medan di Penang, Malaysia.

enaaaaaaaaak banget sungguh
'Pad Thai' ini dibuat dengan keramahan khas orang Indonesia. Rasa rumah. Pad Thai selalu mengingatkan saya tentang malam di Thailand yang hampir setiap hari saya habiskan di luar kamar. Entah sekadar nongkrong atau jalan-jalan yang luar biasa capek di Penang tapi senang. Pad Thai is like that one nice feeling that creeps up into your head and heart in the end of the day no matter how tired or upset you are that day.

Okay this one would be cliche. Makanan ini mengingatkan saya tentang hari-hari di Thailand yang penuh dengan beragam perasaan. Tapi kalau dirasa dan dipikirkan, kayaknya kita bisa lihat warna-warna yang muncul di kepala. Say hi to Nasi Kerabu.


Mhm, nasinya warna ungu dan yang kalian lihat di gambar, semua warna itu 100% alami tanpa bahan pewarna tekstil. Pas saya cek di google harusnya warna biru sih nasinya tapi buat saya ungu juga masih bisa berterima kok. Rasanya seperti sajiannya yang bercampur. Tidak seperti urap-urap, nasi ini penuh sayuran yang lebih beda-beda lagi dan rasanya saling ditubrukkan. Wortel + tauge + kol ungu + mangga muda + nasi ungu + bubuk ikan. I gave up on the bean sprouts karena ga kuat dengan rasanya, entah kenapa rasa tauge Thailand itu lebih nendang dari tauge di rumah. Selain ukurannya lebih besar, taugenya punya rasa yang sangaaaat kuat.

Nasi Kerabu ini konon aslinya makanan dari Malaysia. Kebetulan yang jual sebenernya temen sekaligus mahasiswa kami yang belajar bahasa Indonesia dengan latar belakang Melayu. Namanya mas Irfan. Mas Irfan ini biasanya jualan Nasi Kerabu di pasar Senin atau pasar depan Lotus Tha Sala, Nakhon si Thammarat. Jaminan enak, bukan karena temen atau apa, tapi emang beneran enak kok! xD

Nah, kalau makanan paling ekstrem yang pernah saya coba mungkin ini.


Saya nggak yakin itu apa tapi sepertinya ulat, mungkin kalau di Indonesia hampir mirip ulat sagu. Saya nggak akan memperpanjang bagian ini karena sempat muncul pertanyaan apakah *boleh* dimakan atau nggak dan 'kenapa mau makan begituan?'. Jawabannya, pertama, saya penasaran. Kedua, saya nggak mau membatasi diri pada hal baru yang tabu dan nggak melibatkan orang lain kecuali diri saya sendiri. Ketika itu saya berdiri cukup lama di depan lapak penjual makanan 'nggak biasa' ini dan bolak-balik mondar-mandir karena saya terkesima dengan apa yang saya lihat secara langsung (dulu cuma tau di TV): ulat dan serangga lain yang sebenernya kaya akan protein.

Karena saya udah di sana, sekalian aja yakan? Udah basah, sekalianlah mandi. Udah ngeliatin dagangan orang dan diliatin yang punya dagangan, ya masa ga beli. Akhirnya saya beranikan diri beli, 10 baht. Atas bantuan seorang teman, saya berhasil mendapatkan mixed insects. Diramu dengan daun jeruk dan bumbu-bumbuan lain, rasanya sebenernya mirip kacang yang kenyal dan crunchy dari bagian kulitnya. Meskipun setelah itu saya nggak pernah beli lagi, setidaknya saya bisa mencatat ini sebagai sebuah pencapaian karena telah menguji diri saya sampai di titik 'hyeeeek' yang maksimal dan pada akhirnya, mengatasinya. 

Berikutnya, snack favorit yang paling favorit. My number 1. Ada dua sih. Take a look at these babies.

 

Pertama, Mango Sticky Rice (Khao Niao Mamuang). My love...
Saya pernah menulis tentang ini sebelumnya, deh. Tentang cinta saya yang pupus lalu terganti oleh Khao Niao Mamuang. Hmm, makanan ini bisa bikin saya patah hati juga sih gara-gara tiap mau beli pasti udah habis duluan dan akhirnya saya pulang dengan agak sedikit dongkol membayangkan rasa mangga yang manis, bercampur dengan nasi ketan dan kuah santan kental yang gurih. Nikmat Tuhan mana yang berani saya dustakan?

Kedua, cintaku yang lain, Thong Yot atau Gold Egg-Yolk Drops. Penjelasan tentang makanan ini bisa dibaca di wikipedia karena sebagai penikmat, saya kurang paham dengan sejarah panjang makanan ini.


Saya melihat makanan ini di suatu sore yang cerah, sedang dikerubungi lebah (yang awalnya saya kira lalat besar). Ibu penjual memperbolehkan saya mencoba, sebuah keuntungan menjadi 'orang asing' di luar negeri. Lalu saya memutuskan beli lumayan banyak. Rasanya manis sekali, saking manisnya muncul rasa pahit sedikit, tahu kan rasa yang begitu? Kalau ditekan di antara lidah dan langit-langit, ada rasa seperti madu yang keluar dan tekstur lembut yang lucu dari makanan ini. Entah itu madu atau gula atau sirup. Inilah alasan ada rasa manis-pahit yang muncul dan makanan ini dikerubungi lebah.

Aneh memang, tapi dua makanan ini yang paling saya suka. Mungkin karena setiap saya makan Khao Niao Mamuang dan Thong Yot ada perasaan bahagia seperti orang jatuh cinta. Rasanya seperti duduk dengan orang yang kita suka dan mendengarkan dia bicara tentang banyak hal. Tulus, manis, dan menggembirakan.

Pada akhirnya banyak makanan lain yang tidak bisa saya foto satu-satu karena saya terlalu sibuk merayakan hidup. Misalnya kerupuk ikan Narathiwat yang belum saya temukan bandingannya dengan kerupuk ikan di Indonesia, kerupuk yang mengingatkan saya tentang kebaikan orang Thai. Ada juga biskuit *nggak boleh sebut merk* rasa kiwi-apel yang belum beredar di Indonesia, Som Tam yang awalnya aneh di mulut tapi lama-lama bikin nagih, Thai tea yang disajikan dalam gelas plastik segede mangkok, buah-buahan aneka ragam dan disajikan sedemikian rupa, marshmellow murah yang enak buanget, sampai street food macam cilok, sosis, dan tempura yang sulit dijumpai di Malang. Masih banyak lagi, tapi highlightnya cukup sampai sini dulu.

Pada akhirnya juga saya bahagia dan bersyukur. Sungguh, tidak ada dusta. 

Oct 23, 2017

Cintaku Padamu

Belum habis saya kulum sisa saus di jari-jari bekas tempelan sosis ayam dan tahu ikan, saya tergoda kenikmatan lain. Nikmat cinta yang (pasti) hakiki dari segi rasa dan warna.

Rasanya saya pernah tahu rasa ini. Ketika dekat harumnya manis, ketika jauh tampaknya menggoda. Persis seperti seseorang yang sempat menawarkan diri jalan-jalan dengan saya akhir tahun ini tapi mengakhiri kalimat dengan 'Insya Allah'.

Pas sekali hari itu saya sedang patah hati. Si mantan gebetan ternyata dekat dengan perempuan lain. Kata 'dekat' dalam konteks sebuah hubungan biasanya sulit untuk didefinisikan. Dekat bisa berarti tidak ada jarak fisik, tidak ada jarak secara rohani, atau tidak ada jarak secara keduanya. Tidak ada jarak secara rohani juga maknanya berbeda-beda. Ada yang berarti batin dua pecinta merasa saling memiliki, tapi secara fisik tidak bisa bersatu. Ada yang merasa terhubung secara hati tapi malu-malu mengungkapkan.

Seperti judul puisi, dikatakan atau tidak dikatakan itu tetap cinta.

Saya tahu diri, lalu undur diri dari hidupnya. Kembali hidup dengan apa yang ada. Tapi saya diam-diam masih bahagia, karena di ujung sana ada harum lain dan warna lain yang menggoda. Rasa ini lengkap dengan gurih santan kental yang tidak terlalu pekat dan renyah remah nasi ketan. Cinta saya waktu itu hakiki, bulat penuh. Setelah hati saya utuh lagi, saya deklarasikan cintaku padamu, Mango Sticky Rice.




*Catatan :
Mango Sticky Rice (nasi ketan mangga atau khao niao mamuangdi negara asalnya, Thailand, dijual di pasar-pasar tradisional dengan harga 20 THB, jelas lebih murah daripada di kampung halaman saya, Malang. Rasanya beneran enak, dengan campuran potongan mangga yang manis, nasi ketan yang tidak terlalu keras dan rasanya manis-gurih, dan siraman kuah santan gurih yang agak kental. Bikin kenyang.

Jun 23, 2014

Jogja (Lagi)

Dalam dua tahun terkakhir, sudah 3 kali saya berkunjung ke Jogja. Yang terakhir ini beda. Saya datang untuk ujian tulis dan.... reunian :" Nggak lama sih, cuma dua hari satu malam.

Jadi, ceritanya saya dan Sasha (temen bimbel yang baru kenal satu bulan!), berangkat ke Jogja buat tes mandiri di salah satu universitas. Kami berangkat naik kereta ke Surabaya dulu terus baru lanjut ke Jogja. Kenapa? Soalnya lebih murah kereta Surabaya-Jogja daripada Malang-Jogja. Bedanya dua kali lipat -___-
Saya sama Sasha nggak nginep bareng, kami nebeng di kosan temen masing-masing. Dalam hal ini, saya mempercayakan hidup saya pada Golda, yang sudah rela kosannya saya santroni.

It was such a disaster. Saya sakit di Jogja. Malem pertama itu saya muntah-muntah. Jangan tanya saya kenapa, saya sendiri nggak tau. Beberapa jam sebelum tidur, kegiatan saya normal-normal aja : mandi, solat, makan, belajar, dan sempet ngobrol-ngobrol heboh sama Golda. Tapi, pas mau tidur itulah.. bencana itu terjadi. Jadi tiap saya tidur telentang, 180 derajat, rasanya makanan itu naik ke tenggorokan. Awalnya nggak saya hiraukan, paling cuma mual biasa dan saya udah setengah tidur. Nah kok begitu melek, itu makanan tumpah semua... kacau... kasur, kosan Golda, semua.... T.T

Kejadian itu nggak sekali lho, hampir setengah jam sekali saya muntah dan pemicunya sama : tidur telentang 180 derajat. Merem dikit, hoek, tidur lagi, hoek lagi. Kalo saya menyimpulkan sendiri nih ya, kayaknya itu gara-gara kelamaan duduk di kereta yang kursinya 90 derajat dan saya nggak bisa rileks, kecapekan, dan tegang gara-gara besoknya mau ujian. Golda sampe sedih sendiri liat saya kayak gitu. Tapi sungguh.. dia malaikat! Dia sampe nggak jadi tidur buat ngurusin saya. Golda.. you're not my tante anymore, kamu mamaku sekarang!!!!

Besoknya, hari ujian, saya sengaja nggak sarapan. Saya cuma makan roti yang saya bawa dari rumah. Saya khawatir aja ntar kalo saya makan banyak, saya bakal muntah lagi. Pas pengawasnya naruh soal di atas meja saya, terus saya muntahin soalnya gitu.. iyuh! Bikin malu aja.

Alhamdulillah sih, saya nggak kenapa-kenapa lagi setelah itu. Habis tes, saya langsung diajak EinBlickers Jogja kumpul. Yes! EinBlickers tersayang! Rasanya kangen banget setahun nggak ketemu, akhirnya bisa kesampaian ketemuan di Jogja. Saya bisa ketemu Clara! Saya nggak pernah liat dia lagi semenjak pulang dari Bali 2 tahun lalu. Ada Chika juga yang emang domisili Jogja. Selalu, setiap EinBlickers kumpul.. pasti rame, ngobrol-ngobrol heboh, foto-foto. Ah, what a good day~


All my loving goes to Golda! Super mommy! Makasi buat motivasinya selama ini, sampe rela tukeran novel. She made me promise her, that in a month or two I will be back to Jogja again, buat kuliah dan buat balikin novel dia. Atau dia yang harus ke Malang buat balikin Tokyo Zodiac Murder-ku! Saya berharap saya saja yang menuhi janji ke dia :" Thank you juga Clara dan Chika yang rela jauh-jauh dateng buat nemuin saya, jujur... kurang lamaaaa!!! Thank you Sasha, yang selama di kereta ngajarin saya ekonomi, minjemin buku latian soal STAN. Thank you semua temen-temen di Malang yang udah kirim doa :" You all are some people I love so much!

May 31, 2014

Salam dari Atas Eropa Utara

Tahun lalu saya pernah posting foto-foto langit dari atas Pulau Jawa di sini. Pada postingan waktu itu, saya bilang pengen lihat foto langit dari atas Finlandia. Memanfaatkan pacar, saya bilang kalo nanti dia ke Indonesia, fotokan langitnya dari pesawat.

Setahun kemudian, pacar saya nggak jadi terbang ke Indonesia, tapi dia terbang ke Perancis. Sebel banget karena dia harus ada di Paris selama beberapa hari, jadi dia nggak bisa nemenin ngobrol di skype selama beberapa hari. Termasuk hari ulang tahun saya.

Tapi ternyata saya salah. Tanggal 30, jam 6 pagi WIB atau jam 3an waktu Perancis, dia niatin online lewat HP, yang saya gatau buat online itu bayar berapa. Dia ngucapin birthday wishes dan sedikit gombalan. Luntur sudah rasa kesal saya. Tapi ternyata belum selesai..

Pulang dari Perancis, dia kirim foto beberapa foto untuk saya. Termasuk foto ini

above Finland
Dia bilang ini hadiah ulang tahun, karena nggak bisa nemenin pas tanggal 30 kemarin. Terharu, pacar saya ternyata ingat ulang tahun saya dan ingat pesanan saya :"

Apr 11, 2014

Two Years Ago Today..

Kalo diinget-inget sih, tanggal ini 2 tahun lalu saya nangis-nangis dalam perjalanan dari hotel ke bandara Ngurah Rai. Nangis-nangis depan hotel sambil ngeliat kebelakang, ada teman-teman yang dadah-dadah. Mereka nangis juga. Saya berharap kalo ada acara kumpul-kumpul lagi, saya nggak pulang paling awal.

Ternyata pulang nggak paling awal juga nggak enak. Ngeliat temen yang pulang duluan, ngedadahin mereka dari pintu hotel sambil mikir kapan yaaa bisa ketemu lagi? Belum lagi nangis-nangisnya jauh lebih heboh. Pelukannya jauh lebih erat.

Kayaknya sudah terlalu sering saya cerita tentang EinBlick di sini. Saya juga rindu Silke. Kerstin juga! Ah saya kangen semua. Kita cuma ketemu 10 hari. Plus 5 hari di Jakarta. Beberapa dari kita pernah ketemu di acara lain. 




Tiba-tiba keinget gimana pas kejebak di lift hotel gara-gara Theia kepo sama pintu lift yang sedikit kebuka. Dia langsung aja gitu narik pintu itu sampe kebuka makin lebar dikit. Lift tiba-tiba berhenti. Haidar bilang "Jangan panik! Jangan panik! Tenang, tenaaang!". Semua dalam lift cuma bisa ngeliatin dia. 

Tiba-tiba juga keinget gimana saya dan Rifa bertingkah dalem kamar 410. Yang males bangun tidur lah, yang lari-larian dalem kamar sambil bilang "Aku seksiiiiiii!", yang curhat-curhatan sambil dandan depan kaca segala. Rasanya kangeeen banget. Pengen diingetin solat lagi sama tetehku itu. 

Tiba-tiba keinget juga sama sarapan dan makan ala EinBlick. Tiap pagi menunya nasi goreng pake sosis melulu. Kalo ala EinBlick, nasi goreng+sosis, dalem piring yang sama dikasih pancake juga. Selai pancakenya ada yang nanas, bluberi, stroberi, dan favorit saya madu. Tiap jam 10 dan jam 1 ada snack, dan inilah snack paling uenak yang pernah saya makan : pisang keju. Hah pisang keju? Pisang keju ini lain daripada yang lain. Lebih bercita rasa. Pernah juga dikasih makan malem ayam betutu satu ekor per orang. Wow, itu juga makan malam paling ekstrim yang pernah saya makan.

Kita ber-20 belajar banyak hal bareng-bareng. Tentang kerja tim. Bikin film. Bikin cerita yang menarik. Kami melihat hasil kerja negara lain. Belajar tentang pertemanan. Kita suka bercanda-bercanda gila. Tukar cerita. Saling ngasih motivasi. Curhat. Tukar ilmu juga. Pulang-pulang saya malah makin cinta sama Indonesia.

Ketika pulang, baru sampe bandara Abdul Rachman Saleh, saya dapet SMS dari Thea yang sukses bikin saya nangis lagi. Isinya 'Aku denger berita keberangkatan pesawat Malang. Sayonara kawan, kapan-kapan kita ketemu lagi'.

Sayang banget setelah dari Bali kita nggak pernah kumpul lengkap lagi. Di Jakarta cuma 16 yang datang. Bahkan kayaknya nggak bakal pernah lengkap lagi. Dany udah nggak ada di tengah-tengah kami. Fisiknya nggak ada, tapi semua tentang dia.. kenangan, motivasi, semangat, bercandaan, cerita, doa, harapan, tawa, sedih, perhatian dia tetep ada di hati kami.

EinBilck bukan cuma temen. Mereka udah kayak keluarga saya. Saya punya bapak, mama, adek, kakak, sampe anak! 

Makasih Gaby, Ken, Ian, Golda, Iqbal, Dhika, Gita, Salma, Rifa, Tiara, Haidar, Aletheia, Marsha, Kiky, Priska, Chika, Julia, Clara, Dany. Makasih buat semuanya! Happy 2nd Anniversary!

Dec 31, 2013

2013 Highlights!

Whoa, tahun ini rasanya kayak angin. Woooossh gitu, lewat. Tiba-tiba udah nggak ada anginnya, nggak kerasa lagi. Abis. Krik *gagal bikin filosofi*. Kayaknya baru kemaren gitu, banyak yang bilang kiamat bakal terjadi di tahun 2012, sampe ada filmnya segala. Lalu datanglah tahun 2013 like a boss nggak ada apa-apa. Kiamat nggak terjadi tahun itu.

Tahun 2013 ini, saya masuk usia 18 tahun, tapi tingkah tetep kayak anak 10 tahun. Gapapa lah, young inside old outside. Mau young kek, old kek, nggak masalah asal nggak expired aja. Dan Alhamdulillah-nya masih ada teman yang (mau) merayakan. Yang ngasih surprise. Yang ngucapin selamat secara langsung, lewat SMS, lewat Twitter, lewat Facebook. Makasih!!

Tahun 2013 saya lulus SMA juga. Wah, saya udah jadi warga negara yang baik dong, ya. Kan, udah menempuh pendidikan dasar 12 tahun. Sayangnya saya harus pending kuliah setahun, hiks! Tapi hal itu nggak jadi penghalang, saya tetep mau kuliah.. tahun 2014! Amin!

Ketika akhirnya lulus, saya inget-inget lagi masa SMA. Sedih harus pisah sama temen-temen, harus ninggalin tempat yang selama 3 tahun jadi tempat tujuan belajar. Sedih harus pamitan sama guru-guru yang udah jadi orang tua, pebimbing yang setia selama 3 tahun dengan sabar mengajar dan mengarahkan kami. Senang juga akhirnya satu kewajiban belajar udah selesai, senang bisa lihat teman-teman saya bisa masuk jurusan dan universitas yang mereka inginkan. Sahabat-sahabat saya, Camila sekarang lagi kuliah DKV yang dia pengen-pengenin banget, Celina juga udah di STAN. Temen-temen sekelas saya juga banyak yang keterima di PTN favorit. Semoga saya menyusul di tahun 2014, Amin!!

Tahun 2013, tahun jalan-jalan. Februari ke Jakarta, Mei ke Blitar, Juni ke Jogja, Desember ke Jogja juga. Alhamdulillah dikasih kesempatan liat-liat Jakarta setelah sekian lama nggak ke sana. Alhamdulillah bisa ke Blitar, ziarah ke makam presiden. Alhamdulillah bisa ke Jogja, jadi motivasi masuk UGM tahun 2014, Amin! Ada satu hal yang belum bisa tercapai : diving. Semoga nanti 2014 dikasih kesempatan bisa nyelam.

Tahun 2013, menambah temen-temen baru. Karena saya les di salah satu bimbel, saya bisa ketemu sama teman-teman dari berbagai kota (yang senasib dengan saya, pending kuliah). Ada yang dari Situbondo, Kediri, Surabaya, Jakarta, Lombok, yang dominan sih dari kota sendiri pasti.

Tahun 2013, ada yang pergi jauuuuuh sekali dan nggak bakal balik lagi. Dany. Semoga sekarang Dany sudah bahagia di Sisi-Nya. Saya yakin Dany sudah jauh lebih bahagia daripada di sini. EinBlick Indonesia berduka ditinggal Dany, tapi semangatnya, motivasinya, doanya, cita-citanya akan selalu kami kenang dan kami lanjutkan.

Tahun 2013, orang yang sama masih berada di sisi saya. Meskipun dia jauh di Finlandia sana, tapi setelah beberapa masalah yang pernah ada sudah terselesaikan, semuanya jadi jauh lebih mudah. Distance means so little when someone means so much. Saya belajar lebih sabar dan lebih menghargai.

I opened 2013 with tears but closed it with smiles. Alhamdulillah.

Dec 14, 2013

Dany

     Lieber Dany,
     Hai, Dan! Apa kabar? Aku yakin kamu udah jaaauh lebih baik sekarang dari sebelumnya. Dari semenjak kamu masuk rumah sakit sampe seminggu kemudian pasti tidurmu nggak nyenyak. Sekarang kamu udah nggak perlu pake alat-alat rumah sakit lagi, nggak ada perban lagi.

     Kami semua sibuk kuliah nih, Dan. Kecuali aku sama Chika. Chika kayaknya sibuk mau UN, aku sih sibuk les. Kamu tau aku pengen banget masuk UGM. Apalagi aku nggak keterima tahun ini. Harus berjuang lebih keras lagi ini! Doain ya! Temen-temen yang lain sibuk sama tugas, ada yang sibuk sama persiapan liburan, ada yang mau pulang kampung. Rempong, haha!

     Tapi tiap kali inget liburan, aku pengen kita bisa ngumpul bareng lagi. Sayang banget ya pas di Jakarta kita cuma ber-16. Harusnya 20, kan? Pas itu Iqbal sama Clara baru pulang dari Jerman jadi mereka harus pulang dulu ke rumah masing-masing. Ken masih di Jerman. Aletheia juga lagi ujian praktek jadi dia nggak bisa ikut. Untungnya di Jakarta pas itu Betreuyer kita gaul banget nggak sih? Kita bisa jalan-jalan malem, beli makanan-makanan pinggir jalan, sampe tidur sekamar rame-rame. Haha, coba kita bisa kayak gitu lagi..

Aug 26, 2013

Exploring Batu

Yuhuu.. Mumpung setahun jadi pengangguran yang baunya kayak pickles alias nggak pernah mandi, saya mendapatkan bantuan penghiburan diri dari dua teman EinBlick, Gaby dan Iqbal :3

Sabtu (24/08), Iqbal, yang sebenernya orang Surabaya tapi sukanya ngepoin daerah-daerah di Malang, berkunjung sebelum ospek. Dia naek kereta dari Surabaya ke Malang jam 5 pagi. Jam 8 kurang dia dengan tingkat kegantengan yang tidak direstui oleh siapapun turun di stasiun Kotabaru.

Awalnya, si Gaby, penganut frontalisme, memberikan option antara wisata ala pecinta alam kayak ke pantai kek, hiking kek, ke air terjun kek, ato wisata ala anak gaul : ngemall, nongkrong di kafe, nonton. Dua di antara tiga peserta wisata milih ke air terjun Coban Rondo :3

Meskipun kami bertiga anak sosialita, kemana-mana tetep ngangkot. Saya sudah pake pakaian lengkap plus sepatu kets dan ransel. Iqbal juga begitu, bawa ransel sama pake sendal crocs, gayanya udah kayak mau backpacking ke Myanmar. Gaby, yang basicnya anak mall, bawa tas cantik sama sendal, dikiranya kami bakal bergaol ke Matos.


Jul 7, 2013

Jogja 24hrs

Jogja, Juni 2013. Bukan untuk mencari kost karena saya keterima di universitas di Jogja, tapi saya ke sana buat menyembuhkan hati gara-gara ditolak lewat SNMPTN *tsaaah! -_-*

Sudah-sudah jangan mengungkit-ungkit luka lama :(


Jun 7, 2013

Oleh-oleh Jakarta

Satu lagi postingan yang pendingnya hampir satu dekade *alaaaaay huu*, dan baru aja bisa saya rilis sekarang -_-

Oke pertama jangan salah sangka dulu. Oleh-oleh belum tentu berupa makanan atau barang kan? Yang saya dapat dari Jakarta pada bulan Januari-awal Februari lalu, pertama selain perasaan senang karena bisa kumpul lagi sama anak-anak EinBlick, dan juga pengalaman baru untuk workshop kedua yaitu nulis artikel untuk blog.

Terkahir kali saya ke Jakarta itu tahun 2000-an, pas om saya pindahan dari Jakarta ke Banten. Baru ke Jakarta lagi setelah 12 tahunan. Ya ampun... Jakarta sudah banyak berubah *terharu* Deu, kolot banget deh.

Saya di Jakarta juga nggak lama. Cuma 5 hari, dan itupun udah padat banget sama kegiatan yang dirancang panitia *sok sibuk*. Nggak ada acara jalan-jalan sama sekali. Pengen sih jalan ke mana gitu. Jakarta gituuuu! Pengen nemenin Ian beli jaket di sebuah mall tapi gajadi gara-gara katanya jaket itu harganya 500ribu. Torok dong -_-

Tapi saya akhirnya menemukan sesuatu yang bisa saya jadikan oleh-oleh lain, minimal buat saya sendiri. Saya menemukan hal ini di dalam pesawat.


Jalan ke Blitar

Hello people! Hari ini saya pengen posting tentang acara jalan-jalan sehari ala Humaniore. Sebenernya udah sebulan yang lalu sih. Tapi ya sayang aja kalo foto-fotonya cuma disimpen di folder laptop atau FB. *alibi karena baru bisa posting sekarang*

*tarik napas dulu dikit soalnya bingung mau nulis apa*
Yak jadi habis UN kemaren, kami, anak-anak humaniore merencanakan liburan. Nggak jauh dari kota Malang juga sih sebenernya. Tepatnya ke kota Blitar.

Jadi ceritanya, kita 9 orang yang paling seksi se-kelas XII Bahasa (Arab, Yance, Fito, Caca, Adek, Silvi, Rosta, Yayuk, gue), merapat ke Blitar. Sebenernya motif saya ikutan ke Blitar cuma gara-gara naik keyeta api tuututtut :3 *alay*


Jun 29, 2012

Cerita dari Bali

I was leaving Bali few months ago, but my heart couldn't go. Ciaaah! Emang ya kalo kita udah cocok sama sesuatu kita bakalan betaaaah berlama-lama dan kegiatannya selalu keinget :')

Seperti cerita saya di post yang lalu lalu, saya ke Bali untuk sebuah acara workshop Film bernama EinBlick (A Sight). Tim kami sendiri bernama "EinBlick Indonesien". Agak telat sih, buat nyeritain ini tapi, buat saya nggak ada yang namanya terlambat *ngeles* :p

EinBlick Indonesien Team
Di Bali, saya ketemu sama orang-orang yang so super! Mereka orang-orang gaul yang sangat gaul. Dan mereka adalah satu di antara banyak orang yang (menurut saya) keren. Kita bareng-bareng di Bali selama kurang lebih 10 hari. Had fun? Mm, yea had fun enough :p