Labels

Showing posts with label Mood Boosters. Show all posts
Showing posts with label Mood Boosters. Show all posts

Jan 27, 2018

Reliving Thai (Food)

*drum rolls meskipun ini sudah lewat awal tahuuuuun*

Aight peeps, let's do this. Karena saya tidak mau kalah dengan sahabat cantik saya yang kini jauh di sana dan perjanjian suci untuk collab dengannya, liat dia di sini nih : si cantik Celina <3

Topik 'highlighting 2017' saya sebenernya nggak spesial-spesial banget sih, biasa aja. Sampai saya ingat tentang hidup saya yang warbiyasah enak di Thailand, terutama karena makanannya. Jadi saya pengen 'reliving 2017 memories' lewat makanan Thai.

Oh btw this is gonna be a long thread, jadi bersabarlah.

Awalnya, saya kasih tau nih, di Thailand hidup saya memang amat sangat memahasiswa, you know what I mean. Saya harus ingat-ingat tujuan saya ke sana itu bukan sekadar main-main dan jalan-jalan aja jadi saya harus pinter ngatur keuangan. Selama dua bulan saya sukses survive (tanpa ambil uang di ATM) hanya dengan uang cash sejumlah 10.000 baht (dengan kurs saat itu sekitar 4 juta).

Dengan uang itu saya juga bisa pergi ke Koh Samui, Koh Rat, Ban Khiriwong. jalan-jalan ke mall, sampai ke Penang, Malaysia. Sangat sulit menahan diri nggak jajan dan beli barang-barang lucu yang ada di sana, secara di sana ada banyak snack, bahan masakan dan makanan, benda-benda lucu macam ATK, baju, aksesoris, dompet, kaos kaki, sampai peralatan make-up yang sulit dicari di Indonesia.

But I survived. Semua karena.... pasar malam hadir mengubah segalanya menjadi lebih indah. Pasar malam ini yang membantu saya hidup dengan tenteram dan aman karena banyak makanan enak dan harga yang cukup murah di sini. FYI, pasar ini nggak ada setiap malem dan tempatnya pindah-pindah. Foto-foto di bawah ini diambil di pasar Senin, pasar malem yang ada di dalam kampus (tepatnya deket asrama-asrama dan gedung aktivitas mahasiswa, strategis banget bukan?) dan ada pada hari Senin yang nggak libur. Jadi kalau liburan ya pasarnya tutup, meskipun ada mahasiswa yang tetep tinggal di asrama waktu itu.




Pasar ini selalu saya tunggu-tunggu karena hampir pasti saya akan menggelontorkan uang macam orang kalap dan memaafkan diri sendiri setelahnya. Ada lagi pasar lain dan ada pas weekend tapi mungkin saya hanya beberapa kali pergi ke sana karena males, jauh banget dari asrama.

Bicara pasar, bicara makanan. Nyaris 75%-100% uang saya di pasar habis untuk makanan. Sisanya, 25%, cuma untuk kaos kaki lucu gambar totoro warna pink, satu lagi gambar panda, dan satu lagi gambar kucing warna biru. Tapi makanan adalah obsesi pertama saya. 

Tom Yum Goong adalah salah satu makanan Thailand pertama saya. Sebelumnya saya nggak pernah makan tom yum. Well, kalau indomie rasa tom yum dulu sudah cukup legit dianggap makanan Thai, berarti pernah. Anyway, saya akhirnya melihat rupa dan merasakan tom yum goong. Pertama kalinya juga dalam hidup, saya melihat udang segede nyaris sekepalan tangan, 4 ekor di dalam panci. Tuhan Maha Besar. Sayang saya malu mengabadikan momen ini karena selain takut dianggap norak, saya makan dengan dosen-dosen yang sangat saya hormati. 

Dalam perkembangan hidup saya di Thailand, saya menemukan fakta bahwa tom yum bukan cuma goong (udang), tapi juga ayam. Namanya jadi Tom Yum Kai dan harganya lebih murah. Satu piring nasi, satu mangkok kecil tom yum ayam jamur, dan satu lauk lain harganya 25 baht (10k) aja. Dan itu banyaaaaak banget sampe kadang jatah makan siang saya itu takmasukkan ke kotak bekal untuk simpenan makan malam. Meskipun malemnya ya beli makan lagi ehehehe.

Nasi, Tom Yum Kai, dan keong
Tom Yum mengingatkan saya tentang pantai yang tenang di sebuah restoran hari pertama saya menginjakkan kaki di the country of smiles itu dan meredakan rasa sedih saya yang jauh dari rumah. Atau obrolan yang sangat sulit dilakukan karena kendala bahasa, tapi tetap terasa menyenangkan di kantin dengan mahasiswa lokal. Juga ibu-ibu Melayu yang berteriak 'Adeeeek! Makan?' setiap melihat saya dan teman-teman muncul di antara keramaian. Beliau langsung mengambil piring, melihat saya, seakan tahu saya akan pesan Tom Yum Kai. Tom Yum is the feeling of being understood. 

Berikutnya, Kwetiau (dalam ini saya akan sebut bakso Thailand untuk membedakannya dengan Pad Thai, kwetiau goreng). Makanan ini setan bener deh. Ini makanan yang memberi saya pengalaman sakit perut luar biasa dan perasaan rindu rumah yang kurang ajar. Pertama kali lihat makanan ini saya seneng banget karena akhirnya saya makan bakso juga. Penampakannya kurang lebih seperti ini :

ini namanya kwetiau
Saya lahap sekali makan kwetiau, rasanya lumayan kaya bakso di Indonesia cuma micinnya lebih sedikit. Makanan ini biasanya saya campur cabe bubuk dan gula (iya bener gula pasir), tapi sebenernya ada banyak pilihan, misalnya sambel ikan, chili pasta, garam, dan lain-lain. Habis makan saya kena diare, tapi nggak kapok, dong. Besok-besoknya saya beli kwetiau di lapak lain. Tiga kali makan efeknya sama, buang air berlebihan tapi lama-lama efeknya berkurang. Semakin sedikit efeknya, semakin banyak saya menambahkan cabe bubuk. 

Kwetiau ini mengurangi rasa sakit hati saya atas nasi goreng keasinan yang saya makan di restoran pinggir jalan pas otw pulang dari Koh Samui ke Nakhon si Thammarat. Karena itu, saya memaksa diri saya makan makanan ini meskipun efek bagi perut kurang baik. Kwetiau ini homesick healer, penyemangat makan dan hidup macam mie setan lvl 10.

Selanjutnya, Pad Thai atau kwetiau goreng. Sayangnya, cuma sekali-dua kali saya makan Pad Thai di Thailand karena warung yang katanya Pad Thai-nya enak adalah warung yang menjual makanan non-halal. Tapi akhirnya saya makan Pad Thai di sebuah tempat lesehan pinggir jalan, yang tempatnya mengingatkan saya pada abang-abang penjual nasi goreng di pinggir jalan yang ramai dan pembelinya makan sambil lesehan di trotoar waktu saya masih umur 3 tahun. Persis. Pad Thai yang saya makan di situ harganya agak mahal, 50 baht, karena isinya campur-campur (ayam, keong, dan udang). Sayang juga saya nggak dapat fotonya karena makan di luar itu gelap banget dan saya terlalu malu pakai flash.

'Pad Thai' berikutnya saya temukan di pasar kota. Saya bener-bener takjub banget dengan 'Pad Thai' satu ini karena cara penyajiannya beda. Saya sampai nggak yakin ini Pad Thai tapi karena sama-sama mie dan digoreng, yah.. well. Oke, jadi ada beberapa bahan makanan yang jadi side dish, misalnya wortel, timun, tauge, cabe, sampai kembang-kembangan yang saya nggak tahu itu apa tapi rasanya enak.

  


Dan cara makannya begini, di atas pelepah jantung pisang. Warbiyasah. Masih gedean tangan saya daripada pelepah jantung pisangnya. Makanan ini secara mengejutkan enak dan muraaah (lupa sih sebenernya, kayaknya 20 baht atau 15 baht).


Tapi ada 'Pad Thai' enak di luar Thailand, dengan asumsi Pad Thai adalah kwetiau goreng. Makanan ini dijual oleh seorang ibu asal Medan di Penang, Malaysia.

enaaaaaaaaak banget sungguh
'Pad Thai' ini dibuat dengan keramahan khas orang Indonesia. Rasa rumah. Pad Thai selalu mengingatkan saya tentang malam di Thailand yang hampir setiap hari saya habiskan di luar kamar. Entah sekadar nongkrong atau jalan-jalan yang luar biasa capek di Penang tapi senang. Pad Thai is like that one nice feeling that creeps up into your head and heart in the end of the day no matter how tired or upset you are that day.

Okay this one would be cliche. Makanan ini mengingatkan saya tentang hari-hari di Thailand yang penuh dengan beragam perasaan. Tapi kalau dirasa dan dipikirkan, kayaknya kita bisa lihat warna-warna yang muncul di kepala. Say hi to Nasi Kerabu.


Mhm, nasinya warna ungu dan yang kalian lihat di gambar, semua warna itu 100% alami tanpa bahan pewarna tekstil. Pas saya cek di google harusnya warna biru sih nasinya tapi buat saya ungu juga masih bisa berterima kok. Rasanya seperti sajiannya yang bercampur. Tidak seperti urap-urap, nasi ini penuh sayuran yang lebih beda-beda lagi dan rasanya saling ditubrukkan. Wortel + tauge + kol ungu + mangga muda + nasi ungu + bubuk ikan. I gave up on the bean sprouts karena ga kuat dengan rasanya, entah kenapa rasa tauge Thailand itu lebih nendang dari tauge di rumah. Selain ukurannya lebih besar, taugenya punya rasa yang sangaaaat kuat.

Nasi Kerabu ini konon aslinya makanan dari Malaysia. Kebetulan yang jual sebenernya temen sekaligus mahasiswa kami yang belajar bahasa Indonesia dengan latar belakang Melayu. Namanya mas Irfan. Mas Irfan ini biasanya jualan Nasi Kerabu di pasar Senin atau pasar depan Lotus Tha Sala, Nakhon si Thammarat. Jaminan enak, bukan karena temen atau apa, tapi emang beneran enak kok! xD

Nah, kalau makanan paling ekstrem yang pernah saya coba mungkin ini.


Saya nggak yakin itu apa tapi sepertinya ulat, mungkin kalau di Indonesia hampir mirip ulat sagu. Saya nggak akan memperpanjang bagian ini karena sempat muncul pertanyaan apakah *boleh* dimakan atau nggak dan 'kenapa mau makan begituan?'. Jawabannya, pertama, saya penasaran. Kedua, saya nggak mau membatasi diri pada hal baru yang tabu dan nggak melibatkan orang lain kecuali diri saya sendiri. Ketika itu saya berdiri cukup lama di depan lapak penjual makanan 'nggak biasa' ini dan bolak-balik mondar-mandir karena saya terkesima dengan apa yang saya lihat secara langsung (dulu cuma tau di TV): ulat dan serangga lain yang sebenernya kaya akan protein.

Karena saya udah di sana, sekalian aja yakan? Udah basah, sekalianlah mandi. Udah ngeliatin dagangan orang dan diliatin yang punya dagangan, ya masa ga beli. Akhirnya saya beranikan diri beli, 10 baht. Atas bantuan seorang teman, saya berhasil mendapatkan mixed insects. Diramu dengan daun jeruk dan bumbu-bumbuan lain, rasanya sebenernya mirip kacang yang kenyal dan crunchy dari bagian kulitnya. Meskipun setelah itu saya nggak pernah beli lagi, setidaknya saya bisa mencatat ini sebagai sebuah pencapaian karena telah menguji diri saya sampai di titik 'hyeeeek' yang maksimal dan pada akhirnya, mengatasinya. 

Berikutnya, snack favorit yang paling favorit. My number 1. Ada dua sih. Take a look at these babies.

 

Pertama, Mango Sticky Rice (Khao Niao Mamuang). My love...
Saya pernah menulis tentang ini sebelumnya, deh. Tentang cinta saya yang pupus lalu terganti oleh Khao Niao Mamuang. Hmm, makanan ini bisa bikin saya patah hati juga sih gara-gara tiap mau beli pasti udah habis duluan dan akhirnya saya pulang dengan agak sedikit dongkol membayangkan rasa mangga yang manis, bercampur dengan nasi ketan dan kuah santan kental yang gurih. Nikmat Tuhan mana yang berani saya dustakan?

Kedua, cintaku yang lain, Thong Yot atau Gold Egg-Yolk Drops. Penjelasan tentang makanan ini bisa dibaca di wikipedia karena sebagai penikmat, saya kurang paham dengan sejarah panjang makanan ini.


Saya melihat makanan ini di suatu sore yang cerah, sedang dikerubungi lebah (yang awalnya saya kira lalat besar). Ibu penjual memperbolehkan saya mencoba, sebuah keuntungan menjadi 'orang asing' di luar negeri. Lalu saya memutuskan beli lumayan banyak. Rasanya manis sekali, saking manisnya muncul rasa pahit sedikit, tahu kan rasa yang begitu? Kalau ditekan di antara lidah dan langit-langit, ada rasa seperti madu yang keluar dan tekstur lembut yang lucu dari makanan ini. Entah itu madu atau gula atau sirup. Inilah alasan ada rasa manis-pahit yang muncul dan makanan ini dikerubungi lebah.

Aneh memang, tapi dua makanan ini yang paling saya suka. Mungkin karena setiap saya makan Khao Niao Mamuang dan Thong Yot ada perasaan bahagia seperti orang jatuh cinta. Rasanya seperti duduk dengan orang yang kita suka dan mendengarkan dia bicara tentang banyak hal. Tulus, manis, dan menggembirakan.

Pada akhirnya banyak makanan lain yang tidak bisa saya foto satu-satu karena saya terlalu sibuk merayakan hidup. Misalnya kerupuk ikan Narathiwat yang belum saya temukan bandingannya dengan kerupuk ikan di Indonesia, kerupuk yang mengingatkan saya tentang kebaikan orang Thai. Ada juga biskuit *nggak boleh sebut merk* rasa kiwi-apel yang belum beredar di Indonesia, Som Tam yang awalnya aneh di mulut tapi lama-lama bikin nagih, Thai tea yang disajikan dalam gelas plastik segede mangkok, buah-buahan aneka ragam dan disajikan sedemikian rupa, marshmellow murah yang enak buanget, sampai street food macam cilok, sosis, dan tempura yang sulit dijumpai di Malang. Masih banyak lagi, tapi highlightnya cukup sampai sini dulu.

Pada akhirnya juga saya bahagia dan bersyukur. Sungguh, tidak ada dusta. 

Oct 23, 2017

Cintaku Padamu

Belum habis saya kulum sisa saus di jari-jari bekas tempelan sosis ayam dan tahu ikan, saya tergoda kenikmatan lain. Nikmat cinta yang (pasti) hakiki dari segi rasa dan warna.

Rasanya saya pernah tahu rasa ini. Ketika dekat harumnya manis, ketika jauh tampaknya menggoda. Persis seperti seseorang yang sempat menawarkan diri jalan-jalan dengan saya akhir tahun ini tapi mengakhiri kalimat dengan 'Insya Allah'.

Pas sekali hari itu saya sedang patah hati. Si mantan gebetan ternyata dekat dengan perempuan lain. Kata 'dekat' dalam konteks sebuah hubungan biasanya sulit untuk didefinisikan. Dekat bisa berarti tidak ada jarak fisik, tidak ada jarak secara rohani, atau tidak ada jarak secara keduanya. Tidak ada jarak secara rohani juga maknanya berbeda-beda. Ada yang berarti batin dua pecinta merasa saling memiliki, tapi secara fisik tidak bisa bersatu. Ada yang merasa terhubung secara hati tapi malu-malu mengungkapkan.

Seperti judul puisi, dikatakan atau tidak dikatakan itu tetap cinta.

Saya tahu diri, lalu undur diri dari hidupnya. Kembali hidup dengan apa yang ada. Tapi saya diam-diam masih bahagia, karena di ujung sana ada harum lain dan warna lain yang menggoda. Rasa ini lengkap dengan gurih santan kental yang tidak terlalu pekat dan renyah remah nasi ketan. Cinta saya waktu itu hakiki, bulat penuh. Setelah hati saya utuh lagi, saya deklarasikan cintaku padamu, Mango Sticky Rice.




*Catatan :
Mango Sticky Rice (nasi ketan mangga atau khao niao mamuangdi negara asalnya, Thailand, dijual di pasar-pasar tradisional dengan harga 20 THB, jelas lebih murah daripada di kampung halaman saya, Malang. Rasanya beneran enak, dengan campuran potongan mangga yang manis, nasi ketan yang tidak terlalu keras dan rasanya manis-gurih, dan siraman kuah santan gurih yang agak kental. Bikin kenyang.

Jan 10, 2016

Situs Gaul untuk Belajar Bahasa

Banyak banget orang-prang di blog me-reveal target mereka di blog. Sahabat saya akan jadi seorang reviewer handal tahun ini. Saya memilih jalan lain. Salah satu target saya di tahun 2016 ini adalah bisa jadi polyglot. Jadi, tahun ini saya harus menyempurnakan kemampuan berbahasa Inggris saya, memperbaiki kemampuan berbahasa Jerman saya, belajar bahasa Perancis dengan serius, dan bisa rajin latihan bahasa Thailand di kelas Thai. Sederhana, dan saya punya 365 hari untuk mencoba (3 hari pertama hilang ditelan kemalasan dan hari ke-4 mulai belajar bahasa Thai).

Belajar bahasa asing memang kesannya elit dan mahal. Saya dulu les bahasa Inggris cukup banyak menghabiskan uang. Anehnya, ketika les dulu saya biasa-biasa aja, ngomong Inggrisnya juga standar abis, dan kalo ada kompetisi apa gitu dulu di kelas, saya cuma dapat peringkat tiga.... dari tiga orang. Malah ketika SMP, ketika sudah mengenal film-film bersubtitle bahasa Inggris dan radio (maklum, dulu internet dan MP3 bukan barang gaul macam sekarang), kemampuan bahasa Inggris saya berkembang jauh lebih baik.

Belum lagi cerita dari mahasiswa-mahasiswa Thailand yang menghabiskan 50.000 Baht untuk ke Indonesia, belajar bahasa Indonesia, dan KKN. Yah, sepadan sih karena begitu lulus dari Indonesia mereka langsung wisuda (kata Kak Mew). 

Sekarang, ketika sudah kuliah dan internet adalah salah satu sumber utama kebahagiaan, saya berpendapat "Learning a language in which you can't see the teacher should be free." Yeah. Belajar bahasa asing di mana kita tidak bisa ketemu gurunya, harusnya gratis. Secara kita kan belajarnya nggak pake tutor-tutoran dan guru-guruan. Nah, berbekal kuota yang pas-pasan dan wifi kampus yang kembang kempis, saya bikin list situs-situs gaul untuk belajar bahasa di Internet versi saya.

Sebenarnya ini bukan situs yang khusus belajar bahasa, tapi mirip facebook dan email dijadikan satu. Senangnya, di sini ada fitur yang memperbolehkan kita memasang interest pada bahasa-bahasa dan negara tertentu. Jadi kita bisa mencari teman yang bahasa ibunya bahasa Inggris. Bagusnya lagi, karena kita belajar langsung dengan native, kita bisa belajar budaya mereka juga. Yah, secara bahasa dan budaya kan satu paket.

Tapi pakai interpals harus super sabar. Nggak semua orang ingin bicara dengan kita dan nggak semua orang ingin belajar bahasa kita. Jadi kadang kita udah susah-susah bikin message yang menarik, tapi ga dibalas. Yaudah sih haha. Juga, kecenderungan untuk ngobrol ngalor kidul sangat tinggi, jadi kadang lupa poin utamanya adalah belajar bahasa bukan cuma ngobrol-ngobrol. Kadang juga banyak orang yang menggunakan situs ini seakan dating sites di mana banyak orang bisa mencari pacar dan istri sesuka hati. Ignore aja kalo ada yang begini.

But yeah, situs yang bagus buat cari teman dan belajar banyak hal. Gunakan situs ini dengan pikiran terbuka.

Duolingo



Duolingo sudah hadir di tengah-tengah kita sejak 2011. Saya sendiri sudah signed up sejak 2014 dan sangat menikmatinya. Situs ini menyediakan sarana belajar bahasa yang menarik dan menyenangkan. Latihan-latihan diberikan dengan dikte, jadi kita bisa melatih pendengaran kita dan menirukan pelafalan para speaker. Di situs ini kita bisa belajar merangkai kata, menulis kembali, mentranslate kata atau kalimat, mencocokkan gambar, hingga menambah vocab dan berbicara. Selain itu, ada tips dan penjelasan yang sangat tertata rapi baik ketika kita sedang belajar maupun selesai belajar. Tips dan penjelasan ini bisa kita baca kapanpun kita mau.

Sistem di situs ini juga memperhitungkan kemampuan kita mengingat. Jadi andaikata kita tidak 'belajar' dalam waktu lama, skill yang sudah kita pelajari akan menurun. Mau tidak mau kita harus menguatkan skill itu lagi supaya naik, atau dalam kata lain... mereview. Ulang dari awal. Semakin tinggi skill semakin baik.



Sayangnya courses yang tersedia di situs ini kebanyakan dalam bahasa Inggris. Ada beberapa bahasa yang bisa kita pilih, ada bahasa Jerman, Perancis, Belanda, Italia, Spanyol, dsb untuk para english speaker. Beberapa memang sudah ada, tapi ya gitu, masih dalam tahap pengembangan. Kebanyakan bahasa yang ditawarkan adalah bahasa-bahasa negara di Eropa. Beberapa bahasa sedang digodok supaya bisa dipelajari di situs ini, salah satunya bahasa kita, bahasa Indonesia!

Tapi karena situs ini sudah dirancang sedemikian rupa, kita otomatis tidak bisa melihat gurunya. Apalagi si speaker ini monoton. Gitu-gitu aja. Kita nggak bisa merasakan sensasi diajar guru killer atau guru yang sedang PMS. Dan karena itu pula, kadang kata-kata yang muncul lucu-lucu. Saya pernah lihat nih di IG, capture-an duolingo waktu si pembelajar ini diminta menyusun kata-kata dari bahasa Belanda yang artinya 'Excuse me, I am a potato'. Dan yang saya dapat adalah...




Memrise

Saya belum lama ini mulai menggunakan Memrise, padahal situs ini diluncurkan pada 2010. Tidak jauh beda dengan duolingo sebenarnya, sebelas-dua belas. Bedanya situs ini (sesuai namanya) lebih jago untuk memorizing, mengingat. Ketika ada satu kata yang sulit untuk kita ingat, akan ada 'mem' yang membantu kita mengingat kata itu. Misalnya, 'mem' untuk 'ottaa' (to take, finnish) adalah 'otter', atau 'mem' untuk 'tietää' (to know, finnish) adalah 'THEATRE (tietää)' XD



Situs ini juga ada speakernya, dan jujur saja speakernya lebih lively daripada duolingo :P Cara belajarnya juga sebelas-dua belas dengan duolingo, tetapi di situs ini kalau kita masih sering berbuat kesalahan, maka kata itu diulang-ulang sampai kita bisa. Kata itu juga bakal ditandai sebagai kata sulit. Review juga muncul secara otomatis sehingga kalau kita mau review langsung klik menu review yang tersedia.

Sayangnya lagi-lagi bahasa-bahasa di situs ini kebanyakan bahasa-bahasa major atau bahasa yang banyak dipelajari. Sebenarnya ada beberapa bahasa yang belum terlalu booming dipelajari tapi tersedia, bedanya course bahasa-bahasa yang seperti ini coursenya tidak banyak.

Btw sebenarnya Memrise ada yang berbayar, tapi yang free juga asik! Untungnya, dia lebih accessible meskipun free :)

Situs berbayar dan saya tidak terlalu suka menggunakannya :

Babbel


Babbel keliatannya memang lebih 'wah' tampilannya, kayak buku les yang mahal itu. Di situs ini ada bahasa Indonesia juga lho. Tapi ketika saya coba menggunakan situs ini, ternyata ribet banget karena dikit-dikit keluar pertanyaan yang harus diisi seperti berapa usia kita, ngapain belajar bahasa ini, dsb. Pas masuk ke level yang lebih tinggi, ternyata harus bayar juga. Ah...


Busuu


Saya kenal Busuu dari SMA dulu, ketika guru saya menyarankan murid-muridnya bikin account di Busuu. Least favourite karena kita harus bayar :/

Sebenernya ada Livemocha juga.


Situs ini sebenernya free, kita ga perlu ngeluarin duit asli sedikitpun. Pas kita masuk akun ini, kita akan dikasih 'duit' sama situs ini dan uang itu bisa kita pake buat beli 'course'. Kita bisa dapet duit dengan mengikuti course, jadi tiap jawaban benar kita bisa dapet duit.  Kita juga bisa dapet duit dengan jadi tutor users lain, jadi sebelas-dua belas sama interpals : kita harus berinteraksi dengan orang lain. Saya masih mencoba menggunakan situs ini sih sebenernya, tapi sampai sekarang saya masih belum dapet 'fun'-nya.

Saya sendiri lebih suka pakai memrise & duolingo untuk belajar bahasa dan interpals untuk belajar budaya. Di memrise saya lebih banyak menghafal, di duolingo saya belajar grammar, di interpals saya praktek. Di situs-situs ini kita bisa belajar lebih dari satu bahasa secara bergantian. Jadi kadang saya belajar bahasa Perancis sejam, lalu sejam lagi menajamkan kemampuan bahasa Jerman saya. Yah lumayan, sekarang saya bisa sedikit-sedikit membalas chat teman dengan bahasa Perancis setelah pakai Memrise dan vocab saya jadi tambah banyak dengan pakai duolingo. Semoga akhir tahun ini saya bisa mahir berbicara bahasa Jerman dan Perancis, dan bisa mulai belajar bahasa Belanda tahun depan.

Nah, saya akan lanjut belajar lagi sekalian menunggu teman-teman dari Thailand keluar kelas. Kalau ada yang mau belajar bahasa mulai dari Inggris, Jerman, Perancis, Jepang sampai Korea, silakan mencoba situs-situs di atas. Jangan takut! Selamat belajar! ~(*3*~)(~*3*)~

UPDATE :
Yak, ternyata Livemocha udah permanently closed terhitung sejak 22 April 2016. Yaaaaaaah.

May 8, 2015

Mahasiswa Bukan Mahabarata : Sebuah Catatan

Sebelum masuk ke intinya, saya mau curhat dulu. Pas buka akun blog dan lihat jumlah viewer saya bulan lalu adalah.... 150 orang, saya kaget. Ternyata ada banyak orang yang liat ya. Well, mungkin lebih pas angkanya kalo saya kurangi sekitar 30-50 viewer, karena itu kayaknya saya yang suka refresh page di laman saya sendiri ._. 100 orang ini mungkin tersesat dan setelah buka blog ini... makin tersesat.
 
Akhirnya libur telah tiba. Selama hari-hari akhir kuliah kemaren, lagu Tasya 'Libur Telah Tiba' banyak di-request. Para anak gembala ini ingin segera menyembelih hewan ternak mereka di kampung halaman rupanya. Pergilah mereka ke alam di mana mereka seharusnya berada. *anak gembala apa mahluk kasat mata? -_-* Buuuut, here I am! Menuntaskan janji saya untuk bikin review satu tahun sebagai mahabarata mahasiswa.

Ospek Nih Ciyeeeeee
Jadi segala macam perkuliahan tidak akan jadi nikmat jika tidak ada ospek. Ibaratnya kalo mau makan nasi Padang, lebih nikmat cuci tangan dulu. Karena 'ospek' itu terdengar kurang menyenangkan dan ospek yang aneh-aneh itu tidak berlaku lagi, maka di kampus saya tercinta, namanya diganti jadi PKPT. Woh itu acara seru banget!

*Berikutnya acara ini akan dipandang dari kacamata mahabarata mahasiswa*

Sebenernya acara ini banyak manfaat, basic perkuliahan kayak peraturan, sejarah kampus, motivasi kuliah dan lain-lain dibahas di sini. Cumaaaaaaaaaaan, beberapa bapak-bapak dan ibu-ibu yang ngasih materi sakti mandraguna, bisa bikin insomnia hilang. Audiensnya satu graha cakrawala, beribu-ribu anak. Pasti susah juga sih mendapat perhatian audiens. Tapi kalo didengarkan baik-baik, banyak banget pengetahuan yang didapat.

Pas PKPT gini kita kan ditaruh di gracak jadi satu, cuma dipisah berdasarkan jurusan, jadi bisa sekalian cari-cari temen baru! Lalu pas ospek fakultas, lebih wenak lagi karena emang udah nggak ada acara marah-marahan, bentak-betakan, tugas-tugas yang bawa tas karduslah, tas kreseklah, apalah. This is good actually and I'm supporting this a lot! Maksudnya, ketika ospek yang pake acara bentak-bentakan itu ditiadakan dan kami sebagai pupuk bawang kampus ini justru dirangkul bareng-bareng, diajak masuk ke lingkungan baru, kami jadi semakin PD, semakin respek gitu sama kakak tingkat dan bapak-ibu dosen.

Nah, pas PKPT gini biasanya dibagikan buku katalog-katalog sesuai dengan jurusan dan fakultas. Ini puenting banget, karena dari buku-buku itu kita bisa dapet gambaran secara umum tentang apa aja yang bakalan didapet pas kuliah, contohnya kayak mata kuliahnya apa aja di semester berapa, penjelasan secara umum mata kuliahnya, dsb.

BBS 2014
Pas semester ini saya emang ikut kepanitiaan bulan bahasa. Maklum, sebagai anak pupuk bawang yang baru gabung di kampus ini, saya harus banyak bergaul biar cepat dapat pacar. Intinya dari sini biar dapet temen sama dapet pengalaman. 

Acara ini seru banget, meskipun nggak seheboh acara festival kampus lain *jujur* tapi tetep juara! Tahun depan saya pengen gabung lagi dan berharap ditaruh di bagian acara gitu, biar lebih greget. Tapi kalo dikasih sekret lagi, saya nriman kok :"

Mata Kuliahnya Apa?
Saya lagi males nih menuliskan mata kuliah apa aja yang saya dapat di semester satu atau dua, haha! Yang pasti mata kuliah yang berhubungan dengan linguistik, sastra, dan pendidikan.

Dosennya Siapa, Gimana?
Pertanyaan yang paling sering ditanyakan ke antar kelas atau antar angkatan. But whoops, I can't tell you the names! Tapi secara keseluruhan dosen-dosennya gaul-gaul. Gaul di sini artinya keren banget, sangat profesional dan ahli di bidangnya. Ini bukan promosi, folks, tapi saya merasa otak saya ter-upgrade gitu, meskipun nggak pinter-pinter amat sih saya. Tugas-tugas yang diberikan beliau-beliau ini juga seru sih, karena kebanyakan membaca.

Cuman ya ada macam-maca tipikal dosen, sih. Kayak gini :
- Ada yang kelasnya seru banget, dosennya memberikan materi dengan guyon-guyon yang menyenangkan.
- Ada dosen membiarkan mahasiswa aktif, jadi kadang kita debat sendiri, tapi kalo udah ke mana-mana ntar dosennya meluruskan, kelas begini ini menantang. Terus biasanya di akhir presentasi, mahasiswa akan bilang "Kami kurang paham, nanti mungkin pak/bu dosen akan membantu menjelaskan" wkwkw.
- Ada dosen yang sedikit memberi tugas dan paling banyak menerangkan *paling seneng nih begini!* Dosen seperti ini tugasnya enak banget, nggak nyusahin mahasiswa :'
- Ada dosen yang kalo menjelaskan ke mana-mana, dari materi satu lalu materi dua, lalu entah ke mana. Biasanya kalo dosen seperti ini, mahasiswa cuma 'iya-iya' 'ngerta-ngerti' tapi pas ujian ga bisa XD
- Ada dosen yang menyombongkan diri gitu, mentang-mentang, dosen kayak gini ini biasanya suka membuka perkuliahan dengan 'Anak saya, rumah saya, teman saya'. Ada loh yang gitu  pas di semester 1, karena begitu jadinya sedikit sekali materi yang diberikan ke mahasiswa, dan dosen kayak gini saya kurang suka :/
Ada dosen dari semester satu yang ngajar lagi di semester 2, untungnya dosen yang ngajar dosen yang enak. Juga di semester 2 ada beberapa dosen yang masih muda. Kebanyakan dosen kayak gini suka ngasih banyak tugas, banyak tuntutan, galak, tapi kalo menerangkan enak banget, mungkin karena masih muda, ya *ini hipotesa sotoy ala mahasiswa*. Ada lagi dosen masih muda juga, kalo menerangkan enak banget. Wah, perfecto! Tapi kalo ngasih ujian susah T.T

Ada yang Bertanya?
Saya bukan tipe anak yang aktif di kelas, saya jarang menanyakan hal-hal materi kuliah, terlebih lagi kalo materinya ada di buku. Saya biasanya takut dikira bodoh dan asbun. Malu lah, udah dibuku masih aja ditanyain. Saya biasanya bertanya kalo memang saya nggak tahu atau saya punya pendapat. Tapi entah kenapa, kebanyakan teman-teman saya yang lagi presentasi menganggap 'it's the end of the world' ketika saya bertanya.

Satu hal yang saya ingat, at one point ketika saya mengacungkan tangan, si tertanya ini nge-chat di grup. Intinya dia mengingatkan agar jangan bertanya yang susah-susah, kasian mereka yang ditanyai. This was quite offensive, simply because it was me who got them in trouble that day. Saya agak merasa sedih sih, karena ultimatum ini berarti saya harus membatasi dan mengendalikan pikiran saya, agar apa yang keluar dari otak saya ini nggak menyulitkan orang lain.

Opinions, man! I have them too in my head! Saya sepenuhnya sadar bahwa opinions inilah power saya, bukan "being pretty" atau "being funny". 

Teman-teman Baru
Ketika saya tahu saya nggak jadi kuliah di Jogja, cuma kuliah di Malang, saya emang agak merasa bersedih. Secara, kalo kuliah di Malang, saya akan bertemu dengan teman-teman SMA, SMP, SD yang satu jurusan. Tapi ternyata nggak juga. Kebanyakan temen-temen kuliah saya dari luar Malang, seputar Jatim-lah.

Sebelum kuliah, masih jamannya ngebimbel dulu saya sering mendapat cerita-cerita dari teman-teman saya yang lain tentang nggak enaknya temenan sama mereka. Ternyata juga, saya nggak mendapat teman yang semacam itu. I got cool friends, dan mereka bener-bener asik diajak temenan.

Organisasi
Saya mendaftar lho jadi anak HMJ, dan lolos sebenernya setelah tes interview. Tapi saya mengundurkan diri. Alasan saya : mencoba konsisten. Jadi ceritanya saya melamar untuk posisi di pengmas dan KWU, lalu saya ditanyai : kalo nggak di dua-duanya? Ya saya jawab, saya mundur aja.  Ternyata bener, kan. Saya ditaruh di tempat yang bukan pilihan saya.

Ini alasannya. Pertama, bukan karena saya nggak suka tantangan baru, lho. It's all about 'do what you love and love what you do'. Takutnya, ketika saya diletakkan di tempat yang saya kurang suka, saya malah mengacaukannya. Kedua, tugas utama ngampus itu kuliah, tapi bapak saya bilang, 'ikutlah organisasi kalo itu bisa membawa manfaat buat kamu dan manfaat untuk masyarakat'. And I think, yea that's true, so with sad feelings.. I dropped it :"

Bukan berarti saya tidak mau keluar dari zona nyaman, saya mau keluar dari zona nyaman ketika saya tidak harus mengorbankan apa yang penting dalam hidup saya. I don't want to lose something which is worth to fighting for. Kuliah adalah salah satunya.

Being in Class
One thing I keep on my mind as a freshman is Aristotle's quote : The only true wisdom is in knowing you know nothing. Quote ini yang saya bawa masuk ke kelas. Selama setahun ini kebanyakan orang menganggap saya 'a straight-A student' padahal kalo saya ini digambarkan secara matematis jadinya gini :

ambisius + idealis + perfeksionis + kepo 

Sometimes it turns out good, sometimes not. Saya pernah merasa kecewa dan menyesal ketika hasil untuk mata kuliah Menyimak Kritis keluar, saya merasa tidak bekerja keras. Atau ketika DDM, atau MTI keluar agaknya saya sedikit bersedih juga, saya merasa saya sudah bekerja keras tapi yang muncul ya begitu saja. But I've told you, folks, saya orangnya nriman. Now I'm waiting for the 2nd semester results. Harapannya sih bagus-bagus. 

Summary
First year, 1st semester and 2nd semester, AWESOME!  Yah, emang kebanyakan tulisan ini dipandang dari view yang sangat sangta subjektif. But hey, it's just me anyway! Saya ini mahasiswa, bukan mahabarata. Tapi sama-sama lagi perang biar dapat ilmu yang bermanfaat dan nilai yang baik, nggak seheboh perang Baratayuda sih. Let me close this with this wonderful quote :

We’re too smart not to be cynical. But let’s be smart enough to be idealistic as well

- Sophia ChuaRubenfeld-

Salam, 

Meidinar.

Apr 27, 2015

To-Read List for Holiday... by Me.

Fellas, people, helllloooooo! Let me inform you all that this week I have four days for final exams and after that I can be free from this... dungeon. Kidding, it's just university. I know it is not important you, anyone! But I am soooo happy, I could die! :333 So what's the problem if I tell you about it? *don't answer! It's a rethorical questions*

I have few plans tho for this break. Well, it's not well arranged yet, but I do know what I wanna do, at least for the next three months. Let's hope I don't die of boredom. In other side, I have broken up with Janne :" May he rest (from this relationship) in peace. I hope you are happy now, babe.. I mean 'dude'. And I hope he will read this blog sometimes! :p

Anyway, let's focus on the purpose why I want to bother myself to write this goddamn post, while tomorrow I have a bloody exam. Why? Because I am so excited! Soooooo excited, not because tomorrow is the second day of final exam, but there are some books waiting for me to read them this holiday :p OK, it sounds good tho.. and at some point it sounds lame for avid readers out there. Hey, I'm just enjoying myself, I don't care what people would say about this.

So here are the books on my list :

1. Cinta di Dalam Gelas (Andrea Hirata)

This is an interesting book, because there are actually two books in one package. I did read the Padang Bulan, so this holiday I must finish the other side of the book.

2. The Geography of Bliss: One Grump's Search for the Happiest Places in the World (Eric Weiner)

Ahah, I bought this book when I was still a high school kid. I know I must finish this book now or never. I have read it actually, but I have always stopped in the middle of the book. I think I got lost and now I have to go back from the start, for the second time.

3-4. The Buru Quartet (This Earth of Mankind - Bumi Manusia and Footsteps - Jejak Langkah, but I haven't bought the other two books of this quartet yet : Child of All Nations - Anak Semua Bangsa and House of Glass - Rumah Kaca) by Pramoedya Ananta Toer

When I bought these books, my father seemed unpleasant. Everyone knows Pramoedya! These books are serious one, I see, but I really really want to read these books. I need to up grade this brain. I read the reviews, and maaan, it looks so damn good. I haven't bought the second and the fourth book, tho. First, because those books were sold out and second... I don't have enough money :p

5.  Please Look After Mom (Kyung Shook Shin)

I was surprised when I found this book was sold for Rp20.000,00 only! I went on internet and read the review, man it's so good, it even has more than 3 stars on goodreads (not four, but 3.7) so I bought it immediately. I don't read book which is written by asian author much actually (and by asian, I mean other authors than Indonesian), this book will be my second. I have no certain reason, not because I am a racist or what. Maybe because I don't find many Asian's translated books that I'm interested into. My bad. The first asian's book I read was... Soji Shimada's Tokyo Zodiac Murder. It was a very good book! I even cried in the last part of the book. Now let's give a try to this book :)

Okaaaay! Oh, I'm too lazy to post any pictures of it :p So, this is all, people, for the book stuffs. I will try to write some reviews of the books when I finish reading it. And also my first year in university review, I won't forget. So, okay. Have a nice day, and wish me luck for the exams! :)

Jan 6, 2015

Bucket List : The Achieved List

Haaaaah... semester dua udah mulai tjoy! Harusnya review yang saya janjikan di blog sudah di post, tapi jadi pun tidak belum. Skip dulu deh ahahahaha.

Kemaren Senin (hari pertama kuliah) diawali kuliah Wicara Publik yang w-o-w sekali. Pak dosen membuka kuliah dengan... video motivasi. Videonya udah saya tonton berrrrrrpuluh-puluh kali. Mungkin dari SMP, SMA, dan sekarang lagi.. tapi baru ngenanya sekarang, karena otak saya udah mulai berpikiran ke masa depan.

Videonya tentang orang yang nulis 100 mimpi-mimpinya dan secara ajaib semua yang ada di list itu jadi nyata. Kemudian dia mulai nulis lagi setiap mimpi-mimpinya, lebih dari 100. Ajaib bin ajaib, bukan sulap bukan sihir, seakan-akan apa yang dia harapkan jadi nyata. Padahal kan, belum tentu Tuhan memberi apa yang kita inginkan. Tapi, rahasia Tuhan memang jauh lebih dari indah. Tuhan memberi apa yang manusia butuhkan, yang terbaik.

Lalu saya mulai menulis apa yang saya inginkan. Ketika list itu sudah jadi (dan ternyata nggak sampe 100, rata-rata harapan dan mimpi cetek), saya tergoda untuk melakukan sesuatu yang lain. Ingat-ingat kembali harapan apa yang sudah tercapai sebelumnya.

Ikut Main Teater
Saya selalu suka pertunjukan teater. Liat orang-orang yang main teater dan bagaimana mereka berperan jadi orang lain di atas panggung. Otak saya mulai bertanya-tanya "ini orang kok bisa ya begitu? Apa yang ada di pikiran mereka, bisa sampe kayak gitu?". Pas masuk SMA saya langsung menentukan ekskul apa yang ingin saya ikuti. Teater, karena saya pengen banget main teater!

Harapan saya kesampaian. Saya bisa main teater di hadapan teman-teman satu sekolah. Akhirnya, bisa dapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan bodoh di kepala saya.


Peluk Singa
Ibu saya anti kucing, kucing segala jenis, jadi anak-anaknya nggak boleh yang ada pelihara kucing dalam bentuk apapun. Tapi I'm a rebel, jadi saya pengen banget punya singa. Singa itu gaul, men! Singa itu bener-bener gaul (alasan paling nggak logis). Jadi saya pengen liat singa langsung, kalo bisa meluk.

Emang, ini harapan atau mimpi yang liar. Sekali saya peluk singa beneran yang gede, menit berikutnya.. mungkin saya pulang tinggal nama. Tapiiii tapi tapi, saya bisa meluk singa beneran mamen! Anak singa maksudnya... dan itu idup! Gimana, garang nggak?


Pergi ke Bali
Dulu dari jaman SD SMP, Bali itu hanya mimpi buat saya. Iya Bali, yang di situ doang. Buat anda-anda, kamu-kamu, serta kalian-kalian mungkin Bali itu cetek, ujung kuku doang. Buat saya yang ortunya nggak suka liburan ke mana-mana karena nggak punya uang banyak buat liburan ala hedonis, Bali adalah Neverland!

Saya selalu berharap dalam hati agar bisa suatu hari nanti bisa mengunjungi Bali. Ternyata bener loh! Saya akhirnya bisa liat Bali pake mata kepala sendiri, bukan pake kamera orang atau TV. Bonus, ke Bali gratis lagi! Transport, makan, hotel ditanggung penyelenggara. Cuma bawa duit buat jaga-jaga kalo butuh sesuatu (akhirnya duitnya abis buat belanja oleh-oleh, hedon juga ding -_-) Sebenernya ke Bali buat acara workshop, tapi bablas juga sama mainnya. Baca ini nih

foto hasil jepretan kamera HP jaman purba
nggak lagi syuting FTV

Bikin Film
Berhubung tadi cerita ke Bali, pasti nyambungnya ke acara workshop film. Jadi ceritanya, saya suka nge-video adegan-adegan temen-temen saya pas kelas 3 SMP. Amatir sih, buat lucu-lucuan doang kali aja bisa muncul di AFV. Terus iseng punya harapan bikin film ah, yang kerenan dikit gitu. Pas SMA, ketika salah satu video hasil gila-gilaan itu ter-upload dan bersambung ke event-event yang lebih dahsyat lagi, saya bisa sampe di Bali untuk bikin film, bonusnya lagi program besar ini juga termasuk teman-teman dari luar negeri. Indonesia akan jadi tim dengan Rumania dan Uganda.


Ada banyak hal yang saya pelajari dari workshop ini, selain cuma bikin film. Saya bisa kenal dengan teman-teman baru dari luar kota saya. They are one of the greatest part of my life!

Makan Nutella
Ini satu hal gila dan cetek juga sih, karena liat Nutella di Internet. Waktu itu belum aaaada Nutella di Malang. Ngimpi dulu baru bisa makan Nutella. Tapi akhirnya setelah Nutella bisa didapatkan di supermarket terdekat, saya langsung nabung mati-matian. Haha


Punya Pacar Bule
Ahahahahahahaha iya ini juga cetek. Mimpi masa muda yang liar.. tapi akhirnya kesampaian. Semoga jadi calon suami juga ya Mas... (kuliah dulu yang bener! -_-). Btw, saya ga punya foto bareng sama pacar, punyanya foto kue 2nd anniversary yang akhirnya saya makan sendiri. Cuma tiup lilinnya 'bareng' ahahahaha.


Kumpul Lagi Sama EinBlickers
Setelah pulang dari Bali, EinBlickers adalah yang paling saya rindukan, 20 orang keren, gaul, dan rempong. Pengen rasanya kami kumpul lagi, reunian, dan sudah mulai berencana seperti itu, tapi susah diwujudkan karena kami masih SMA.

Meskipun begitu, kami akhirnya bisa kumpul lagi di Jakarta. Dan kali ini kumpulnya lebih heboh! Sayangnya, kami nggak kumpul lengkap, cuma 16 orang yang hadir.

Lainnya pada mencar, segini doang yang foto
Di sana, kami ikut acara karnaval dongeng, workshop artikel, dan premiere film kami! Pas acara karnaval itu, saya bisa jadi 'red riding hood' selama satu hari, meskipun tudung merah versi jumbo sih kayaknya.


Gita ceritanya jadi penyihir jahat, tapi dia cantik sih jadi nggak jahat -_-
Sayangnya lagi, kami nggak akan pernah kumpul lengkap 20 lagi, karena satu dari kami sudah pergi ke tempat yang lebih baik dari bumi. Mimpi kami untuk kumpul lengkap suatu hari nanti akan sangat lama sekali tercapainya :')

Punya Keberanian Donor Darah
Oke, ini cerita yang bener kenapa saya mulai donor. Banyak orang yang awalnya takut disuntik. Apalagi buat diambil darahnya, yang harus ditusuk jarum yang gede dulu. Saya salah satunya. Saya selalu malu kalo harus mengakui saya takut jarum. Jadi, saya pernah berharap agar ketakutan saya ini tiba-tiba hilang.

Entah kenapa hari itu pengen ikut ayah saya donor. Jadi saya pergi dengan keringat dingin dan jantung yang rasanya udah mau keluar lewat hidung. Takut, yes. Tapi tiba-tiba ada pikiran, bahwa mungkin di suatu tempat ada orang yang butuh darah saya, gimana kalo orang ini... sangat butuh sekali... hingga dia berubah jadi vampir.. jadi dia datang dengan gigi tajam... yang ditancap di lengan saya... pasti lebih sakit dari hanya sebuah jarum yang emang gede sih.. tapi lebih sakit kalo pake ditusuk pake gigi tajam... oke deh saya mau donor. Btw kenapa Edward Cullen nggak ke PMI aja ya? Donor, maksud saya.. ._.

Donor ke-3
Tapi nggak segitunya juga sih. Saya bener-bener berpikiran gimana kalo ada yang butuh darah B, mendesak, dan saya punya kesempatan untuk mendonorkan darah saya. Tinggal mau apa nggak.

Haaah... banyak ya ternyata harapan dan mimpi yang sudah terkabul. Entah itu dengan usaha dulu atau tiba-tiba muncul kesempatan cuma-cuma, segalanya harus disyukuri. Sekarang tinggal baca lagi bucket list saya, kemudian berdoa, berusaha, bersyukur. Wish me tooooons of luuuuuuucks! :'))

Dec 25, 2014

Stand By Me Doraemon (Please, I'm Serious!)

Entah kenapa saya malah pengen bikin postingan yang ini dulu daripada postingan yang sudah saya persiapkan sejak lama tentang kuliah saya. Stand By Me Doraemon.


Saya nggak ingat kapan saya mulai nonton dan kenal Doraemon. Lamaaaaaa sekali, mungkin sejak TK atau sebelum masuk TK. Setiap Minggu mulai jam 6 pagi, saya duduk manis depan TV nonton kartun. Doraemon mulai jam 8 seingat saya. Komik pertama yang saya beli ketika umur 6 tahun juga Doraemon. Boneka pertama yang benar-benar saya pengen juga Doraemon. Saya emang nggak nge-fans banget sama Doraemon, but as a figure I grew up with, he is just special!

Kemudian film-filmnya bermunculan. Film pertama yang saya tonton adalah Doraemon: Nobita dan Legenda Raja Matahari. Terus banyak lagi yang muncul tapi saya udah nggak ngikutin lagi. Bosan. Dan juga karena saya udah tambah gede, udah jarang nonton Doraemon.

Ketika akhirnya terpengaruh gambar Doraemon versi 3D, saya nonton juga film ini. Pertamanya kayak nonton sejarah bagaimana Doraemon dan Nobita bertemu. Nggak banyak berbeda dengan yang kita tonton di TV atau baca di komik, tokoh-tokohnya yang muncul ya itu-itu aja. Nobita masih si anak pemalas kelas lima yang bisanya cuma nangis minta pertolongan Doraemon, Suneo dan Giant are still the bullies, Shizuka masih si anak cantik yang disukai banyak anak, dan yang lain-lain dan yang lain-lain.

Ketika sampai di bagian tengah menuju akhir, saya liat sisi lain Nobita. Bagaimana dia mencoba melawan Giant, gimana dia nolong Shizuka di tengah badai Salju, tanpa Doraemon. Bagaimana Nobita berusaha menjadi lebih baik demi masa depan dia. Ini belum pernah saya lihat di cerita-cerita Doraemon sebelumnya.

Ketika Doraemon bilang dia nggak bisa tinggal lagi dengan Nobita, saya juga merasa kehilangan. Aneh rasanya lihat Nobita nggak sama-sama Doraemon. Rasanya kayak.. Doraemon nggak cuma ninggalin Nobita, tapi saya juga! Kayak.. nggak bakal liat lagi Doraemon. Saya nggak mau!


Film Stand By Me Doraemon ini benar-benar seperti mesin waktu di dalam laci Nobita. Saya merasa diajak kembali ke masa kecil saya dengan setting hari Minggu pukul 8 pagi di depan TV. Bedanya, saya nangis nonton film ini. Saya nggak ikhlas kalau Doraemon meninggalkan Nobita, meninggalkan kami yang pernah menghabiskan pagi liat bagaimana Nobita bermanja-manja dengan Doraemon minta dikasih gadget dari abad ke-22 buat merebut hati Shizuka atau ngalahin Giant dan Suneo.


Setelah sekian lama saya bosan, sekarang saya tidak pernah sesayang ini dengan Doraemon.


10 out of 10? Nah, 12 out of 10! :')


pict : everywhere on Internet

Nov 28, 2014

Akhir Semester Is Heeeereeeeee~

Masih banyak yang mau dikerjain : artikel ini itu, portofolio ini itu. CUMA TINGGAL SEMINGGU BUAT GARAP GINIAN TUHAAAAN DI MANA KAU BERADAAAA T.T

Btw ntar saya mau bikin review semester pertama ah, biar gaul. Yuk babay.

*Nge-Update juga*
Oiya, nungguin Ken bikin Liebster Award, cuma punya Fito dan Locen yang udah jadi. Baca di sini punya Fito dan baca di sini punya Celina pokonya visit blog mereka yah, seru pol isinya! 

Oct 4, 2014

Meniti Bianglala

Minggu lalu saya baca buku judulnya "The Five People You Meet In Heaven" hasil pinjeman di puskot (perpus kota). Di Indonesia, buku ini judulnya "Meniti Bianglala".

Ada beberapa jenis buku yang mempengaruhi saya. Hunger Games series misalnya.. buku yang ceritanya bisa saya bawa dalam mimpi. To Kill A Mockingbird (Harper Lee) dan The Confession (John Grisham) buku-buku yang bikin saya jantungan karena ceritanya luar biasa.

"The Five People You Meet In Heaven" adalah tipe buku yang membuat saya menangis.


Secara garis besar, ceritanya tentang Eddie yang meninggal dalam sebuah kecelakaan di taman hiburan, kemudian ia bertemu 5 orang dalam alam baka. Lima orang tersebut adalah orang-orang yang pernah "bersinggungan" dengannya ketika Eddie masih hidup dan masing-masing akan mengajarkan pelajaran hidup.

Kesampingkan sebentar saja perkara surga dan neraka. Saya bukan penganut kepercayaan Buddhist, Taoisme dan Confucian. Buku ini mengandung 3 unsur itu.  Bacalah, bukan masalah agama ini, tapi masalah bagaimana kita seharusnya memaknai hidup.

Bagian yang membuat saya menangis adalah.. ketika Eddie ketemu orang kedua, Kapten. Ketika si Kapten bilang bahwa ketika kita mengorbankan sesuatu yang berharga, kita tidak benar-benar kehilangan hal itu. Kemudian si Kapten bilang,

"Aku menepati janjiku. Aku tidak meninggalkanmu."

Sebelumnya, Kapten bilang sama prajuritnya kalo di medan perang, dia nggak bisa janji bakal membawa mereka pulang dengan selamat, tapi dia janji sama prajuritnya, nggak akan ada prajurit yang ditinggalkan. Si Kapten mengorbankan dirinya. Dia mati.. nginjek ranjau darat... *saya coba nahan air mata T.T*

Buku ini mengingatkan saya pada seseorang. Pas sekali, Ken kemaren posting tentang dia juga.

Dany.. Semoga kita ketemu lagi ya..

""It is because the human spirit knows, deep down, that all lives intersect. That death doesn't just take someone, it misses someone else, and in the small distance between being taken and being missed, lives are changed."

- The Five People You Meet In Heaven (Mitch Albom)

Jun 23, 2014

Jogja (Lagi)

Dalam dua tahun terkakhir, sudah 3 kali saya berkunjung ke Jogja. Yang terakhir ini beda. Saya datang untuk ujian tulis dan.... reunian :" Nggak lama sih, cuma dua hari satu malam.

Jadi, ceritanya saya dan Sasha (temen bimbel yang baru kenal satu bulan!), berangkat ke Jogja buat tes mandiri di salah satu universitas. Kami berangkat naik kereta ke Surabaya dulu terus baru lanjut ke Jogja. Kenapa? Soalnya lebih murah kereta Surabaya-Jogja daripada Malang-Jogja. Bedanya dua kali lipat -___-
Saya sama Sasha nggak nginep bareng, kami nebeng di kosan temen masing-masing. Dalam hal ini, saya mempercayakan hidup saya pada Golda, yang sudah rela kosannya saya santroni.

It was such a disaster. Saya sakit di Jogja. Malem pertama itu saya muntah-muntah. Jangan tanya saya kenapa, saya sendiri nggak tau. Beberapa jam sebelum tidur, kegiatan saya normal-normal aja : mandi, solat, makan, belajar, dan sempet ngobrol-ngobrol heboh sama Golda. Tapi, pas mau tidur itulah.. bencana itu terjadi. Jadi tiap saya tidur telentang, 180 derajat, rasanya makanan itu naik ke tenggorokan. Awalnya nggak saya hiraukan, paling cuma mual biasa dan saya udah setengah tidur. Nah kok begitu melek, itu makanan tumpah semua... kacau... kasur, kosan Golda, semua.... T.T

Kejadian itu nggak sekali lho, hampir setengah jam sekali saya muntah dan pemicunya sama : tidur telentang 180 derajat. Merem dikit, hoek, tidur lagi, hoek lagi. Kalo saya menyimpulkan sendiri nih ya, kayaknya itu gara-gara kelamaan duduk di kereta yang kursinya 90 derajat dan saya nggak bisa rileks, kecapekan, dan tegang gara-gara besoknya mau ujian. Golda sampe sedih sendiri liat saya kayak gitu. Tapi sungguh.. dia malaikat! Dia sampe nggak jadi tidur buat ngurusin saya. Golda.. you're not my tante anymore, kamu mamaku sekarang!!!!

Besoknya, hari ujian, saya sengaja nggak sarapan. Saya cuma makan roti yang saya bawa dari rumah. Saya khawatir aja ntar kalo saya makan banyak, saya bakal muntah lagi. Pas pengawasnya naruh soal di atas meja saya, terus saya muntahin soalnya gitu.. iyuh! Bikin malu aja.

Alhamdulillah sih, saya nggak kenapa-kenapa lagi setelah itu. Habis tes, saya langsung diajak EinBlickers Jogja kumpul. Yes! EinBlickers tersayang! Rasanya kangen banget setahun nggak ketemu, akhirnya bisa kesampaian ketemuan di Jogja. Saya bisa ketemu Clara! Saya nggak pernah liat dia lagi semenjak pulang dari Bali 2 tahun lalu. Ada Chika juga yang emang domisili Jogja. Selalu, setiap EinBlickers kumpul.. pasti rame, ngobrol-ngobrol heboh, foto-foto. Ah, what a good day~


All my loving goes to Golda! Super mommy! Makasi buat motivasinya selama ini, sampe rela tukeran novel. She made me promise her, that in a month or two I will be back to Jogja again, buat kuliah dan buat balikin novel dia. Atau dia yang harus ke Malang buat balikin Tokyo Zodiac Murder-ku! Saya berharap saya saja yang menuhi janji ke dia :" Thank you juga Clara dan Chika yang rela jauh-jauh dateng buat nemuin saya, jujur... kurang lamaaaa!!! Thank you Sasha, yang selama di kereta ngajarin saya ekonomi, minjemin buku latian soal STAN. Thank you semua temen-temen di Malang yang udah kirim doa :" You all are some people I love so much!

May 31, 2014

Salam dari Atas Eropa Utara

Tahun lalu saya pernah posting foto-foto langit dari atas Pulau Jawa di sini. Pada postingan waktu itu, saya bilang pengen lihat foto langit dari atas Finlandia. Memanfaatkan pacar, saya bilang kalo nanti dia ke Indonesia, fotokan langitnya dari pesawat.

Setahun kemudian, pacar saya nggak jadi terbang ke Indonesia, tapi dia terbang ke Perancis. Sebel banget karena dia harus ada di Paris selama beberapa hari, jadi dia nggak bisa nemenin ngobrol di skype selama beberapa hari. Termasuk hari ulang tahun saya.

Tapi ternyata saya salah. Tanggal 30, jam 6 pagi WIB atau jam 3an waktu Perancis, dia niatin online lewat HP, yang saya gatau buat online itu bayar berapa. Dia ngucapin birthday wishes dan sedikit gombalan. Luntur sudah rasa kesal saya. Tapi ternyata belum selesai..

Pulang dari Perancis, dia kirim foto beberapa foto untuk saya. Termasuk foto ini

above Finland
Dia bilang ini hadiah ulang tahun, karena nggak bisa nemenin pas tanggal 30 kemarin. Terharu, pacar saya ternyata ingat ulang tahun saya dan ingat pesanan saya :"

Apr 20, 2014

Jangan Kembali Gelap

Akhirnya semua wanita mendapatkan kebebasannya. Sayangnya kebanyakan mereka lupa apa makna emansipasi sebenarnya. Emansipasi wanita berarti proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju.

Keinginan Kartini untuk kita cuma satu : agar wanita dianggap sama. Sederajat dengan pria, sama pintarnya, sama tangguhnya. Agar kita para wanita tidak melulu ada di dapur tapi juga pergi bersekolah. Agar wanita juga mendapatkan pendidikan dan tidak dibodohi anak laki-laki.  

"Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya" - R.A Kartini

Akhirnya kesampaian juga, bukan? Wanita pergi ke sekolah. Tidak lagi dipingit. Mendapat pengakuan dan perlindungan hukum yang sama dan mereka cerdas. Mereka bisa bekerja dengan tenang, menjalani profesinya dengan hati-hati dan bertanggung jawab. Mulai dari tukang sayur sampai dokter, petani sampai anggota dewan pasti ada wanita.

Namun, bukan salah Kartini jika kebanyakan wanita hari ini melenceng jauh dari harapannya dulu. Wanita-wanita cerdas yang diharapkannya bisa membawa kesejahteraan bagi rakyatnya kelak justru membawa kesedihan bagi bangsanya. Beberapa wanita masuk penjara karena korupsi, penggelapan dana, membunuh, menipu, mencopet, mencuri, dsb. Tidak hanya satu atau dua.

Bukan salah Kartini pula apabila kebanyakan wanita sekarang ini lebih suka mengejar kehidupan "sendiri", berkarier, mencari pengalaman, bersenang-senang, mendapatkan uang, sukses dan kaya raya. Hasilnya untuk diri sendiri, she doesn't want anything else but happy! Tidak ada salahnya jadi mandiri. Terdengar ambisius, tapi saya juga begitu. Mungkin puluhan atau ratusan perempuan muda dan wanita dewasa juga menginginkan hal yang sama. Tapi saya mulai merasa mungkin itu semua akan jadi membosankan pada ujungnya.

Kemudian di tengah kebebasan wanita dalam memperkaya diri muncullah nama-nama mereka, wanita-wanita yang tidak hanya mengedepankan diri mereka. Muncullah Antarina S.F Amir, seorang ibu yang meneruskan usaha Ki Hajar Dewantara dalam dunia pendidikan. Butet Manurung, perintis dan pelaku pendidikan alternatif bagi masyarakat terasing dan terpencil di Indonesia. Ita Martadinata Haryono, seorang aktivis HAM Indonesia yang tewas dibunuh secara misterius di usianya yang ke-18. Marsinah, aktivis dan buruh pabrik, diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 1993. Ratna Sarumpaet, Suciwati, Tri Mumpuni dan banyak wanita lain yang berdiri tidak hanya untuk dirinya sendiri.

Wanita harusnya tahu bahwa hidupnya bukan hanya semata untuk dirinya sendiri. Wanita boleh cerdas, boleh kaya, boleh berpendidikan, tapi tidak lupa akan hakikatnya sebagai wanita : sebagai anak, sebagai ibu, sebagai istri, sebagai anggota masyarakat. Ingatlah kata-kata "di balik kesuksesan seorang pria ada wanita hebat di belakangnya". Ingatlah bahwa 80% kecerdasan seorang anak diwariskan dari ibunya.

"Siapakah yang akan menyangkal bahwa wanita memegang peranan penting dalam hal pendidikan moral pada masyarakat. Dialah orang yang sangat tepat pada tempatnya. Ia dapat menyumbang banyak (atau boleh dikatakan terbanyak) untuk meninggikan taraf moral masyarakat. Alam sendirilah yang memberikan tugas itu padanya." 

- R. A Kartini (Berikanlah Pendidikan Kepada Bangsa Jawa *baca: Indonesia). Nota R.A. Kartini tahun 1903 yang dipublikasikan melalui berbagai surat kabar.

Selamat Hari Kartini. Habis gelap terbitlah terang. Semoga tidak ada kegelapan lagi setelah ini.

Apr 18, 2014

Si Kriting

Kayaknya saya jarang sekali cerita tentang keluarga di blog. Nah emang nggak ada yang bisa diceritain juga sih. Keluarga saya kayaknya normal-normal aja gitu, nggak ada yang spesial-spesial. Nggak ada yang pedes dan pake telor dua *emang martabak?*

Kebetulan hari ini pas sekali, adek saya ulang tahun yang ke-8. Nggak kerasa adek saya sekarang udah kelas 2 SD mau naik kelas 3. Dulu pas dia lahir, saya masih kelas 5 SD. Waktu itu pengennya punya adik cowok biar bisa diajak berantem bareng. Ternyata punya adik cewek bisa juga diajak berantem haha :p

Adek saya rambutnya keriting, sampe semua orang dari keluarga, tetangga, temen-temen saya, temen-temen sekolah dia, manggil dia "Kriting". Semakin gede, dia pengen melepas trademark-nya dia ini. Pengen rambut panjang dan lurus katanya. Usahanya banyak banget, mulai dari keramas tiap hari, sisiran tiap mau tidur, sampe kalo ikut ke salon minta dicatok (tapi nggak dibolehin). Apa daya.. nggak lurus-lurus juga.

Adek saya jago ngeles kalo dimarahin, jago malak, dan jago ngumbar-ngumbar rahasia. Tapi kalo rahasianya dibocorin bisa ngambek sepanjang minggu. Kalo dimarahin sama ibuk, dia bakal marahin balik. Paling nggak suka belajar, sukanya nonton TV. Saat ini dia dalam fase suka isi-isi biodata.

Meskipun kadang ngejengkelin, tapi adek saya ini kooperatif banget. Dia suka banget ngasih duit (receh) dan bantu-bantu kalo saya lagi sibuk beres-beres. Ya itu kalo mood dia lagi bagus sih. Kadang suka bagi-bagi kue atau jajan juga.

Pokoknya selamat ultah aja deh ya dek.


Adek saya, usia 3 tahun