Sebuah perjalanan selalu membawa sebuah pelajaran berharga tidak peduli berapa lama kita pergi. Salah satunya, tentang teman. Satu lagi ding, oleh-oleh.
Teman yang pertama, mungkin yang paling bisa dibilang 'temenan' (jawa, artinya beneran), biasanya suka nanya kabar, nanya kondisi, nanya 'udah kangen rumah?' pake emote senyum licik, meskipun pertanyaan ini rasanya agak sedikit kurang ajar. Temen ini biasanya baik banget karena dia akan dengan senang hati membantu apa saja dan suka denger cerita dari yang ceria, bahagia, menyedihkan, sampai yang bikin muntah. Kalo ditanya mau oleh-oleh apa? Jawaban standar : 'apa aja boleh'.
Teman yang satunya, juga bisa disebut 'kadang bener kadang nggak' hehe, biasanya nggak suka nanyain kabar, nggak suka iseng-iseng personal chat. Tapi entah bagaimana kita tahu bahwa dia kangen. Nggak usah pake chat yang panjang dan cerewet, kadang cukup bales-balesan komen di sosial media. Sesekali ding curhat, biasa. Tapi nggak sering-sering banget asal cukup bikin kangen. Kalo ditanya mau oleh-oleh apa? Jawaban standar : 'apa aja boleh, tapi kalo bisa...'
Teman lain biasanya nggak nanya kabar, nggak nanya kondisi, tapi pas tau kita mau pulang biasanya tiba-tiba muncul dan nanya hal-hal yang berhubungan dengan hidup kita dalam perjalanan itu atau komen tentang apapun yang kita posting di sosial media. 'Apa kabar?', 'Eh itu apa sih?', 'Di Indonesia ada nggak?', 'Kok bisa gitu yah?' dan lain-lain. Kalo temen ini muncul, respon yang paling umum bisa kita berikan adalah 'Hmmm, tumben'. Kalo ditanya mau oleh-oleh apa? Jawaban standar : balik nanya 'Di sana apa yang bagus?' atau 'Eh bawain ini dong'.
Teman terakhir, yang ada di puncak daftar. Mereka nggak nanya kabar, nggak nanya kondisi, atau kadang iseng-iseng aja nanyain di grup chat. Nggak minta oleh-oleh juga. Eksistensi mereka antara ada dan tiada di hidup kita. Tapi ternyata mereka diam-diam ngomongin di belakang. Kadang nih ya, nggak ditanya mau oleh-oleh apa, tapi tiba-tiba bilang 'oleh-olehnya ya!'. Ntar kalo nggak dioleh-olehin, makin rame di belakang sana hehe.
Sebuah perjalanan mengajarkan saya banyak hal. Simply, belajar untuk menjadi teman yang baik di rumah ataupun di negara tujuan, untuk mengendalikan diri saya menghadapi orang lain dan mengendalikan postingan saya di sosial media, belajar menghargai orang baru dan nggak menyindir atau menyinyir tentang hidup mereka, belajar untuk nggak mencampuri hidup orang lain, dan belajar memaafkan.
Juga belajar untuk nggak bilang 'oleh-olehnya ya!' pada siapapun yang akan pergi. Karena jujur saja, 'hati-hati ya di sana' terdengar jauh lebih menyenangkan daripada 'oleh-olehnya ya!'.
Labels
- Ferien (12)
- Just Saying (64)
- Mood Boosters (36)
- Music and Story (12)
- People (16)
- Silly Thing (61)
Showing posts with label People. Show all posts
Showing posts with label People. Show all posts
Oct 26, 2017
Oleh-oleh dari Perjalanan
Oct 19, 2017
Halo, Chon.
Chon duduk senyam-senyum menatap ponselnya seperti gadis remaja baru dapat SMS dari pacar. Lalu saya datang dan bertanya, apa boleh saya duduk di sebelahnya? Dia diam sebentar sambil menerka apa maksud saya, kemudian dia paham dan menggeser pantatnya. Saya bawa nasi kuning dan ayam goreng plus kuah bawang. Chon menawarkan segelas jus jambu tapi saya tolak karena tak kuat asam.
Chon hanya diam sambil melihat saya makan. Ponselnya sudah tidak lagi dia raba. Saya tanya apa dia sudah makan, dia bilang sudah. Susah bicara padanya karena kadang dia tidak mengerti. Tapi Chon, saya paham kamu senang dapat teman baru. Pasti senang juga bisa bicara dalam bahasa asing dengan kami.
Tiap malam Chon ajak saya dan yang lain pergi jalan-jalan. Dia bilang makanan di pasar malam lebih enak daripada di kantin. Enak, murah lagi! Lain waktu kami suka duduk di kantin sambil tertawa bercanda. Pelan-pelan Chon mulai bisa bicara dalam bahasa saya. Dia mulai suka belikan kami marshmellow rasa stoberi dan kami pergi belanja di Tesco Lotus.
Lima minggu, sungguh berat rasanya meninggalkan rumah, tapi Chon dan teman-teman lainnya membuat segalanya lebih mudah. Chon sering menggeser meja-kursi besi di kantin agar kami bisa duduk ramai-ramai makan siang bersama. Atau kadang dia membonceng saya untuk makan pad thai di depan kampus, jauhnya sekitar 5 kilo dari asrama. Lalu balik lagi antar saya ke asrama. Kadang dia pulang lewat jam 10 malam karena kami suntuk di kamar. Chon, tidak capek? Dia geleng kepala. Senang, katanya. Astaga Chon, terlalu sering kamu membagi waktumu dengan kami agar kami tidak merasa sendiri.
Kindness is universal language. Chon, tidak apa kamu tidak bisa bicara, tapi kamu orang baik. Yang jahat adalah yang tanya 'apakah kamu laki-laki atau perempuan' atau 'apa kamu suka laki-laki atau suka perempuan'. Manusia kadang tidak bisa menahan diri, kami mencintai figur dan ingin tahu apakah kamu sempurna sebagai manusia. Chon sudah mendapati dirinya terjebak dalam pertanyaan itu tiap kali dia bertemu orang asing. Jadi Chon, saya akan coba menahan diri.
Chon pun tersenyum kembali seperti pada mulanya. Dasar senyum orang Thai, bahkan dalam pemakaman pun ada senyuman yang bisa dilempar sekali dua kali. Maaf ya Chon.. mai pen rai, na Chon? Mai pen rai.
*Mai pen rai, in Thai concept not only means 'it's okay' or 'never mind', but also means 'it's all fine and it will be' or 'never mind; this too shall pass' (Eric Weiner, 2015).
Chon hanya diam sambil melihat saya makan. Ponselnya sudah tidak lagi dia raba. Saya tanya apa dia sudah makan, dia bilang sudah. Susah bicara padanya karena kadang dia tidak mengerti. Tapi Chon, saya paham kamu senang dapat teman baru. Pasti senang juga bisa bicara dalam bahasa asing dengan kami.
Tiap malam Chon ajak saya dan yang lain pergi jalan-jalan. Dia bilang makanan di pasar malam lebih enak daripada di kantin. Enak, murah lagi! Lain waktu kami suka duduk di kantin sambil tertawa bercanda. Pelan-pelan Chon mulai bisa bicara dalam bahasa saya. Dia mulai suka belikan kami marshmellow rasa stoberi dan kami pergi belanja di Tesco Lotus.
Lima minggu, sungguh berat rasanya meninggalkan rumah, tapi Chon dan teman-teman lainnya membuat segalanya lebih mudah. Chon sering menggeser meja-kursi besi di kantin agar kami bisa duduk ramai-ramai makan siang bersama. Atau kadang dia membonceng saya untuk makan pad thai di depan kampus, jauhnya sekitar 5 kilo dari asrama. Lalu balik lagi antar saya ke asrama. Kadang dia pulang lewat jam 10 malam karena kami suntuk di kamar. Chon, tidak capek? Dia geleng kepala. Senang, katanya. Astaga Chon, terlalu sering kamu membagi waktumu dengan kami agar kami tidak merasa sendiri.
Kindness is universal language. Chon, tidak apa kamu tidak bisa bicara, tapi kamu orang baik. Yang jahat adalah yang tanya 'apakah kamu laki-laki atau perempuan' atau 'apa kamu suka laki-laki atau suka perempuan'. Manusia kadang tidak bisa menahan diri, kami mencintai figur dan ingin tahu apakah kamu sempurna sebagai manusia. Chon sudah mendapati dirinya terjebak dalam pertanyaan itu tiap kali dia bertemu orang asing. Jadi Chon, saya akan coba menahan diri.
Chon pun tersenyum kembali seperti pada mulanya. Dasar senyum orang Thai, bahkan dalam pemakaman pun ada senyuman yang bisa dilempar sekali dua kali. Maaf ya Chon.. mai pen rai, na Chon? Mai pen rai.
*Mai pen rai, in Thai concept not only means 'it's okay' or 'never mind', but also means 'it's all fine and it will be' or 'never mind; this too shall pass' (Eric Weiner, 2015).
Aug 29, 2017
Nggak Gini Caranya
Postingan lama ini harusnya udah saya post berbulan-bulan yang lalu. Tapi karena saya sibuk (alibi untuk kemalasan yang berlarut-larut) dan ada beberapa pertimbangan tentang isi post ini, saya yakin harus membagi cerita ini. Jadi beberapa bulan lalu saya diajak seorang kawan untuk ikut semacam seminar atau mungkin bisa dibilang pelatihan kerja. Dalam tanda kutip. Setelah acara 'pelatihan kerja' yang unik itu selesai, saya tahu pasti saya nggak mau bergabung.
Acara pelatihan itu agak berbeda, para pendatang baru sama sekali tidak diberi tahu informasi apapun sebelumnya tentang pekerjaan itu. Pas saya tanya ini acara apa, intinya mereka bilang 'udah ikut aja'. Hari itu saya datang ke sebuah rumah kecil, kami duduk di lantai, dan acara dimulai dengan sederhana. Awal-awalnya juga blur untuk saya, cuma cerita riwayat perusahaan dan 'jual beli produk'. Mungkin ada 30 menit saya masih ngga paham tentang tujuan perusahaan ini apa. Semakin lama semakin jelas. Menarik sih, tapi saya langsung pulang ketika mereka menutup acara itu, nggak mau ikut kumpul-kumpul. Selain karena acara itu selesai nyaris pukul 11 malam, saya punya beberapa alasan.
Alasan pertama saya menolak bergabung di sana adalah presentasi yang buruk. Mereka suka bertele-tele, tapi juga sangat suka menceritakan kisah mereka tentang kesuksesan. Nyaris semua cerita dimulai dengan "mahasiswa miskin" dan diakhiri dengan "bisa beli mobil dalam tempo 10 bulan". Cerita itu didramatisir dengan satire-satire, ditambah pula teriakan atau tepuk tangan tiba-tiba 'pegawai' dari bagian belakang. Oke, mungkin itu cara mereka memotivasi para pendatang baru, tapi bagi saya itu sangat tidak nyaman.
Alasan kedua: uang. Mereka sempat menceritakan proses dan waktu yang panjang mencapai milyaran rupiah itu. Dengan penekanan (atau pukulan di papan tulis pada setiap akhir kata 'dolar'), mereka sangat yakin bahwa angka fantastis itu bisa dicapai dengan cepat. Padahal kerjanya hanya merekrut, membina, merekrut, dan membina. Nyaris tidak membutuhkan keahlian apapun.
Saya pikir merekrut seseorang akan mudah, seperti asuransi. Pikiran itu bertahan sampai mereka berkata kami, para pendatang baru, wajib membeli produk yang harganya hanya hanya beberapa digit di bawah 10 juta rupiah. Dunia bisnis sudah mulai gila. Saya bahkan nggak butuh alat itu dan kalau mau gabung saya harus beli! Gimana pun caranya.
Alasan ketiga : bagi mereka hampir semua pekerjaan selain pemilik perusahaan dan investor itu berada di taraf miskin. Pekerjaan seperti guru, dosen, pegawai negeri, pedagang, bahkan wiraswasta itu rawan gagal. Bangkrut. Saya cukup senyum sinis ketika mereka tanya apakah dosen kami yang paling kaya sekalipun mengendarai Alphard ke kampus? Tidak! Tidak ada dosen yang bawa mobil mewah ke kampus, dosen itu tidak makmur.
Benar. Tidak ada dosen bawa mobil mewah ke kampus. Dosen-dosen itu hanya bawa motor bebek, motor matic, mobil avanza, atau yaris dan jazz yang mungkin dibelinya beberapa tahun lalu. Tapi mungkin kita tidak tahu kalau dosen-dosen ini punya andil besar dalam masyarakat. Misalnya punya sekolah yang didirikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus dan anak-anak ekonomi menengah ke bawah, punya rumah sakit, penulis puluhan buku, mungkin juga aktivis lingkungan. Mereka tidak punya waktu untuk beli atau merawat Lamborghini, rumah mereka mungkin sederhana, bukan rumah megah dengan lampu kristal dan hall untuk makan malam bersama.
Alasan keempat : Mereka menjelaskan bahwa kewajiban kami akan berhenti setelah mendapatkan 6 orang. Jadi kami akan membina mereka, 'bekerja sama', lalu uang akan datang dengan sendirinya. Tapi bagaimana kami bekerja? Apa yang bermanfaat untuk kami dan untuk orang lain? Apa spesialisasi kami akan meningkat? Saya nggak paham benar. Memang enak ya bekerja begitu, duduk diem-diem, eh rumah udah lunas, tinggal pelesir ke Maldives sebulan dua kali, atau berangkat umroh tiap tiga bulan. Sebenernya ini jadi iming-iming terbesar kenapa orang mau bergabung dan ya jujur saja, saya tergoda. Tapi ketika kewajibannya itu meminta orang lain beli barang yang nggak mereka butuhkan dengan harga yang nggak murah, mending saya mundur aja.
Alasan terakhir, alasan yang benar-benar membuat saya geleng-geleng kepala : arogan dan terlalu percaya diri memang beda tipis. Mereka menyatakan akan membuat kami semua kaya raya, sukses, berani bermimpi punya mobil Alphard. Kemudian mereka tanya 'siapa di antara kami yang akan nekat mendapatkan uang nyaris 10 juta itu untuk bergabung dengan mereka dan membuktikan ucapan mereka', saya menolak angkat tangan. Mereka mendoakan saya miskin sampai ahli waris. Tersentuh saya, bewildered, tapi tetap menolak angkat tangan. Udah hilang respek saya.
Saya ingat mereka bilang 'ayo kita lihat, 4 tahun lagi siapa yang beli alphard duluan? Saya atau mereka yang tidak bergabung malam ini'. Ga tau deh, buat saya sukses bukan hanya tentang punya Alphard, punya ribuan dollar di buku tabungan, punya rumah tingkat 3 dengan landasan helikopter di atapnya.
Mending saya ingat kata dosen saya yang cuma bawa mobil tua ke kampus : bekerjalah karena kamu tahu pekerjaan ini membawa manfaat buat kamu dan banyak orang. Bekerjalah karena pekerjaan itu membawa kebahagiaan padamu dan banyak orang di sekitarmu. Kita nggak hidup sendiri, tapi juga ada orang lain. Jangan pikirkan berapa uang yang akan kamu hasilkan, manusiawi memang kalau kita nggak akan pernah merasa cukup dengan uang. Buka koneksi, lihat kesempatan, asah softskill dan hardskill, jadilah berguna untuk banyak orang, bahkan kalau bisa untuk bangsa dan negara, uang akan datang dengan sendirinya.
Sukses itu butuh pengorbanan. Cara orang berkorban beda-beda juga. Ada yang kuliah tinggi-tinggi (biaya kuliah mahal, cyin), ada yang mending langsung kerja aja nggak nerusin kuliah, ada yang merantau jauh sampai jadi TKW ke Arab, ada yang jual rumah jual emas buat modal usaha, ada yang rela kerja keras tapi di tahun pertama cuma dibayar 100 ribu, dan seperti si Mas, pengorbanannya mau beli produk mahal dan mengajak orang lain untuk bergabung. Pengorbanannya beda karena buat mereka definisi sukses juga beda-beda. Nggak semua orang harus punya Alphard untuk bahagia. Jadi tolong Mas, cukup doakan yang baik-baik aja.
Sukses itu butuh pengorbanan. Cara orang berkorban beda-beda juga. Ada yang kuliah tinggi-tinggi (biaya kuliah mahal, cyin), ada yang mending langsung kerja aja nggak nerusin kuliah, ada yang merantau jauh sampai jadi TKW ke Arab, ada yang jual rumah jual emas buat modal usaha, ada yang rela kerja keras tapi di tahun pertama cuma dibayar 100 ribu, dan seperti si Mas, pengorbanannya mau beli produk mahal dan mengajak orang lain untuk bergabung. Pengorbanannya beda karena buat mereka definisi sukses juga beda-beda. Nggak semua orang harus punya Alphard untuk bahagia. Jadi tolong Mas, cukup doakan yang baik-baik aja.
Lagipula bukankah Tuhan sudah menjamin rezeki setiap makhluk yang berjalan di atas bumi? Bagi sebagian kita rezeki itu akan dilapangkan dan yang lainnya akan disempitkan. Kita hanya harus berusaha dan pandai-pandai bersyukur saja. Asal mau usaha, saya yakin kita nggak akan jadi miskin-miskin amat. Jadi, Mas, mohon maaf, semua orang pasti mau kaya, tapi buat saya nggak gini caranya. Bahagiamu bukan bahagiaku ya, Mas, biar aja saya miskin bagimu. Selamat menikmati kekayaan masing-masing, pokoknya jangan sampai miskin hati dan akal :)
Aug 10, 2015
Grandpa
I rarely met my paternal grandparents. It was because they live in Ambon and it's quite far from Java. Yea, I'm not 100% Javanese. My father is an Ambonese, my mom is Javanese. I was born and raised in Java with Javanese customs and sooo little Ambonese customs. So, if you are one of my friends who wonder why my family speaks Indonesian and doesn't speak Javanese at home, now you know.
My paternal grandma visited us more often than grandpa did. I met my grandpa fewer than 10 times in my life, and it was always him who came to Java. I went to his residence once.
But there are a lot of things I remember about my grandpa, tho. He was tall, he was quite skinny for me, his skin was dark, he has loud voice and always speak with thick Ambonese accent. When he smiled, you could see his white teeth shimmering. He always wrapped a white cloth around his head, I didn't know why did he do that, I never asked. When he came to Java and we didn't have that kind of cloth here, he always wrapped small white towel around his head instead.
My grandpa hated cold air. When he came here few years ago, we took him to Batu, another small city near Malang and a cold city, he couldn't do anything but sit in our car and didn't want to go out. Maybe because he spent most of his life living near beach where the air is warm.
He loved Bollywood films! When I was a kid, I used to sit near him and we watched Indian films for hours together. After that we had lunch and went straight back to the living room and watched another Bollywood film.
Grandpa was a... registered nurse? He wasn't a doctor but his job was similiar to a doctor, we called him 'mantri kesehatan' here ._. I remembered, once when we where staying at my uncle's house and my grandparents were there too, I was ill. My grandpa gave me a painkilling injection. After that, I refused to meet him for few days because I was scared.
I couldn't remember any other memories, but my parents told me some stories. Like, how he held me in his arm when I was a baby, or that one day when my grandpa and I (as a little kid) went to a drugstore, we were walking together hand in hand, we went through my father's office and he saw us from the window. Or the last time he was at our place, he told my mom not to leave him alone at home all the time no matter how busy she was.
Today, my grandfather passed away. I realized I couldn't make any more memories with my grandfather. It's sad, very unfortunate, but seeing him being ill and weak made me and my whole family even more sad.
Dear, Tete, you said you want to see all your grandchildren at your house, but yea, God knows you better see Him first.. Sleep well, Tete, we will see you soon..
My paternal grandma visited us more often than grandpa did. I met my grandpa fewer than 10 times in my life, and it was always him who came to Java. I went to his residence once.
![]() |
| Grandpa with his 2 y.o granddaughter (me) feeding the chicken |
My grandpa hated cold air. When he came here few years ago, we took him to Batu, another small city near Malang and a cold city, he couldn't do anything but sit in our car and didn't want to go out. Maybe because he spent most of his life living near beach where the air is warm.
He loved Bollywood films! When I was a kid, I used to sit near him and we watched Indian films for hours together. After that we had lunch and went straight back to the living room and watched another Bollywood film.
Grandpa was a... registered nurse? He wasn't a doctor but his job was similiar to a doctor, we called him 'mantri kesehatan' here ._. I remembered, once when we where staying at my uncle's house and my grandparents were there too, I was ill. My grandpa gave me a painkilling injection. After that, I refused to meet him for few days because I was scared.
I couldn't remember any other memories, but my parents told me some stories. Like, how he held me in his arm when I was a baby, or that one day when my grandpa and I (as a little kid) went to a drugstore, we were walking together hand in hand, we went through my father's office and he saw us from the window. Or the last time he was at our place, he told my mom not to leave him alone at home all the time no matter how busy she was.
Today, my grandfather passed away. I realized I couldn't make any more memories with my grandfather. It's sad, very unfortunate, but seeing him being ill and weak made me and my whole family even more sad.
Dear, Tete, you said you want to see all your grandchildren at your house, but yea, God knows you better see Him first.. Sleep well, Tete, we will see you soon..
Labels:
People
Dec 31, 2013
2013 Highlights!
Whoa, tahun ini rasanya kayak angin. Woooossh gitu, lewat. Tiba-tiba udah nggak ada anginnya, nggak kerasa lagi. Abis. Krik *gagal bikin filosofi*. Kayaknya baru kemaren gitu, banyak yang bilang kiamat bakal terjadi di tahun 2012, sampe ada filmnya segala. Lalu datanglah tahun 2013 like a boss nggak ada apa-apa. Kiamat nggak terjadi tahun itu.
Tahun 2013 ini, saya masuk usia 18 tahun, tapi tingkah tetep kayak anak 10 tahun. Gapapa lah, young inside old outside. Mau young kek, old kek, nggak masalah asal nggak expired aja. Dan Alhamdulillah-nya masih ada teman yang (mau) merayakan. Yang ngasih surprise. Yang ngucapin selamat secara langsung, lewat SMS, lewat Twitter, lewat Facebook. Makasih!!
Tahun 2013 saya lulus SMA juga. Wah, saya udah jadi warga negara yang baik dong, ya. Kan, udah menempuh pendidikan dasar 12 tahun. Sayangnya saya harus pending kuliah setahun, hiks! Tapi hal itu nggak jadi penghalang, saya tetep mau kuliah.. tahun 2014! Amin!
Ketika akhirnya lulus, saya inget-inget lagi masa SMA. Sedih harus pisah sama temen-temen, harus ninggalin tempat yang selama 3 tahun jadi tempat tujuan belajar. Sedih harus pamitan sama guru-guru yang udah jadi orang tua, pebimbing yang setia selama 3 tahun dengan sabar mengajar dan mengarahkan kami. Senang juga akhirnya satu kewajiban belajar udah selesai, senang bisa lihat teman-teman saya bisa masuk jurusan dan universitas yang mereka inginkan. Sahabat-sahabat saya, Camila sekarang lagi kuliah DKV yang dia pengen-pengenin banget, Celina juga udah di STAN. Temen-temen sekelas saya juga banyak yang keterima di PTN favorit. Semoga saya menyusul di tahun 2014, Amin!!
Tahun 2013, tahun jalan-jalan. Februari ke Jakarta, Mei ke Blitar, Juni ke Jogja, Desember ke Jogja juga. Alhamdulillah dikasih kesempatan liat-liat Jakarta setelah sekian lama nggak ke sana. Alhamdulillah bisa ke Blitar, ziarah ke makam presiden. Alhamdulillah bisa ke Jogja, jadi motivasi masuk UGM tahun 2014, Amin! Ada satu hal yang belum bisa tercapai : diving. Semoga nanti 2014 dikasih kesempatan bisa nyelam.
Tahun 2013, menambah temen-temen baru. Karena saya les di salah satu bimbel, saya bisa ketemu sama teman-teman dari berbagai kota (yang senasib dengan saya, pending kuliah). Ada yang dari Situbondo, Kediri, Surabaya, Jakarta, Lombok, yang dominan sih dari kota sendiri pasti.
Tahun 2013, ada yang pergi jauuuuuh sekali dan nggak bakal balik lagi. Dany. Semoga sekarang Dany sudah bahagia di Sisi-Nya. Saya yakin Dany sudah jauh lebih bahagia daripada di sini. EinBlick Indonesia berduka ditinggal Dany, tapi semangatnya, motivasinya, doanya, cita-citanya akan selalu kami kenang dan kami lanjutkan.
Tahun 2013, orang yang sama masih berada di sisi saya. Meskipun dia jauh di Finlandia sana, tapi setelah beberapa masalah yang pernah ada sudah terselesaikan, semuanya jadi jauh lebih mudah. Distance means so little when someone means so much. Saya belajar lebih sabar dan lebih menghargai.
I opened 2013 with tears but closed it with smiles. Alhamdulillah.
Tahun 2013 ini, saya masuk usia 18 tahun, tapi tingkah tetep kayak anak 10 tahun. Gapapa lah, young inside old outside. Mau young kek, old kek, nggak masalah asal nggak expired aja. Dan Alhamdulillah-nya masih ada teman yang (mau) merayakan. Yang ngasih surprise. Yang ngucapin selamat secara langsung, lewat SMS, lewat Twitter, lewat Facebook. Makasih!!
Tahun 2013 saya lulus SMA juga. Wah, saya udah jadi warga negara yang baik dong, ya. Kan, udah menempuh pendidikan dasar 12 tahun. Sayangnya saya harus pending kuliah setahun, hiks! Tapi hal itu nggak jadi penghalang, saya tetep mau kuliah.. tahun 2014! Amin!
Ketika akhirnya lulus, saya inget-inget lagi masa SMA. Sedih harus pisah sama temen-temen, harus ninggalin tempat yang selama 3 tahun jadi tempat tujuan belajar. Sedih harus pamitan sama guru-guru yang udah jadi orang tua, pebimbing yang setia selama 3 tahun dengan sabar mengajar dan mengarahkan kami. Senang juga akhirnya satu kewajiban belajar udah selesai, senang bisa lihat teman-teman saya bisa masuk jurusan dan universitas yang mereka inginkan. Sahabat-sahabat saya, Camila sekarang lagi kuliah DKV yang dia pengen-pengenin banget, Celina juga udah di STAN. Temen-temen sekelas saya juga banyak yang keterima di PTN favorit. Semoga saya menyusul di tahun 2014, Amin!!
Tahun 2013, tahun jalan-jalan. Februari ke Jakarta, Mei ke Blitar, Juni ke Jogja, Desember ke Jogja juga. Alhamdulillah dikasih kesempatan liat-liat Jakarta setelah sekian lama nggak ke sana. Alhamdulillah bisa ke Blitar, ziarah ke makam presiden. Alhamdulillah bisa ke Jogja, jadi motivasi masuk UGM tahun 2014, Amin! Ada satu hal yang belum bisa tercapai : diving. Semoga nanti 2014 dikasih kesempatan bisa nyelam.
Tahun 2013, menambah temen-temen baru. Karena saya les di salah satu bimbel, saya bisa ketemu sama teman-teman dari berbagai kota (yang senasib dengan saya, pending kuliah). Ada yang dari Situbondo, Kediri, Surabaya, Jakarta, Lombok, yang dominan sih dari kota sendiri pasti.
Tahun 2013, ada yang pergi jauuuuuh sekali dan nggak bakal balik lagi. Dany. Semoga sekarang Dany sudah bahagia di Sisi-Nya. Saya yakin Dany sudah jauh lebih bahagia daripada di sini. EinBlick Indonesia berduka ditinggal Dany, tapi semangatnya, motivasinya, doanya, cita-citanya akan selalu kami kenang dan kami lanjutkan.
Tahun 2013, orang yang sama masih berada di sisi saya. Meskipun dia jauh di Finlandia sana, tapi setelah beberapa masalah yang pernah ada sudah terselesaikan, semuanya jadi jauh lebih mudah. Distance means so little when someone means so much. Saya belajar lebih sabar dan lebih menghargai.
I opened 2013 with tears but closed it with smiles. Alhamdulillah.
Labels:
Ferien,
Just Saying,
Mood Boosters,
People,
Silly Thing
Aug 2, 2013
Buber ABCDE
*Dehem dulu biar keren*
Hay gaes! (versi slang Hi guys!) Hari ini ceritanya Humaniore buber gitu. Emang kalo pas puasa-puasa gini buber itu rasanya wajib, setelah solat dan ngaji. Kalo dipikir-pikir ya, buber kita mepet banget sama hari raya idul fitri. Dan tahun ini, buber Humaniore adalah buber saya satu-satunya.
Awalnya kami mau buber di daerah ciliwung, di situ banyak rumah makan gitu, ada yang jual bebek (bebek goreng bukan hidup), ada steak juga, terus ada rumah makan apa kafe gitu yang baru buka. Kami mau makan di salah satu rumah makan di daerah situ. Tapi gajadi karena tempatnya penuh.
Entah gimana, temen-temen saya memutuskan untuk pindah ke salah satu rumah makan di daerah sawojajar. Yak, sawojajar. Ulangi lagi, sa-wo-ja-jar. Sebenernya nggak ada apa-apa sih sama daerah itu, saya ulangi aja biar klasik -_- Oke, jadi kita mau buber di salah satu rumah makan ayam (sekali lagi ayam goreng bukan hidup) di daerah sawojajar.
Hay gaes! (versi slang Hi guys!) Hari ini ceritanya Humaniore buber gitu. Emang kalo pas puasa-puasa gini buber itu rasanya wajib, setelah solat dan ngaji. Kalo dipikir-pikir ya, buber kita mepet banget sama hari raya idul fitri. Dan tahun ini, buber Humaniore adalah buber saya satu-satunya.
Awalnya kami mau buber di daerah ciliwung, di situ banyak rumah makan gitu, ada yang jual bebek (bebek goreng bukan hidup), ada steak juga, terus ada rumah makan apa kafe gitu yang baru buka. Kami mau makan di salah satu rumah makan di daerah situ. Tapi gajadi karena tempatnya penuh.
Entah gimana, temen-temen saya memutuskan untuk pindah ke salah satu rumah makan di daerah sawojajar. Yak, sawojajar. Ulangi lagi, sa-wo-ja-jar. Sebenernya nggak ada apa-apa sih sama daerah itu, saya ulangi aja biar klasik -_- Oke, jadi kita mau buber di salah satu rumah makan ayam (sekali lagi ayam goreng bukan hidup) di daerah sawojajar.
Labels:
People,
Silly Thing
Jul 14, 2013
Flashback : SMA itu...
*diem dulu mikir mau nulis apa*
Teman-teman, saya akhirnya lulus SMA. Ketika SMA berakhir, saya seneng, sedih jugagara-gara belum dapet kuliahan. Sedih juga karena selama 3 tahun pergi ke tempat yang sama, sekarang harus pergi ke tempat yang berbeda. Saya akhirnya punya catatan sejarah SMA dalam hidup saya. Senang karena akhirnya pendidikan wajib 12 tahun, tuntas sudah!
Kebanyakan orang bilang SMA itu masa yang nggak bisa digantikan. Benar! Banyak cerita yang nggak bisa terjadi 2 kali. Mulai dari cerita yang baik-baik, sampe yang nakal-nakal. Kalo diinget-inget sih saya banyak nakalnya daripada baiknya -.-
Saya masuk SMA tahun 2010. Waktu itu saya masih polos. *angel face* Maklum, sebagai lulusan SMP yang meskipun reputasinya bagus tetep aja ditanyain orang "di mana itu?", saya kurang pengetahuan seputar dunia per-SMA-an. Saya awalnya ikut ujian mandiri di salah satu SMA favorit di Malang. Eh nggak lolos. Saya pun ikut jalur online.
Juli 2010, saya resmi jadi siswi SMAN 5 Malang. Sekolah saya terkenal dengan adiwiyata mandirinya. Nggak jarang ketika saya kumpul dengan teman-teman SMP, mereka menyuruh saya pulang jalan kaki. Bukan karena apa, tapi karena saya sekolah di tempat yang lingkungannya dijaga baik-baik, saya dikira sudah jadi environmentalist -.-
Teman-teman, saya akhirnya lulus SMA. Ketika SMA berakhir, saya seneng, sedih juga
Kebanyakan orang bilang SMA itu masa yang nggak bisa digantikan. Benar! Banyak cerita yang nggak bisa terjadi 2 kali. Mulai dari cerita yang baik-baik, sampe yang nakal-nakal. Kalo diinget-inget sih saya banyak nakalnya daripada baiknya -.-
Saya masuk SMA tahun 2010. Waktu itu saya masih polos. *angel face* Maklum, sebagai lulusan SMP yang meskipun reputasinya bagus tetep aja ditanyain orang "di mana itu?", saya kurang pengetahuan seputar dunia per-SMA-an. Saya awalnya ikut ujian mandiri di salah satu SMA favorit di Malang. Eh nggak lolos. Saya pun ikut jalur online.
Juli 2010, saya resmi jadi siswi SMAN 5 Malang. Sekolah saya terkenal dengan adiwiyata mandirinya. Nggak jarang ketika saya kumpul dengan teman-teman SMP, mereka menyuruh saya pulang jalan kaki. Bukan karena apa, tapi karena saya sekolah di tempat yang lingkungannya dijaga baik-baik, saya dikira sudah jadi environmentalist -.-
![]() |
| Salah satu taman SMA 5 tempat ngadem |
Labels:
Just Saying,
Mood Boosters,
People,
Silly Thing
Jun 7, 2013
Jalan ke Blitar
Hello people! Hari ini saya pengen posting tentang acara jalan-jalan sehari ala Humaniore. Sebenernya udah sebulan yang lalu sih. Tapi ya sayang aja kalo foto-fotonya cuma disimpen di folder laptop atau FB. *alibi karena baru bisa posting sekarang*
*tarik napas dulu dikit soalnya bingung mau nulis apa*
Yak jadi habis UN kemaren, kami, anak-anak humaniore merencanakan liburan. Nggak jauh dari kota Malang juga sih sebenernya. Tepatnya ke kota Blitar.
Jadi ceritanya, kita 9 orang yang paling seksi se-kelas XII Bahasa (Arab, Yance, Fito, Caca, Adek, Silvi, Rosta, Yayuk, gue), merapat ke Blitar. Sebenernya motif saya ikutan ke Blitar cuma gara-gara naik keyeta api tuututtut :3 *alay*
*tarik napas dulu dikit soalnya bingung mau nulis apa*
Yak jadi habis UN kemaren, kami, anak-anak humaniore merencanakan liburan. Nggak jauh dari kota Malang juga sih sebenernya. Tepatnya ke kota Blitar.
Jadi ceritanya, kita 9 orang yang paling seksi se-kelas XII Bahasa (Arab, Yance, Fito, Caca, Adek, Silvi, Rosta, Yayuk, gue), merapat ke Blitar. Sebenernya motif saya ikutan ke Blitar cuma gara-gara naik keyeta api tuututtut :3 *alay*
Oct 20, 2011
Humaniore and Rolling Seat : Against Bullying with Bullying!
!Hola! Akhirnya saya bisa balik lagi dengan senang riang gempita (?). Apa kabar semua? :p
Nah, sekarang saya pengen share tentang rolling seat. Untuk menghindari bullying yang nyaris aja terjadi pada salah satu temen saya di kelas, kami memutuskan untuk rolling seat. Eh tapi yang rolling nggak cuma anak sebangkunya aja. Tapi orangnya juga!
Nah, sekarang saya pengen share tentang rolling seat. Untuk menghindari bullying yang nyaris aja terjadi pada salah satu temen saya di kelas, kami memutuskan untuk rolling seat. Eh tapi yang rolling nggak cuma anak sebangkunya aja. Tapi orangnya juga!
![]() | ||
| 1st day! |
Labels:
People,
Silly Thing
Oct 14, 2011
Bullying Kebon
Kali ini, setelah sebulan nggak posting saya mulai bertekad pokoknya postingan kali ini harus kelar! Sial emang kalo berurusan sama tugas mulu, nggak ada habisnya -_-
Oke daripada saya curhat mulu, mending saya ceritain temen saya, si Kebon, yang lagi di bully ama anak-anak sekelas..
Kebon itu bernama asli Rizki Fidayati. Boleh dipanggil Rizki, Fida, atau Yati. Tapi dia udah kehilangan identitas aslinya tuh kayaknya. Nggak bakaln ngefek manggil dia dengan 3 nama tersebut. Kalo dipanggil Kebon, baru noleh.
Oke daripada saya curhat mulu, mending saya ceritain temen saya, si Kebon, yang lagi di bully ama anak-anak sekelas..
![]() | ||||
| Kebon cayaaang (tanda panah) |
Labels:
People
Sep 13, 2011
Menaaang!
Firstly, I wanna say HAPPY 46th ANNIVERSARY for my beloved school, SMAN 5! Semoga kedepannya bisa jadi sekolah yang lebih baik lagi, yang bener-bener bisa bikin murid-muridnya jadi orang bermanfaat, bisa jadi sekolah (lebih) favorit, dan harga SPP tiba-tiba turun *dilempar beton.
Berhubung ultah sekolah ada acara, kami anak-anak Humaniore, pastinya pengen ikut berpartisipasi. Nah, seperti kelas-kelas yang lain, kami pasti harus ikut berpartisipasi dalam beberapa lomba kayak mading, kebersihan kelas, putra-putri adiwiyata (sekolah ane adiwiyata gitu!), terus ada gerak jalan dan doorprise.
Disinilah semua bermula! H-5 pelaksanaan gerak jalan, guru saya yang biasa kami panggil kuten itu ngasih tau kalo pas gerak jalan itu dilombain juga! Mulai kostum kelas, kreativitas, kekompakan, sampai kerapian di jalan. Mamen! Kami nggak punya kostum kelas, bagaimana ini? Apakah kami harus pinjam safarinya Pak SBY? Atau kami harus pake bikini dan ikut ajang Miss Universe?
Oke, dua itu tadi SUPER EKSTRIM jadi gak mungkin yah.. -_-
Oke, akhirnya kami memutuskan pake kostum kelas yang kami bikin sendiri. Caranya? Gampang!
1. Siapkan alat dan bahan (Kaos polos warna serahlah, pilox juga serah mau warna ape)
2. Kasih cetakan huruf ato angka, itu juga serah lah yah
3. Pilox-lah kaos tersebut
Voila! Jadi deh!! Seperti inilah hasil kaos kelas 15ribuan ala Humaniore!
| wee balon-balon rek. "selawe ewu selawe ewu" |
Disinilah semua bermula! H-5 pelaksanaan gerak jalan, guru saya yang biasa kami panggil kuten itu ngasih tau kalo pas gerak jalan itu dilombain juga! Mulai kostum kelas, kreativitas, kekompakan, sampai kerapian di jalan. Mamen! Kami nggak punya kostum kelas, bagaimana ini? Apakah kami harus pinjam safarinya Pak SBY? Atau kami harus pake bikini dan ikut ajang Miss Universe?
Oke, dua itu tadi SUPER EKSTRIM jadi gak mungkin yah.. -_-
Oke, akhirnya kami memutuskan pake kostum kelas yang kami bikin sendiri. Caranya? Gampang!
1. Siapkan alat dan bahan (Kaos polos warna serahlah, pilox juga serah mau warna ape)
2. Kasih cetakan huruf ato angka, itu juga serah lah yah
3. Pilox-lah kaos tersebut
Voila! Jadi deh!! Seperti inilah hasil kaos kelas 15ribuan ala Humaniore!
| tampak depan,merk terkenal |
| tampak belakang, berhubung punya saya jadi pake absen 08 |
Labels:
People
Sep 9, 2011
Deathline Mading
Hell-o again people! Baru bisa balik lagi nih, abis sibuk sama urusan sekolah. Biasa, namanya juga anak muda. Ngapain aja dibilang sibuk :p
Okay, kami anak-anak Humaniore lagi sibuk buat ikut berpartisipasi dalam Acara HUT sekolah. Jadilah kami dibikin sibuk sama segala persiapan mulai dari Halal Bi Halal, urunan, kostum kelas, doorprize, kebersihan kelas, sampeeeeee (yang paling bikin sibuk) mading!
Masa deh, kami masuk tanggal 8 tapi tanggal 9 udah ada penilaian aja. ZZZ banget! *curhat*
Tapi untungnya kita ber-16 saling bahu membahu, perut memperut, sampai paha mempaha *ups* bikin mading. Yuuuk kita lihat foto-fotonya :)
Okay, kami anak-anak Humaniore lagi sibuk buat ikut berpartisipasi dalam Acara HUT sekolah. Jadilah kami dibikin sibuk sama segala persiapan mulai dari Halal Bi Halal, urunan, kostum kelas, doorprize, kebersihan kelas, sampeeeeee (yang paling bikin sibuk) mading!
Masa deh, kami masuk tanggal 8 tapi tanggal 9 udah ada penilaian aja. ZZZ banget! *curhat*
Tapi untungnya kita ber-16 saling bahu membahu, perut memperut, sampai paha mempaha *ups* bikin mading. Yuuuk kita lihat foto-fotonya :)
Labels:
People
Aug 27, 2011
Buber Bareng Humaniore
Hell-o! Apa kabar people? Semoga puasanya tambah lancar ya, udah H-3 lebaran nih :)
Okay, saya mau kasih liat nih foto-foto terbaru dari Humaniore dalam rangka Buber. So, hari Selasa, tanggal 23 Agustus 2011 kami anak-anak Humaniore punya acara buber alias Buka Bersama.
Setelah pertimbangan hari, tempat, dan harga, telah diputuskan kami buber tanggal 23 soalnya besoknya tanggal 24 libur haha :D dan tempatnya kami ambil di Cak Pi'i Borobudur soalnya ya cuma itu tempat yang terlintas di otak kami. Kalo harga ya kantong pelajar cukuplah :p
Labels:
People
Aug 21, 2011
Indomie di Humaniore
Pas lagi booming cerita Indomie ato Indomie Story *halah*, tentu aja anak Humaniore gak mau kalah.. Kami juga bikin beberapa cerita yang cukup kreatif *dooh! repost dari internet aja dibilang kreatif*
5 dari 16 anak di Humaniore berlomba bikin Indomie Story di grup. Ini dia:
5 dari 16 anak di Humaniore berlomba bikin Indomie Story di grup. Ini dia:
Labels:
People
Aku Anak Humaniore part 2
Lanjutan dari kemaren ya.. kan kemaren sampe si Rina :)
Aug 19, 2011
Aku Anak Humaniore part 1
Ehem ehem.. As you know, ketika text ini dibuat saya adalah anak kelas XI SMA ato kelas 2 SMA di sebuah sekolah. *yaiyalah -____-* Nah, kalo biasanya seorang anak SMA tuh bangga banget kalo masuk jurusan IPA ato minimal IPS deh ya... kalo saya beda, saya ambil jurusan BAHASA!!! Nah lo bayangin, kelas bahasa itu mesti dianggep sebagai kelas minoritas.
Tapi, setelah saya masuk sekolah di jurusan tersebut, nyatanya NGGAK!! Ya emang sih, jumlah siswanya cuma dikit, kelasnya kecil nggak kayak kelas lain, dan kelasnya cuma secuil itu doang, wajarlah kalo dianggap minoritas :p
Kelas saya ini punya nama HUMANIORE. Tau apa artinya? Sapa yang gatau? Wah, kaco! Gitu aja gatau... saya juga gatau :p Pokoknya, itu nama diambil dari kata HUMANIORA yang artinya bisa dicari di Pakde Google :p
Jumlah siswa di kelas ini HANYA ada 16 orang. Gak salah kalo slogan kita *kadang-kadang* 16 ANAK CUKUP *berasa KB*
Here they are, let's meet the polices :
Tapi, setelah saya masuk sekolah di jurusan tersebut, nyatanya NGGAK!! Ya emang sih, jumlah siswanya cuma dikit, kelasnya kecil nggak kayak kelas lain, dan kelasnya cuma secuil itu doang, wajarlah kalo dianggap minoritas :p
Kelas saya ini punya nama HUMANIORE. Tau apa artinya? Sapa yang gatau? Wah, kaco! Gitu aja gatau... saya juga gatau :p Pokoknya, itu nama diambil dari kata HUMANIORA yang artinya bisa dicari di Pakde Google :p
Jumlah siswa di kelas ini HANYA ada 16 orang. Gak salah kalo slogan kita *kadang-kadang* 16 ANAK CUKUP *berasa KB*
Here they are, let's meet the polices :
Labels:
People
Subscribe to:
Posts (Atom)




