Labels

Aug 29, 2017

Nggak Gini Caranya

Postingan lama ini harusnya udah saya post berbulan-bulan yang lalu. Tapi karena saya sibuk (alibi untuk kemalasan yang berlarut-larut) dan ada beberapa pertimbangan tentang isi post ini, saya yakin harus membagi cerita ini. Jadi beberapa bulan lalu saya diajak seorang kawan untuk ikut semacam seminar atau mungkin bisa dibilang pelatihan kerja. Dalam tanda kutip. Setelah acara 'pelatihan kerja' yang unik itu selesai, saya tahu pasti saya nggak mau bergabung.

Acara pelatihan itu agak berbeda, para pendatang baru sama sekali tidak diberi tahu informasi apapun sebelumnya tentang pekerjaan itu. Pas saya tanya ini acara apa, intinya mereka bilang 'udah ikut aja'. Hari itu saya datang ke sebuah rumah kecil, kami duduk di lantai, dan acara dimulai dengan sederhana. Awal-awalnya juga blur untuk saya, cuma cerita riwayat perusahaan dan 'jual beli produk'. Mungkin ada 30 menit saya masih ngga paham tentang tujuan perusahaan ini apa. Semakin lama semakin jelas. Menarik sih, tapi saya langsung pulang ketika mereka menutup acara itu, nggak mau ikut kumpul-kumpul. Selain karena acara itu selesai nyaris pukul 11 malam, saya punya beberapa alasan.

Alasan pertama saya menolak bergabung di sana adalah presentasi yang buruk. Mereka suka bertele-tele, tapi juga sangat suka menceritakan kisah mereka tentang kesuksesan. Nyaris semua cerita dimulai dengan "mahasiswa miskin" dan diakhiri dengan "bisa beli mobil dalam tempo 10 bulan". Cerita itu didramatisir dengan satire-satire, ditambah pula teriakan atau tepuk tangan tiba-tiba 'pegawai' dari bagian belakang. Oke, mungkin itu cara mereka memotivasi para pendatang baru, tapi bagi saya itu sangat tidak nyaman.

Alasan kedua: uang. Mereka sempat menceritakan proses dan waktu yang panjang mencapai milyaran rupiah itu. Dengan penekanan (atau pukulan di papan tulis pada setiap akhir kata 'dolar'), mereka sangat yakin bahwa angka fantastis itu bisa dicapai dengan cepat. Padahal kerjanya hanya merekrut, membina, merekrut, dan membina. Nyaris tidak membutuhkan keahlian apapun.

Saya pikir merekrut seseorang akan mudah, seperti asuransi. Pikiran itu bertahan sampai mereka berkata kami, para pendatang baru, wajib membeli produk yang harganya hanya hanya beberapa digit di bawah 10 juta rupiah. Dunia bisnis sudah mulai gila. Saya bahkan nggak butuh alat itu dan kalau mau gabung saya harus beli! Gimana pun caranya. 

Alasan ketiga : bagi mereka hampir semua pekerjaan selain pemilik perusahaan dan investor itu berada di taraf miskin. Pekerjaan seperti guru, dosen, pegawai negeri, pedagang, bahkan wiraswasta itu rawan gagal. Bangkrut. Saya cukup senyum sinis ketika mereka tanya apakah dosen kami yang paling kaya sekalipun mengendarai Alphard ke kampus? Tidak! Tidak ada dosen yang bawa mobil mewah ke kampus, dosen itu tidak makmur.

Benar. Tidak ada dosen bawa mobil mewah ke kampus. Dosen-dosen itu hanya bawa motor bebek, motor matic, mobil avanza, atau yaris dan jazz yang mungkin dibelinya beberapa tahun lalu. Tapi mungkin kita tidak tahu kalau dosen-dosen ini punya andil besar dalam masyarakat. Misalnya punya sekolah yang didirikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus dan anak-anak ekonomi menengah ke bawah, punya rumah sakit, penulis puluhan buku, mungkin juga aktivis lingkungan. Mereka tidak punya waktu untuk beli atau merawat Lamborghini, rumah mereka mungkin sederhana, bukan rumah megah dengan lampu kristal dan hall untuk makan malam bersama.

Alasan keempat : Mereka menjelaskan bahwa kewajiban kami akan berhenti setelah mendapatkan 6 orang. Jadi kami akan membina mereka, 'bekerja sama', lalu uang akan datang dengan sendirinya. Tapi bagaimana kami bekerja? Apa yang bermanfaat untuk kami dan untuk orang lain? Apa spesialisasi kami akan meningkat? Saya nggak paham benar. Memang enak ya bekerja begitu, duduk diem-diem, eh rumah udah lunas, tinggal pelesir ke Maldives sebulan dua kali, atau berangkat umroh tiap tiga bulan. Sebenernya ini jadi iming-iming terbesar kenapa orang mau bergabung dan ya jujur saja, saya tergoda. Tapi ketika kewajibannya itu meminta orang lain beli barang yang nggak mereka butuhkan dengan harga yang nggak murah, mending saya mundur aja.

Alasan terakhir, alasan yang benar-benar membuat saya geleng-geleng kepala : arogan dan terlalu percaya diri memang beda tipis. Mereka menyatakan akan membuat kami semua kaya raya, sukses, berani bermimpi punya mobil Alphard. Kemudian mereka tanya 'siapa di antara kami yang akan nekat mendapatkan uang nyaris 10 juta itu untuk bergabung dengan mereka dan membuktikan ucapan mereka', saya menolak angkat tangan. Mereka mendoakan saya miskin sampai ahli waris. Tersentuh saya, bewildered, tapi tetap menolak angkat tangan. Udah hilang respek saya. 

Saya ingat mereka bilang 'ayo kita lihat, 4 tahun lagi siapa yang beli alphard duluan? Saya atau mereka yang tidak bergabung malam ini'. Ga tau deh, buat saya sukses bukan hanya tentang punya Alphard, punya ribuan dollar di buku tabungan, punya rumah tingkat 3 dengan landasan helikopter di atapnya. 

Mending saya ingat kata dosen saya yang cuma bawa mobil tua ke kampus : bekerjalah karena kamu tahu pekerjaan ini membawa manfaat buat kamu dan banyak orang. Bekerjalah karena pekerjaan itu membawa kebahagiaan padamu dan banyak orang di sekitarmu. Kita nggak hidup sendiri, tapi juga ada orang lain. Jangan pikirkan berapa uang yang akan kamu hasilkan, manusiawi memang kalau kita nggak akan pernah merasa cukup dengan uang. Buka koneksi, lihat kesempatan, asah softskill dan hardskill, jadilah berguna untuk banyak orang, bahkan kalau bisa untuk bangsa dan negara, uang akan datang dengan sendirinya.

Sukses itu butuh pengorbanan. Cara orang berkorban beda-beda juga. Ada yang kuliah tinggi-tinggi (biaya kuliah mahal, cyin), ada yang mending langsung kerja aja nggak nerusin kuliah, ada yang merantau jauh sampai jadi TKW ke Arab, ada yang jual rumah jual emas buat modal usaha, ada yang rela kerja keras tapi di tahun pertama cuma dibayar 100 ribu, dan seperti si Mas, pengorbanannya mau beli produk mahal dan mengajak orang lain untuk bergabung. Pengorbanannya beda karena buat mereka definisi sukses juga beda-beda. Nggak semua orang harus punya Alphard untuk bahagia. Jadi tolong Mas, cukup doakan yang baik-baik aja. 

Lagipula bukankah Tuhan sudah menjamin rezeki setiap makhluk yang berjalan di atas bumi? Bagi sebagian kita rezeki itu akan dilapangkan dan yang lainnya akan disempitkan. Kita hanya harus berusaha dan pandai-pandai bersyukur saja. Asal mau usaha, saya yakin kita nggak akan jadi miskin-miskin amat. Jadi, Mas, mohon maaf, semua orang pasti mau kaya, tapi buat saya nggak gini caranya. Bahagiamu bukan bahagiaku ya, Mas, biar aja saya miskin bagimu. Selamat menikmati kekayaan masing-masing, pokoknya jangan sampai miskin hati dan akal :)

Oct 25, 2016

(-,-)

And you can't fight the tears that ain't coming
Or the moment of truth in your lies
When everything feels like the movies
Yeah, you bleed just to know you're alive. 


The irony.. when someone you love the most is the first one to leave. 

P.S : Everyone knows this song ey?

Aug 6, 2016

Card-to-Post 1

When my boyfriend and I decided to start sending each other a postcard, I thought it would be so much fun. When did the last time a couple sending each other a postcard in this century? The bookstores in this town gave me the answer : they can't even remember.

I visited almost every bookstore I could find yesterday, only to find a simple postcard. However, most of those bookstores don't sell postcards anymore and it frustrated me. Even the chasier girl told me that postcards are so last year and suggested me to go to the post office to buy them. I couldn't express myself how upset I am about this and I left.

I gave boyfriend a call and told him everything, he was upset as well. How could they don't sell postcards anymore while it's a common thing to buy there in Finland? Well, it's a place where people prefer to get a call instead of postcards. People use text messages, skype, whatsapp, facebook, and instagram to exchange pictures and words. The cashier girl was right, apparently, postcards are so last year.

But hey, I finally found a postcard. The postcard isn't the one I expected actually but it isn't that bad. I expected to get a cute postcard, maybe a bit colorful, but all I got was a postcard with a picture of a monument in my city. Well, even the picture is not an updated one since the monument has been tastefully renovated, it even has a park around it now. But I won't complain. I got what I need. Mission accomplished.



Well, practically not yet, I still have to send them.

So the next day I wrote something on it, the addressee's address as well. This was also somewhat confusing : what to write?! I had limited space to write and I wanted to tell so many things on it. I even googled about what people would write on their postcard. It was so embarrassing actually, that I had to google such a simple thing. I eventually decided to write something cliché.




About the lollipop thing, that was true. NO ONE ALLOWS ME TO SEND LOLLIPOP ON A POSTCARD. It broke my heart.

Nevertheless, I went to post office to send them, of course. I had to buy the stamps first, the lady there told me they have two kind of stamps: the big one and the small one. She looked at my postcard and told me, "You definitely need the small one". There was not much space for the stamps.

The pink stamps, you can see on the pict, were supposed to be birthday greeting stamps. Janne's birthday is on March, but I had no choice other than to accept those stamps and put it on my postcards. It needed a while for the glue to dry, even when I left the postcard there the lady said she would put the postcard on the table for some times and wait for it to dry. I had no idea if she would finally send it or just put it there for like... a year.. but I'm quite sure no one will keep my postcard on the table for a year.

So yeah, I sent it. I felt soooo cool and satisfied when I left the post office that day. I sent something abroad, something I hadn't done before and it was not difficult at all. Back then in elementry school, I had one lesson about sending someone a postcard, like how to write an address properly and what to write on a postcard but I never actually sent them. Years from that day I never thought I'd actually send one, it was great. I didn't have to use whatsapp, skype, or facebook to say hi. We got a chance to know how it feels to wait patiently for something you like the most.

I'm sure I will be back to the post office next months and send another postcards... which I print it myself :')


Jun 30, 2016

Bentuk Kekerasan yang Berbeda tapi Tidak Apa-apa

Suatu hari kejadian buruk menimpa saya. Kejadian ini membuat saya merasa sangat tidak enak dan saya enggan untuk berada di sekitar tempat di mana kejadian ini terjadi. Sayangnya, terkadang kebanyakan orang yang berada di sana tidak membuat saya merasa lebih baik. Bahkan mereka sama sekali tidak berusaha membuat saya merasa lebih baik, mereka bertindak sebaliknya. 

Dalam perjalanan pulang, saya teringat percakapan dengan Ken di twitter 2 tahun lalu, ketika Ken mengutip Kou Yoneda : 

People are... Full of contradictions. They're lonely. And then they're not. They're missed. And then they're not.

Agak lucu buat saya sebenernya. Terkadang banyak sekali orang yang mendorong orang lain untuk berbuat sesuatu dan ketika orang lain itu melakukannya, ia akan dihajar habis-habisan. Sungguh sangat bertentangan dengan apa yang mereka katakan sebelumnya. Kontradiksi.

Jadi ceritanya, kemarin saya dihajar habis-habisan sebagai akibat perbuatan yang saya lakukan. Saya salah, saya tidak akan berkata sebaliknya. Sebagai balasannya, saya tidak hanya diberi ucapan 'ya kamu salah', tapi juga tertawaan dan pandangan menghina. Jujur saja, apa yang terjadi saat itu membuat hati saya tercabik. Tapi tidak apa-apa, what doesn't kill you makes you stronger. 

Saya merasa sebenarnya orang lain tidak perlu sebegitu jahatnya. Mereka bilang jangan takut untuk berbuat kesalahan, dari situ kita bisa belajar. Kesalahan telah dibuat dan sayangnya orang-orang jahat ini tidak membuat pelajaran ini menjadi mudah. Mereka membuat semuanya menjadi rumit dan lebih parah lagi, menyakitkan. Kontradiksi.

Saya diam-diam ingin bertukar peran. Bagaimana jika saya melepaskan sepatu saya kemudian menjejalkannya ke kaki mereka? Menarik. Tapi saya tidak akan mencoba karena ini hanya keinginan diam-diam. Saya hanya ingin merasakan bagaimana menertawakan orang lain yang sedang mengalami kesialan dan memutar mata saya dengan masalah mereka, 'hadeh, apa deh, ga paham sama ini ya? Ga pernah ikut itu ya? Hadeh, nggilani, norak, kampungan, sotoy, sok, lalala-lilili'.

Haha, tidak apa-apa. Sepatu saya memang tidak cocok untuk mereka. Atau juga sebaliknya.

Pernah suatu kali saya merasa bahwa sebuah tawa adalah bentuk kekerasan yang berbeda. Seperti ada jenis tertawa yang membuat orang lain merasa tidak bahagia. Tapi sepertinya memang ada. Misalnya tawa yang membuat orang lain merasa malu ketika masuk kelas dengan potongan rambut baru dan tawa yang membuat orang lain sedih karena dihina. Diam-diam tawa ternyata juga sebuah kekerasan. 

Do you know why people like violence? It is because it feels good. Humans find violence deeply satisfying. But remove the satisfaction, and the act becomes... hollow.
- Alan Turing played by Benedict Cumberbatch, The Imitation Game

It is satisfying. Tertawa yang demikian itu memang memuaskan. Apalah yang lebih baik daripada melihat orang yang tidak kita sukai jatuh dan kita bisa tertawa karena itu? Dan jika dia yang menang kita akan berusaha membuatnya tidak menang juga. Ini tuh seperti permainan kartu, bisa kartu UNO : kalau kamu belum bisa menang, setidaknya jangan buat temanmu menang. Ketika kamu menang, maka tertawalah. Apalah tawa tanpa rasa kepuasan?

Tapi temanmu bukan pelawak yang sengaja melemparkan dirinya untuk menjadi lucu.

Oke, saya tidak apa-apa. Orang lain tidak bisa berhenti menertawakan dan membicarakan karena itu sumber kebahagiaan mereka. Mungkin itu bentuk kekerasan yang dilakukan orang-orang yang tidak suka kekerasan, kontradiksi. Saya salah, saya mengakui dan tidak berkata sebaliknya, tetapi saya memaafkan diri saya. Menyalahkan diri sendiri tidak akan menyelesaikan masalah dengan lebih cepat.


The fact is, forgiveness is the quickest shortcut to beginning again and refocusing on what matters. This doesn’t mean we let ourselves off the hook, we learn from it and release the burden so we can begin to be of service to ourselves and others. - Elisha Goldstein

Selamat siang. 




Jan 10, 2016

Situs Gaul untuk Belajar Bahasa

Banyak banget orang-prang di blog me-reveal target mereka di blog. Sahabat saya akan jadi seorang reviewer handal tahun ini. Saya memilih jalan lain. Salah satu target saya di tahun 2016 ini adalah bisa jadi polyglot. Jadi, tahun ini saya harus menyempurnakan kemampuan berbahasa Inggris saya, memperbaiki kemampuan berbahasa Jerman saya, belajar bahasa Perancis dengan serius, dan bisa rajin latihan bahasa Thailand di kelas Thai. Sederhana, dan saya punya 365 hari untuk mencoba (3 hari pertama hilang ditelan kemalasan dan hari ke-4 mulai belajar bahasa Thai).

Belajar bahasa asing memang kesannya elit dan mahal. Saya dulu les bahasa Inggris cukup banyak menghabiskan uang. Anehnya, ketika les dulu saya biasa-biasa aja, ngomong Inggrisnya juga standar abis, dan kalo ada kompetisi apa gitu dulu di kelas, saya cuma dapat peringkat tiga.... dari tiga orang. Malah ketika SMP, ketika sudah mengenal film-film bersubtitle bahasa Inggris dan radio (maklum, dulu internet dan MP3 bukan barang gaul macam sekarang), kemampuan bahasa Inggris saya berkembang jauh lebih baik.

Belum lagi cerita dari mahasiswa-mahasiswa Thailand yang menghabiskan 50.000 Baht untuk ke Indonesia, belajar bahasa Indonesia, dan KKN. Yah, sepadan sih karena begitu lulus dari Indonesia mereka langsung wisuda (kata Kak Mew). 

Sekarang, ketika sudah kuliah dan internet adalah salah satu sumber utama kebahagiaan, saya berpendapat "Learning a language in which you can't see the teacher should be free." Yeah. Belajar bahasa asing di mana kita tidak bisa ketemu gurunya, harusnya gratis. Secara kita kan belajarnya nggak pake tutor-tutoran dan guru-guruan. Nah, berbekal kuota yang pas-pasan dan wifi kampus yang kembang kempis, saya bikin list situs-situs gaul untuk belajar bahasa di Internet versi saya.

Sebenarnya ini bukan situs yang khusus belajar bahasa, tapi mirip facebook dan email dijadikan satu. Senangnya, di sini ada fitur yang memperbolehkan kita memasang interest pada bahasa-bahasa dan negara tertentu. Jadi kita bisa mencari teman yang bahasa ibunya bahasa Inggris. Bagusnya lagi, karena kita belajar langsung dengan native, kita bisa belajar budaya mereka juga. Yah, secara bahasa dan budaya kan satu paket.

Tapi pakai interpals harus super sabar. Nggak semua orang ingin bicara dengan kita dan nggak semua orang ingin belajar bahasa kita. Jadi kadang kita udah susah-susah bikin message yang menarik, tapi ga dibalas. Yaudah sih haha. Juga, kecenderungan untuk ngobrol ngalor kidul sangat tinggi, jadi kadang lupa poin utamanya adalah belajar bahasa bukan cuma ngobrol-ngobrol. Kadang juga banyak orang yang menggunakan situs ini seakan dating sites di mana banyak orang bisa mencari pacar dan istri sesuka hati. Ignore aja kalo ada yang begini.

But yeah, situs yang bagus buat cari teman dan belajar banyak hal. Gunakan situs ini dengan pikiran terbuka.

Duolingo



Duolingo sudah hadir di tengah-tengah kita sejak 2011. Saya sendiri sudah signed up sejak 2014 dan sangat menikmatinya. Situs ini menyediakan sarana belajar bahasa yang menarik dan menyenangkan. Latihan-latihan diberikan dengan dikte, jadi kita bisa melatih pendengaran kita dan menirukan pelafalan para speaker. Di situs ini kita bisa belajar merangkai kata, menulis kembali, mentranslate kata atau kalimat, mencocokkan gambar, hingga menambah vocab dan berbicara. Selain itu, ada tips dan penjelasan yang sangat tertata rapi baik ketika kita sedang belajar maupun selesai belajar. Tips dan penjelasan ini bisa kita baca kapanpun kita mau.

Sistem di situs ini juga memperhitungkan kemampuan kita mengingat. Jadi andaikata kita tidak 'belajar' dalam waktu lama, skill yang sudah kita pelajari akan menurun. Mau tidak mau kita harus menguatkan skill itu lagi supaya naik, atau dalam kata lain... mereview. Ulang dari awal. Semakin tinggi skill semakin baik.



Sayangnya courses yang tersedia di situs ini kebanyakan dalam bahasa Inggris. Ada beberapa bahasa yang bisa kita pilih, ada bahasa Jerman, Perancis, Belanda, Italia, Spanyol, dsb untuk para english speaker. Beberapa memang sudah ada, tapi ya gitu, masih dalam tahap pengembangan. Kebanyakan bahasa yang ditawarkan adalah bahasa-bahasa negara di Eropa. Beberapa bahasa sedang digodok supaya bisa dipelajari di situs ini, salah satunya bahasa kita, bahasa Indonesia!

Tapi karena situs ini sudah dirancang sedemikian rupa, kita otomatis tidak bisa melihat gurunya. Apalagi si speaker ini monoton. Gitu-gitu aja. Kita nggak bisa merasakan sensasi diajar guru killer atau guru yang sedang PMS. Dan karena itu pula, kadang kata-kata yang muncul lucu-lucu. Saya pernah lihat nih di IG, capture-an duolingo waktu si pembelajar ini diminta menyusun kata-kata dari bahasa Belanda yang artinya 'Excuse me, I am a potato'. Dan yang saya dapat adalah...




Memrise

Saya belum lama ini mulai menggunakan Memrise, padahal situs ini diluncurkan pada 2010. Tidak jauh beda dengan duolingo sebenarnya, sebelas-dua belas. Bedanya situs ini (sesuai namanya) lebih jago untuk memorizing, mengingat. Ketika ada satu kata yang sulit untuk kita ingat, akan ada 'mem' yang membantu kita mengingat kata itu. Misalnya, 'mem' untuk 'ottaa' (to take, finnish) adalah 'otter', atau 'mem' untuk 'tietää' (to know, finnish) adalah 'THEATRE (tietää)' XD



Situs ini juga ada speakernya, dan jujur saja speakernya lebih lively daripada duolingo :P Cara belajarnya juga sebelas-dua belas dengan duolingo, tetapi di situs ini kalau kita masih sering berbuat kesalahan, maka kata itu diulang-ulang sampai kita bisa. Kata itu juga bakal ditandai sebagai kata sulit. Review juga muncul secara otomatis sehingga kalau kita mau review langsung klik menu review yang tersedia.

Sayangnya lagi-lagi bahasa-bahasa di situs ini kebanyakan bahasa-bahasa major atau bahasa yang banyak dipelajari. Sebenarnya ada beberapa bahasa yang belum terlalu booming dipelajari tapi tersedia, bedanya course bahasa-bahasa yang seperti ini coursenya tidak banyak.

Btw sebenarnya Memrise ada yang berbayar, tapi yang free juga asik! Untungnya, dia lebih accessible meskipun free :)

Situs berbayar dan saya tidak terlalu suka menggunakannya :

Babbel


Babbel keliatannya memang lebih 'wah' tampilannya, kayak buku les yang mahal itu. Di situs ini ada bahasa Indonesia juga lho. Tapi ketika saya coba menggunakan situs ini, ternyata ribet banget karena dikit-dikit keluar pertanyaan yang harus diisi seperti berapa usia kita, ngapain belajar bahasa ini, dsb. Pas masuk ke level yang lebih tinggi, ternyata harus bayar juga. Ah...


Busuu


Saya kenal Busuu dari SMA dulu, ketika guru saya menyarankan murid-muridnya bikin account di Busuu. Least favourite karena kita harus bayar :/

Sebenernya ada Livemocha juga.


Situs ini sebenernya free, kita ga perlu ngeluarin duit asli sedikitpun. Pas kita masuk akun ini, kita akan dikasih 'duit' sama situs ini dan uang itu bisa kita pake buat beli 'course'. Kita bisa dapet duit dengan mengikuti course, jadi tiap jawaban benar kita bisa dapet duit.  Kita juga bisa dapet duit dengan jadi tutor users lain, jadi sebelas-dua belas sama interpals : kita harus berinteraksi dengan orang lain. Saya masih mencoba menggunakan situs ini sih sebenernya, tapi sampai sekarang saya masih belum dapet 'fun'-nya.

Saya sendiri lebih suka pakai memrise & duolingo untuk belajar bahasa dan interpals untuk belajar budaya. Di memrise saya lebih banyak menghafal, di duolingo saya belajar grammar, di interpals saya praktek. Di situs-situs ini kita bisa belajar lebih dari satu bahasa secara bergantian. Jadi kadang saya belajar bahasa Perancis sejam, lalu sejam lagi menajamkan kemampuan bahasa Jerman saya. Yah lumayan, sekarang saya bisa sedikit-sedikit membalas chat teman dengan bahasa Perancis setelah pakai Memrise dan vocab saya jadi tambah banyak dengan pakai duolingo. Semoga akhir tahun ini saya bisa mahir berbicara bahasa Jerman dan Perancis, dan bisa mulai belajar bahasa Belanda tahun depan.

Nah, saya akan lanjut belajar lagi sekalian menunggu teman-teman dari Thailand keluar kelas. Kalau ada yang mau belajar bahasa mulai dari Inggris, Jerman, Perancis, Jepang sampai Korea, silakan mencoba situs-situs di atas. Jangan takut! Selamat belajar! ~(*3*~)(~*3*)~

UPDATE :
Yak, ternyata Livemocha udah permanently closed terhitung sejak 22 April 2016. Yaaaaaaah.

Dec 20, 2015

Fist in the Air

Setelah dua tahun lalu saya mengalami penolakan SNMPTN dan SBMPTN, saya harus menerima kalau cuma bisa belajar sastra Indonesia di Malang. Awalnya memang agak... yah sudahlah, tidak apa-apa. Kemudian saya merenungkan masa SMA saya yang luar biasa dan menggali lagi apa yang dulu saya pernah idam-idamkan, sampailah pada satu masa di mana saya ingin jadi guru. Guru gaul. Yang mengajar bahasa Indonesia kepada penutur asing.

Dan di sinilah saya. Mahasiswi semester tiga. Memulai karir : tutor bahasa Indonesia untuk program In-Country 2015/2016 *tangan mengepal di udara*

Dari semester lalu, job vacancy yang mencari tutor selalu ada. Sayangnya saat itu saya harus bersabar karena yang bisa daftar minimal semester 3, sedangkan saya.... hanya dari segi usia ada di semester 4-5 :') Jadi ketika di semester 3 ada lowongan menjadi tutor untuk mahasiswa Thailand ini, saya langsung daftar. Yang daftar banyak, tidak hanya dari sastra saja yang mendaftar, tapi semua fakultas. Saya pesimis. Tapi ternyata saya lolos. Dari 160 mahasiswa yang mendaftar, hanya 40 mahasiswa yang diterima, 4 di antaranya anak semester 3. 

Ketika saya membaca nama saya yang muncul di daftar nama calon tutor dengan tambahan keterangan 'DITERIMA', rasanya seperti adegan film The Breakfast Club ketika Judd Nelson mengepalkan tangannya di udara. Kembali mengingat masa-masa dua tahun lalu di kelas bimbel jam 10 pagi, bersusah payah mengerjakan soal-soal ekonomi dan matematika, membesarkan hati dengan berkata 'Sabar, Tuhan sedang mengaspal jalanmu'. Yah, rasanya inilah salah satu ujung jalan yang dua tahun lalu diaspalkan Tuhan untuk saya. 

Jalan yang diaspal ini masih sangat panjang, masih harus dijalani agar ujung yang satunya bisa dicapai. Mungkin suatu saat akan ada batu yang membuat saya tersandung lagi, akan ada jalan yang tiba-tiba krowak lagi, mungkin saya harus sedikit berbelok dan mengulang lagi, bagaimanapun juga saya bersyukur. Saya bersyukur, atas apa yang sudah ada di tangan saya saat ini. Saya bersyukur karena saya tidak menyerah. 

Suatu saat nanti, ketika jalan saya rusak lagi, saya harap saya mau dan bisa berdiri lagi seperti sekarang ini. Saya harap saat itu saya cukup dewasa untuk bilang 'mai pen lai', tidak apa-apa. 


Dec 7, 2015

Semua Ini Salah Palang

Akhir-akhir ini banyak berita di TV yang menarik. Mulai dari sidang yang awalnya terbuka terus tertutup. Ketebak sekali. Lalu ada satu berita ini yang agak menggelitik dan saya dengan berat hati memberikan ini :

facepalm
                                       
Beritanya adalah kecelakaan metro mini yang ditabrak KA gara-gara metro mini main nyelonong aja pas palang pintu perlintasan udah tertutup. Bukan beritanya yang saya beri facepalm, tapi sebuah stasiun TV yang menayangkan berita semaca live report dari tempat kejadian. Reporter dari acara berita itu bilang sesuatu yang intinya "Anda dapat melihat pintu palang ini hanya menutup tiga perempat bagian saja dari lebar jalan seluruhnya, jadi si bus ini bisa nyelonong". Ah. Seriusan? Sekarang palang tiga perempat itu yang salah? Gara-gara palang itu si bus akhirnya bisa main nyelonong ketika sebuah kereta sedang melintas? Oh come on...

Kejadian gini sering banget terjadi dan entah kenapa banyak dari kita selalu menyalahkan pemerintah karena nggak memberi pintu-pintu perlintasan KA dengan palang yang sesuai. Atau malah nggak dikasih palang sama sekali. Hal ini seharusnya bisa dihindari dan kita nggak perlu menyalahkan palang pintu, pemerintah, atau siapa-siapa. Udah jelas-jelas palangnya tertutup, ada bunyi sirine, tandanya ada kereta yang mau lewat. Tandanya kita yang ngantri di belakang pintu palang nggak boleh lewat. Mau palangnya tiga perempat, separo, segede monas, pokoknya kalo udah nutup tandanya sama : nggak boleh lewat. Kalo masih nyelonong aja ya.. jangan nyalahin palangnya.

Kesadaran kita akan keselamatan sebenernya yang harus disalahkan. Kita masih sering nggak disiplin, terutama ketika berkendara deket-deket perlintasan rel kereta. Di Malang sebenernya sering juga saya lihat beberapa orang nyelonong aja pas palang pintu perlintasan KA udah nutup. Saya kadang berpikir apa mereka nggak takut ya kena magnet rel, mesin motornya berhenti tiba-tiba dan mereka nggak bisa kabur dari atas situ? Dan skenario terburuknya emang ketabrak kereta. Apa mereka nggak punya keluarga di rumah yang nungguin mereka, kerjaan yang harus diselesaikan, temen-temen yang pengen ngajak jalan bareng, pacar yang sayang sama mereka.. *ups*.

Kita nggak bisa terus-terusan nyalahin pemerintah karena nggak bisa memberikan pelayanan yang lebih baik. Dalam hal ini menyalahkan pemerintah karena nggak bisa memberikan palang yang lebih baik. Keselamatan dan kenyamanan kita dan banyak orang lain di perjalanan itu sebenernya juga kewajiban diri kita sendiri. Kan kita bisa mematuhi aturan-aturan seperti pakai helm, menaati lampu lalu lintas, nggak nyelonong palang pintu rel KA pas udah tertutup. Daripada kita menyalahkan pemerintah karena nggak bisa ngasih palang pintu yang lebih baik, mending kita perbaiki kedisiplinan berkendara.

Tapi ya sudahlah.. Kasusnya sudah ditutup karena supir dan keneknya turut menjadi korban dalam tragedi ini. Tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Semoga para korban mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, keluarga yang ditinggalkan terus diberi ketabahan. Semoga kita sebagai pengguna jalan bisa belajar dari kejadian ini agar lebih hati-hati, terutama ketika kita membawa orang lain dalam tumpangan kita. Amin.