Labels

Mar 12, 2018

I was Harassed Once

I was harassed once. Sexually.

Sabtu itu saya dalam perjalanan pulang dari sekolah ke rumah mengendarai sepeda motor. Saya baru saja belok di sebuah tikungan melewati sebuah toko buku dan toko kue. Keadaan cukup sepi di bagian jalan itu ketika ada orang yang nyaris memepet motor saya dengan motornya. Seorang laki-laki ini tiba-tiba memasukkan tangan kirinya ke dalam rok saya, and what I saw on his left hand shocked me the most, sebuah kamera.

Laki-laki itu dengan sengaja memasukkan tangannya, mengambil gambar bagian yang ada di bawah rok saya, dan pergi ngebut dengan motornya. Kejadiannya sangat cepat. Saya sempat mengejar tapi saya kehilangan dia di keramaian. Saya tidak punya kekuatan untuk melakukan apa-apa selain pulang dengan berurai air mata. I was only nearly 17. Saya panik, kacau, takut, bahkan untuk bercerita. Saya tidak tahu harus berbuat apa.

Saya akhirnya cerita kepada orang tua, teman-teman dekat, dan dengan keberanian yang tersisa saya pergi ke guru BK. And I moved on. Mungkin saya memang menemukan sedikit penghiburan dari sana tapi jujur saja ini adalah penyesalan saya pada saat ini.

Pada tahun-tahun setelahnya, saya kadang masih memikirkan kejadian ini. Kadang sebelum tidur saya mencoba mengingat-ingat apakah saya pakai celana pendek rangkap di bawah rok saya (saya selalu pakai celana rangkap di bawah rok seragam saya, usaha meyakinkan diri sendiri bahwa saat itu saya memang pakai celana rangkap kadang-kadang menenangkan saya), apakah orang itu sekarang masih mencari korban lain, apa yang dia lakukan dengan gambar itu, tapi yang paling menakutkan bagi saya adalah pertanyaan kenapa dia melakukan itu,

Kenapa?

Ada yang bilang mungkin orang itu punya kelainan. Sama lainnya dengan eksibisionis yang suka pamer selangkangan tanpa sebab hanya dalam bentuk yang berbeda. Bisa jadi dia melakukan lebih dari itu. 'Lebih' yang sepeti apa, saya nggak berani memikirkannya.

I was once careless about myself. Saya kadang nggak peduli dengan cara duduk saya atau bagaimana saya harusnya bersikap layaknya teman-teman perempuan saya, misalnya saya berjalan seperti anak laki-laki, duduk seperti anak laki-laki, dan saya memang tidak terlihat anak perempuan. Saya nggak pernah khawatir dengan pakaian yang saya kenakan karena selain seragam sekolah, saya nggak pernah pakai rok. Karena itu, nggak pernah sekalipun saya berpikiran saya akan jadi korban pelecehan seksual.

Mungkin hal itu juga yang menjadi penyebab saya menyalahkan diri sendiri. Saya sempat marah dan menyalahkan diri sendiri. Kok bisa saya digituin, pasti karena pas itu saya duduk di jok motor dengan kaki agak sedikit terbuka dan memberikan celah bagi siapapun untuk 'melongok' ke dalamnya. Saya nggak bisa menjaga diri saya sendiri, meskipun faktanya saya tetap berusaha melindungi diri dengan mengenakan celana rangkap. Karena itu pula, saya menjadi malu.

Perasaan bersalah dan malu itu kemudian mempengaruhi saya di kehidupan saat ini. Meskipun tidak signifikan, tapi saya merasakannya. Saya merasa gelisah kalau buka artikel tentang pelecehan seksual, saya takut membayangkan kalau suatu saat foto yang berhasil didapat si orang itu tiba-tiba beredar entah di mana, saya khawatir kalau suatu saat nanti saya cerita entah pada pacar atau justru suami saya tapi dia malah nggak bisa menerima, dan saya was-was dengan respon orang lain kalau saya cerita tentang hal ini.

Saya ingat seseorang, tapi lupa tepatnya siapa, merespon cerita saya dengan respon yang biasa saja, seakan apa yang saya alami bukan masalah yang patut dibesar-besarkan. Saya pengen nangis kalau ingat itu, meskipun saya tahu bahwa kejadian itu terjadi cuma satu kali dan bahwa hidup saya sebegitu tidak berharganya bagi dia. Saya ciut dan akhirnya saya rasa masalah ini memang nggak perlu dibesar-besarkan.

Akhir tahun lalu saya mendapatkan keberanian untuk baca-baca artikel tentang pelecehan seksual tanpa harus merasa malu. Di salah satu artikel saya akhirnya tahu bahwa korban-korban pelecehan seksual cenderung menyembunyikan kasusnya karena malu dan merasa bahwa dirinya juga bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Mereka juga takut karena mereka nggak punya kuasa untuk melawan atau diteror oleh pelaku, makanya mereka memilih untuk diam.

Pada akhirnya sekarang saya sadar bahwa saya nggak perlu malu meskipun kadang saya masih merasa takut. Andai kata saya berani untuk bertindak lebih jauh mungkin si orang gila ini sudah tertangkap. Saya nggak tahu apakah ada korban lain setelah saya tapi saya nggak pernah dengar kasus seperti ini terjadi di kota saya. Entah karena mereka juga diam seperti saya atau si pria bertangan kurang ajar ini udah nggak beraksi lagi.

Di sisi lain saya mungkin nggak berhak untuk marah pada orang-orang yang menganggap sepele masalah saya, tapi saya merasa kecewa. Andai kata saat itu saya mendapat dukungan yang lebih banya, mungkin saya akan cukup berani untuk bicara. Tapi saya bisa memahami, beberapa orang memang nggak akan bisa merasakan sesuatu sampai mereka mengalamai sendiri.

Saya berharap nggak ada lagi orang-orang yang saya kenal, yang akan saya kenal, atau siapapun: perempuan, laki-laki, tua, muda, yang jadi korban pelecehan. Nggak ada yang mau dilecehkan, meskipun cuma sekali. Tapi kalaupun itu terjadi, saya harap para korban punya cukup keberanian untuk stand for themselves and fight back.


P.S :
March collab with Celina, maaf yang taktulis bukan tentang kemarahan tapi aku harus tulis tentang ini

Feb 20, 2018

The Lamentable Tale of A Hero Who Died a Few Weeks Ago

"Ma, sekolah sudah sepakat, aku dikeluarkan."

Mama belum memberikan jawaban, terkejut setengah mati. Lalu muncul seorang bapak yang kata orang penggiat pendidikan. Ia baik, tapi hari itu tingkahnya macam orang tidak sabar.

"Sangat disayangkan! Sekolah seharusnya tidak bertindak represif seperti ini. Saya akan bantu mencari sekolah baru, supaya kamu bisa tetap ikut ujian dan lulus tepat waktu. Bagaimana, Bu? Setuju, ya?!"

Mama masih diam.

"Kasihan dia kalau tidak sekolah. Mau jadi apa nanti kalau tidak lulus? Lulusan SMA saja cari kerja sudah susah, apalagi ini nggak lulus?", kata the sir.

Lagi-lagi tidak ada jawaban dari Mama.

"Gini, dia anakmu, to? Maumu dia putus sekolah atau tidak? Bayangkan nanti dia di masa depan hanya akan menjadi penjaja korang keliling tiap pagi atau jadi bakul cabai di pasar!  Nilainya di sekolah sama sekali tidak buruk, 9 untuk matematika, 9.8 untuk bahasa Inggris, luar biasa! Ayolah, ini kesempatanmu, sebentar lagi ujian nasional, kalau-"

"Nak..", Mama memotong, "kenapa kamu dikeluarkan dari sekolah?"

"Kemarin aku pukul guruku sampai mati, Ma."

Lalu hanya ada keheningan.

_________________________________________________________________________________

Kurikulum 2013,

Kompetensi Inti 1 : Sikap Spiritual yaitu, “Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya”.

Kompetensi Inti 2 : Sikap Sosial yaitu, “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsif, dan pro-aktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia”.

Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

Sebuah renungan.

Feb 14, 2018

On Valentine

Valentine doesn't have any date on valentine so she sits in a salon cutting her hair. And paints it chocolate.

Valentine likes chocolate. Almond milk hot chocolate, chocolate cakes, chocolate fountains, chocolate ganache, chocolate cookies, chocolate truffles, chocolate bar, chocolate ice cream, chocolate coloured hair, chocolate lip cream, chocolate coloured shoes, chocolate smells, even her favourite film is Charlie and the Chocolate Factory, the 1971 version.

So she buys herself a bar of chocolate and spend 4 hours watching the movies, just because she wants to, because she knows she can, and she doesn't have anyone else to spend valentine's day with but herself.

Valentine knows she is not pretty. She knows she doesn't have the colour people adore, not the colour of her hair, nor her eyes, her lips, or her skin. Back then she didn't spend her money on lipsticks because her lips were always purple and the back of her hands were always dark. Her eyes were blue and her arse was almost always red. It came from her dad's loving hands or her mum's caring fingers.

Mum said she was a mistake. When his boyfriend touched her on the sacred place and he ran away right after. Poor littl girl her mum was, she trusted him a little too much than she trusted herself. And then she got married, with someone whose name she had never heard before or the one Valentine called 'dad'. But he wasn't real. He now is not her dad and the bond they have is not even thicker than water. She has never been his blood, never is, and never will be. Valentine is stranger to him and strangers die everyday, he thinks.

'Valentine dear, just because your parents conceived you on Valentine's day doesn't mean you have to follow their step' she said to herself. She knows it well. So on Valentine's day after getting her hair cut and dyed, after a bar of chocolate, and 4 hours of Charlie and the Chocolate Factory, she walks away, liberating herself and never looks back.


Off she goes, heading to the future, sailing the liberation.




Collab with Celina about 'Love'

Jan 31, 2018

Akhir

31 Januari

Mantan kekasihku hadir dalam mimpi untuk mengucapkan selamat tinggal.

Kaus putihnya tidak berubah. Celana panjang warna khakinya masih sama. Sepatu hitam dengan tali warna putih juga. Rambutnya yang berantakan seperti baru bangun tidur warna coklat terang dan jambang tipis yang selalu kularang potong. Ah bahkan warna matanya masih hijau abu-abu.

Sayang, aku pernah rindu. Dulu. Lalu aku lupa.

Dalam kamar sempit itu aku melihat mantanku sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam dua tas punggung yang berbeda. Setiap pakaian yang masuk adalah satu kenangan tentang hari-hari kami yang entah harus diapakan setelah ini. Semuanya ada 1825.

Yang menyedihkan dari sebuah perpisahan bukan perpisahan itu sendiri, tapi apa yang terjadi setelahnya.

Jadi Sayang, kenapa kamu datang sekarang? Aku sudah tidak suka buka-buka Whatsapp untuk cari nomor kamu atau berharap dua centang itu berubah biru. Sayang, sudah setahun. Aku sudah pandai menyendiri sekarang.

Dan dia berhenti. Kini ia duduk di depanku. Tangannya menggenggam tanganku, matanya menatap mataku, tapi hatinya tidak di sana untukku. Aku menekuri bagian dadanya yang tidak lagi bergerak dan aku nanar, nyaris berurai air mata. Ia bicara padaku dengan suara itu, suara mantanku yang masih sama.

"Setahun lalu aku jatuh cinta."

Seorang anak kecil muncul memegang pundaknya. Wajahnya mirip dengan mantanku tapi warna rambutnya hitam. Little Leon. Anak-anakkan kami yang dulu suka jadi pelipur lara ketika kami ragu tentang masa depan. Buah mimpi, bukan cinta.

Kami kuburkan Little Leon dalam sebuah peti bersama satu tas yang tadi mantanku isi dengan pakaiannnya. Entah berapa jumlahnya, tapi itulah kenangan yang dipilih mantanku untuk mati terkubur bersama Little Leon. Little Leon tertawa bahagia, peti ditutup, dan apa yang kulihat di depanku kini adalah reruntuhan. Rumah-rumahan kami yang dulu suka jadi naungan ketika kami tidak punya tempat untuk berlindung.

Bagian ini seperti sebuah adegan di film dan kelanjutannya seperti bagian cerita sebuah novel yang kubaca setelah kami berpisah. Film dan buku yang agaknya berhubungan tapi tidak berkaitan.

Kami saling menatap mata lagi, menggenggam lagi, dan mengaku. Ah, sayang, aku juga ingin mengecup pipi dan bibirmu seperti dalam mimpi-mimpi kita yang dahulu. Bahkan sampai sekarang pun, keduanya tidak berubah.

"Setahun lalu aku jatuh cinta, padamu", katanya. "Sekarang aku akan pulang."

Ia kenakan tas punggungnya dan naik ke atas motor. Entah kenapa dalam mimpi mantanku naik motor. Aku tidak mencegahnya, tapi sebelum mantanku melaju, aku tahu aku bicara padanya,

"Sayang, yang kamu katakan tadi, benar 'kan?"

"Iya, tapi 4 tahun sebelumnya aku tidak mencintaimu."



Jan 29, 2018

Mulailah dengan Melantur

Malam itu semua orang sudah tidur kecuali dua remaja perempuan yang nyaris tersirep tapi masih kukuh dalam obrolan tentang makanan.

"Iyaaaa... jadi.. mangkok mie ayamnya dibor gitu."
"Ha? Kok dibor?"
"EH ANU MAKSUDNYA DIBUANG!"
"Ehehehehehehe."

Lalu mereka jatuh tertidur setelah mangkok mie ayamnya dibor, eh dibuang.

Sekarang bayangkan jika kita harus terlibat pembicaraan serius di saat kita tidak lagi tersirep. Misalnya pembicaraan tentang isi hati yang ingin disampaikan seorang laki-laki pada gebetannya yang nyaris tidak peduli.

"Jadi tadi aku nelen permen karet gitu di sekolah, Mas."
"aku suka deh sama kamu."
"Lah? Kenapa?"
"gapapa, suka aja.."
"Ih aku suka banyak hal lain sih mas"
"ANJIR ITU TADI ANU, HAPEKU DIBAJAK TEMEN NIH!"
"..."
"Jadi gimana, kok bisa nelen permen karet?"

Ketika ditolak, mulailah melantur.

Permisalan yang lain adalah ketika ada guru yang menemukan bahwa kita dan teman-teman lebih suka main UNO di barisan belakang daripada menyelesaikan persamaan kuadrat.

"Berapa hasilnya anak-anak?"
"Heeeeee itu jadinya plus berapa?"
"+12 totalnya hahahahahaha"
"Berapaaaaaa?"
"+12!"
"+12? Bener apa salah? Kok bisa? Itu yang di belakang lagi apa?"
"Bener Bu! Sekitaran itu lah hasilnya, ini kami lagi ngitung ulang. Itu soalnya bener kan ya Bu?"

Ketika terciduk, mulailah melantur.

Contoh lain mungkin ketika kita iri tapi nggak ingin orang lain tahu.

"Eh kemarin kami pergi ke konser Via Vallen loh, ampun bagus banget deh suaranya waktu live"
"Iya nyesel banget pasti kamu nggak ikut kan?"
"Nggak juga sih, aku ga suka Via Vallen lagian."
"Lah katanya kamu fans berat dia, gimana sih?"
"Eh minggu depan aku mau ke Semarang nih main-main di Lawang Sewu, mau ikut nggak?"

Ketika ketahuan, mulailah melantur.

Atau ketika ketahuan sesuatu yang lain...

"Mbaaaaak, kamu yang makan cilok aku di kulkas, kan? Kamu kaaaan?"
"Nggaklah, ngapain coba?"
"Kan kamu yang pertama kali buka kulkas pas udah sampe rumah, pasti mbak!"
"LUCUUUUU DEH BAJUNYA DI OLSHOP INI, LIAT DEH!"

Ketika dicurigai, mulailah melantur.

Seperti yang dilihat, mengungkapkan sebuah kebenaran, mengakui sesuatu, atau menghindar dari sebuah kesalahan itu tidak mudah. Juga sebenernya tidak selalu berakhir baik, tapi kadang itu dilakukan untuk menghindari pertikaian dan perpecahan. Mulailah dengan melantur.

Jadi, kapan kamu mau mulai bilang sayang sama aku? Aku siap melantur.


*on a collaborative work with Celina about 'How to Start Something'

Jan 27, 2018

Reliving Thai (Food)

*drum rolls meskipun ini sudah lewat awal tahuuuuun*

Aight peeps, let's do this. Karena saya tidak mau kalah dengan sahabat cantik saya yang kini jauh di sana dan perjanjian suci untuk collab dengannya, liat dia di sini nih : si cantik Celina <3

Topik 'highlighting 2017' saya sebenernya nggak spesial-spesial banget sih, biasa aja. Sampai saya ingat tentang hidup saya yang warbiyasah enak di Thailand, terutama karena makanannya. Jadi saya pengen 'reliving 2017 memories' lewat makanan Thai.

Oh btw this is gonna be a long thread, jadi bersabarlah.

Awalnya, saya kasih tau nih, di Thailand hidup saya memang amat sangat memahasiswa, you know what I mean. Saya harus ingat-ingat tujuan saya ke sana itu bukan sekadar main-main dan jalan-jalan aja jadi saya harus pinter ngatur keuangan. Selama dua bulan saya sukses survive (tanpa ambil uang di ATM) hanya dengan uang cash sejumlah 10.000 baht (dengan kurs saat itu sekitar 4 juta).

Dengan uang itu saya juga bisa pergi ke Koh Samui, Koh Rat, Ban Khiriwong. jalan-jalan ke mall, sampai ke Penang, Malaysia. Sangat sulit menahan diri nggak jajan dan beli barang-barang lucu yang ada di sana, secara di sana ada banyak snack, bahan masakan dan makanan, benda-benda lucu macam ATK, baju, aksesoris, dompet, kaos kaki, sampai peralatan make-up yang sulit dicari di Indonesia.

But I survived. Semua karena.... pasar malam hadir mengubah segalanya menjadi lebih indah. Pasar malam ini yang membantu saya hidup dengan tenteram dan aman karena banyak makanan enak dan harga yang cukup murah di sini. FYI, pasar ini nggak ada setiap malem dan tempatnya pindah-pindah. Foto-foto di bawah ini diambil di pasar Senin, pasar malem yang ada di dalam kampus (tepatnya deket asrama-asrama dan gedung aktivitas mahasiswa, strategis banget bukan?) dan ada pada hari Senin yang nggak libur. Jadi kalau liburan ya pasarnya tutup, meskipun ada mahasiswa yang tetep tinggal di asrama waktu itu.




Pasar ini selalu saya tunggu-tunggu karena hampir pasti saya akan menggelontorkan uang macam orang kalap dan memaafkan diri sendiri setelahnya. Ada lagi pasar lain dan ada pas weekend tapi mungkin saya hanya beberapa kali pergi ke sana karena males, jauh banget dari asrama.

Bicara pasar, bicara makanan. Nyaris 75%-100% uang saya di pasar habis untuk makanan. Sisanya, 25%, cuma untuk kaos kaki lucu gambar totoro warna pink, satu lagi gambar panda, dan satu lagi gambar kucing warna biru. Tapi makanan adalah obsesi pertama saya. 

Tom Yum Goong adalah salah satu makanan Thailand pertama saya. Sebelumnya saya nggak pernah makan tom yum. Well, kalau indomie rasa tom yum dulu sudah cukup legit dianggap makanan Thai, berarti pernah. Anyway, saya akhirnya melihat rupa dan merasakan tom yum goong. Pertama kalinya juga dalam hidup, saya melihat udang segede nyaris sekepalan tangan, 4 ekor di dalam panci. Tuhan Maha Besar. Sayang saya malu mengabadikan momen ini karena selain takut dianggap norak, saya makan dengan dosen-dosen yang sangat saya hormati. 

Dalam perkembangan hidup saya di Thailand, saya menemukan fakta bahwa tom yum bukan cuma goong (udang), tapi juga ayam. Namanya jadi Tom Yum Kai dan harganya lebih murah. Satu piring nasi, satu mangkok kecil tom yum ayam jamur, dan satu lauk lain harganya 25 baht (10k) aja. Dan itu banyaaaaak banget sampe kadang jatah makan siang saya itu takmasukkan ke kotak bekal untuk simpenan makan malam. Meskipun malemnya ya beli makan lagi ehehehe.

Nasi, Tom Yum Kai, dan keong
Tom Yum mengingatkan saya tentang pantai yang tenang di sebuah restoran hari pertama saya menginjakkan kaki di the country of smiles itu dan meredakan rasa sedih saya yang jauh dari rumah. Atau obrolan yang sangat sulit dilakukan karena kendala bahasa, tapi tetap terasa menyenangkan di kantin dengan mahasiswa lokal. Juga ibu-ibu Melayu yang berteriak 'Adeeeek! Makan?' setiap melihat saya dan teman-teman muncul di antara keramaian. Beliau langsung mengambil piring, melihat saya, seakan tahu saya akan pesan Tom Yum Kai. Tom Yum is the feeling of being understood. 

Berikutnya, Kwetiau (dalam ini saya akan sebut bakso Thailand untuk membedakannya dengan Pad Thai, kwetiau goreng). Makanan ini setan bener deh. Ini makanan yang memberi saya pengalaman sakit perut luar biasa dan perasaan rindu rumah yang kurang ajar. Pertama kali lihat makanan ini saya seneng banget karena akhirnya saya makan bakso juga. Penampakannya kurang lebih seperti ini :

ini namanya kwetiau
Saya lahap sekali makan kwetiau, rasanya lumayan kaya bakso di Indonesia cuma micinnya lebih sedikit. Makanan ini biasanya saya campur cabe bubuk dan gula (iya bener gula pasir), tapi sebenernya ada banyak pilihan, misalnya sambel ikan, chili pasta, garam, dan lain-lain. Habis makan saya kena diare, tapi nggak kapok, dong. Besok-besoknya saya beli kwetiau di lapak lain. Tiga kali makan efeknya sama, buang air berlebihan tapi lama-lama efeknya berkurang. Semakin sedikit efeknya, semakin banyak saya menambahkan cabe bubuk. 

Kwetiau ini mengurangi rasa sakit hati saya atas nasi goreng keasinan yang saya makan di restoran pinggir jalan pas otw pulang dari Koh Samui ke Nakhon si Thammarat. Karena itu, saya memaksa diri saya makan makanan ini meskipun efek bagi perut kurang baik. Kwetiau ini homesick healer, penyemangat makan dan hidup macam mie setan lvl 10.

Selanjutnya, Pad Thai atau kwetiau goreng. Sayangnya, cuma sekali-dua kali saya makan Pad Thai di Thailand karena warung yang katanya Pad Thai-nya enak adalah warung yang menjual makanan non-halal. Tapi akhirnya saya makan Pad Thai di sebuah tempat lesehan pinggir jalan, yang tempatnya mengingatkan saya pada abang-abang penjual nasi goreng di pinggir jalan yang ramai dan pembelinya makan sambil lesehan di trotoar waktu saya masih umur 3 tahun. Persis. Pad Thai yang saya makan di situ harganya agak mahal, 50 baht, karena isinya campur-campur (ayam, keong, dan udang). Sayang juga saya nggak dapat fotonya karena makan di luar itu gelap banget dan saya terlalu malu pakai flash.

'Pad Thai' berikutnya saya temukan di pasar kota. Saya bener-bener takjub banget dengan 'Pad Thai' satu ini karena cara penyajiannya beda. Saya sampai nggak yakin ini Pad Thai tapi karena sama-sama mie dan digoreng, yah.. well. Oke, jadi ada beberapa bahan makanan yang jadi side dish, misalnya wortel, timun, tauge, cabe, sampai kembang-kembangan yang saya nggak tahu itu apa tapi rasanya enak.

  


Dan cara makannya begini, di atas pelepah jantung pisang. Warbiyasah. Masih gedean tangan saya daripada pelepah jantung pisangnya. Makanan ini secara mengejutkan enak dan muraaah (lupa sih sebenernya, kayaknya 20 baht atau 15 baht).


Tapi ada 'Pad Thai' enak di luar Thailand, dengan asumsi Pad Thai adalah kwetiau goreng. Makanan ini dijual oleh seorang ibu asal Medan di Penang, Malaysia.

enaaaaaaaaak banget sungguh
'Pad Thai' ini dibuat dengan keramahan khas orang Indonesia. Rasa rumah. Pad Thai selalu mengingatkan saya tentang malam di Thailand yang hampir setiap hari saya habiskan di luar kamar. Entah sekadar nongkrong atau jalan-jalan yang luar biasa capek di Penang tapi senang. Pad Thai is like that one nice feeling that creeps up into your head and heart in the end of the day no matter how tired or upset you are that day.

Okay this one would be cliche. Makanan ini mengingatkan saya tentang hari-hari di Thailand yang penuh dengan beragam perasaan. Tapi kalau dirasa dan dipikirkan, kayaknya kita bisa lihat warna-warna yang muncul di kepala. Say hi to Nasi Kerabu.


Mhm, nasinya warna ungu dan yang kalian lihat di gambar, semua warna itu 100% alami tanpa bahan pewarna tekstil. Pas saya cek di google harusnya warna biru sih nasinya tapi buat saya ungu juga masih bisa berterima kok. Rasanya seperti sajiannya yang bercampur. Tidak seperti urap-urap, nasi ini penuh sayuran yang lebih beda-beda lagi dan rasanya saling ditubrukkan. Wortel + tauge + kol ungu + mangga muda + nasi ungu + bubuk ikan. I gave up on the bean sprouts karena ga kuat dengan rasanya, entah kenapa rasa tauge Thailand itu lebih nendang dari tauge di rumah. Selain ukurannya lebih besar, taugenya punya rasa yang sangaaaat kuat.

Nasi Kerabu ini konon aslinya makanan dari Malaysia. Kebetulan yang jual sebenernya temen sekaligus mahasiswa kami yang belajar bahasa Indonesia dengan latar belakang Melayu. Namanya mas Irfan. Mas Irfan ini biasanya jualan Nasi Kerabu di pasar Senin atau pasar depan Lotus Tha Sala, Nakhon si Thammarat. Jaminan enak, bukan karena temen atau apa, tapi emang beneran enak kok! xD

Nah, kalau makanan paling ekstrem yang pernah saya coba mungkin ini.


Saya nggak yakin itu apa tapi sepertinya ulat, mungkin kalau di Indonesia hampir mirip ulat sagu. Saya nggak akan memperpanjang bagian ini karena sempat muncul pertanyaan apakah *boleh* dimakan atau nggak dan 'kenapa mau makan begituan?'. Jawabannya, pertama, saya penasaran. Kedua, saya nggak mau membatasi diri pada hal baru yang tabu dan nggak melibatkan orang lain kecuali diri saya sendiri. Ketika itu saya berdiri cukup lama di depan lapak penjual makanan 'nggak biasa' ini dan bolak-balik mondar-mandir karena saya terkesima dengan apa yang saya lihat secara langsung (dulu cuma tau di TV): ulat dan serangga lain yang sebenernya kaya akan protein.

Karena saya udah di sana, sekalian aja yakan? Udah basah, sekalianlah mandi. Udah ngeliatin dagangan orang dan diliatin yang punya dagangan, ya masa ga beli. Akhirnya saya beranikan diri beli, 10 baht. Atas bantuan seorang teman, saya berhasil mendapatkan mixed insects. Diramu dengan daun jeruk dan bumbu-bumbuan lain, rasanya sebenernya mirip kacang yang kenyal dan crunchy dari bagian kulitnya. Meskipun setelah itu saya nggak pernah beli lagi, setidaknya saya bisa mencatat ini sebagai sebuah pencapaian karena telah menguji diri saya sampai di titik 'hyeeeek' yang maksimal dan pada akhirnya, mengatasinya. 

Berikutnya, snack favorit yang paling favorit. My number 1. Ada dua sih. Take a look at these babies.

 

Pertama, Mango Sticky Rice (Khao Niao Mamuang). My love...
Saya pernah menulis tentang ini sebelumnya, deh. Tentang cinta saya yang pupus lalu terganti oleh Khao Niao Mamuang. Hmm, makanan ini bisa bikin saya patah hati juga sih gara-gara tiap mau beli pasti udah habis duluan dan akhirnya saya pulang dengan agak sedikit dongkol membayangkan rasa mangga yang manis, bercampur dengan nasi ketan dan kuah santan kental yang gurih. Nikmat Tuhan mana yang berani saya dustakan?

Kedua, cintaku yang lain, Thong Yot atau Gold Egg-Yolk Drops. Penjelasan tentang makanan ini bisa dibaca di wikipedia karena sebagai penikmat, saya kurang paham dengan sejarah panjang makanan ini.


Saya melihat makanan ini di suatu sore yang cerah, sedang dikerubungi lebah (yang awalnya saya kira lalat besar). Ibu penjual memperbolehkan saya mencoba, sebuah keuntungan menjadi 'orang asing' di luar negeri. Lalu saya memutuskan beli lumayan banyak. Rasanya manis sekali, saking manisnya muncul rasa pahit sedikit, tahu kan rasa yang begitu? Kalau ditekan di antara lidah dan langit-langit, ada rasa seperti madu yang keluar dan tekstur lembut yang lucu dari makanan ini. Entah itu madu atau gula atau sirup. Inilah alasan ada rasa manis-pahit yang muncul dan makanan ini dikerubungi lebah.

Aneh memang, tapi dua makanan ini yang paling saya suka. Mungkin karena setiap saya makan Khao Niao Mamuang dan Thong Yot ada perasaan bahagia seperti orang jatuh cinta. Rasanya seperti duduk dengan orang yang kita suka dan mendengarkan dia bicara tentang banyak hal. Tulus, manis, dan menggembirakan.

Pada akhirnya banyak makanan lain yang tidak bisa saya foto satu-satu karena saya terlalu sibuk merayakan hidup. Misalnya kerupuk ikan Narathiwat yang belum saya temukan bandingannya dengan kerupuk ikan di Indonesia, kerupuk yang mengingatkan saya tentang kebaikan orang Thai. Ada juga biskuit *nggak boleh sebut merk* rasa kiwi-apel yang belum beredar di Indonesia, Som Tam yang awalnya aneh di mulut tapi lama-lama bikin nagih, Thai tea yang disajikan dalam gelas plastik segede mangkok, buah-buahan aneka ragam dan disajikan sedemikian rupa, marshmellow murah yang enak buanget, sampai street food macam cilok, sosis, dan tempura yang sulit dijumpai di Malang. Masih banyak lagi, tapi highlightnya cukup sampai sini dulu.

Pada akhirnya juga saya bahagia dan bersyukur. Sungguh, tidak ada dusta. 

Dec 2, 2017

What to Hope

Dari bandara menuju rumah, ada papan baliho yang mengubah hidupnya.

"Find the answer first and then question it"

Dalam bus kampus itu ia terdiam. Bahkan jawaban dari pertanyaan itu belum ia temukan : "what do you want to do?". Ia pulang ke rumah dengan langkah terhuyung, berat punggung, berat hati, dan berat kepala.

Instagram dibuka dan dilihatnya ada banyak foto-foto bertebaran. Ia putuskan hari itu ia berhenti memberi hati, tahu betapa kecilnya pernak-pernak ini ketimbang isi dunia lain yang telah dan akan ia lihat. Nyaris yakin ia rasa, hampir separuh foto yang ia lihat palsu. Hanya sebuah gambaran orang-orang di tempat yang terlihat menyenangkan tanpa memperlihatkan sulitnya menjangkau tempat itu. I was there too, I was like that too. Pertanyaan yang sama muncul ketika ponsel pintar sudah tidak lagi ia pegang, 'what do you want to do?'.

Find the answer first and then question it.

Tapi tidak ada jawaban. Belum. Dibuka lagi social media lainnya. Di situlah ia melihat seseorang bicara tentang hidupnya jika ia sudah 45. Okay, what do you want to do now? Membuat hal yang sama.

To my 45-years-old self..

Berhenti di sana. 'Mau apa?'

I hope this letter reaches you in good health and life.

Setidaknya dengan bicara seperti itu, ia tahu ia belum mau mati ketika ia 45 tahun. Ia mau sehat dan lepas dari penyakit apapun. Ia mau hidup.

If it isn't good, it has ever been and will be. As you understand now, every storm will pass, and this one shall too. If it is, I am glad but I hope it doesn't satisfy you quickly.

Percaya bahwa kehidupan itu tidak statis membuatnya yakin bahwa ia akan baik-baik saja di masa depan.

Ia mulai mendaftar harapannya ketika ia sudah 45. Ia juga menambah harapan-harapan konyol yang tidak masuk akal, harapan akan dirinya yang sudah bisa mengatasi ketakutannya, harapan yang tidak muluk tapi membahagiakan, harapan yang sederhana, dan sedikit harapan yang terlalu fantastis. Menambahkan kata sifat yang baik-baik dan kata benda yang tidak terlalu abstrak (ia mencoba menghindarinya atau membuat definisi dari kata-kata itu).

Ia menulis semua sambil tertawa, sambil terisak-isak, kadang senyum-senyum malu dan kadang serius berteguh hati. Ia menulis dengan hati yang hangat dengan harap dirinya yang 45 tahun itu bisa merasa hangat juga hatinya. Ini adalah harapan jangka panjang, proposalnya untuk Tuhan, ia tidak tahu harapan mana yang akan dikabulkan.

Ia sudah membuat jawaban untuk pertanyaan "what do you want to do-with your life?", pertanyaan berikutnya, "what do you have to do?", "what has to be done?" dan "how could I be there?". Find the answer first and then question it.